Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 26:Kamu dan kebaikan yang tersembunyi.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack this part #1000 tahun lamanya-Tulus🍬...


...💌Bukan tugas siapapun untuk terlihat baik dan memenuhi standar orang lain,dan bukan pula kewajiban siapapun untuk mengomentari gaya hidup orang lain💌...


        Setelah turun dari mobil Yara kembali menggandeng tangan Lanang memasuki rumah walaupun sekeras apapun Lanang menolak Yara tetap bersikeras melakukan itu.


"Saya bisa sendiri nyonya,"bisik Lanang karena merasa tidak enak jika banyak yang melihat. Ia akan terlihat lemah .


"Diamlah, kamu menurut sekali saja kenapa rupanya?" Kesal Yara.


"Kenapa dengan Aden nona?"tanya Atun yang baru saja merapikan lemari hias.


"Ahh dia keracunan makanan, sudah baik-baik saja kok."


Atun langsung kaget dan khawatir begitu juga dengan Sinen yang baru saja datang dengan bunga yang baru saja ia siapkan untuk diletakkan diatas meja, bagaimana tidak khawatir pujaan hati mereka tengah sakit dan terlihat sangat pucat.


"Bagaimana bisa nyonya?" Tanya Sinen dengan cepat dan khawatir.


"Hmm ceritanya panjang, kami keatas yah biarkan dia istirahat dulu. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian,"ucap Yara berlalu meninggalkan Atun juga Sinen yang sudah siap-siap akan bergosip itu.


"Menurut mu kenapa aden bisa keracunan makanan?"


"Apa gara-gara..."


"Ahhh rasanya tidak mungkin karena itu, sekali pun tidak enak tidak mungkin sampai membahayakan Aden.


"Kenapa kalian berbisik seperti itu? Apa ada masalah?" Tanya buk Tati yang baru datang dengan bahan masakan yang sangat segar.


"Aden Lanang sakit buk, kata nona Yara keracunan makanan."


"Keracunan? Kenapa bisa? Apa kalian tidak teliti saat memasak? Atau Aden memiliki semacam alergi?" Buk Tati sangat khawatir karena mendengar itu.


"Tidak tahu buk, kami khawatir Aden begini karena memakan masakan nona Yara,"Atun memang sedikit to the poin saat berbicara kadang lupa disaring dulu.


Bugh,


Buk Tati memukul pelan bahu Atun" He! Kamu hati-hatilah saat berbicara apalagi mengenai nona Yara, bisa saja kamu salah dan menuduh nya . Kamu mau dituntut oleh nona Yara?"


Atun langsung menggeleng karena ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Yara. Gadis itu memiliki temperamen yang tidak bisa ditebak.


"Bagaimana Sekarang? Apakah masih sakit atau ada tanda-tanda gejala lainnya?" Tanya Yara pelan.


"Saya baik-baik saja nyonya, berhentilah bersikap seolah saya sakit parah saja."


Lanang hendak bangkit dari ranjang namun ditahan oleh Yara "Biarlah kamu tidur disini saja, kondisimu sedang tidak baik."


Yara menahan bahu Lanang hingga kini posisi mereka sangat dekat dan mata mereka bertemu saling bertaut dan memandang.


Deg,

__ADS_1


Yara merasakan jantungnya benar-benar tidak aman jika terus-terusan melihat dan memandang wajah sendu Lanang.


"A,,aku akan kebawah membuatkanmu bubur, "


Lanang menahan tangan Yara hingga gadis itu terlonjak kaget.


"Nyonya tidak usah repot-repot membuatkan bubur untuk saya, saya benar-benar baik-baik saja."


"A,,aku akan pergi sebentar, tidak akan lama."


Yara berlari keluar dan menutup pintu kamar setelah itu ia hanya berdiri sebentar memegangi dadanya yang kini berdetak sangat kencang.


"Wahh kalau begini terus kecepatan nya , apakah aku akan terkena serangan jantung?"


Akhir-akhir ini tanpa sebab Yara mengalami detakan jantung yang sangat cepat dari biasanya apalagi saat ia bersama dengan Lanang ia akan langsung mengalami nya seolah itu adalah sebuah penyakit yang akan sering kambuh saat ia dekat dengan Lanang.


"Wahh, nona sedang memasak apa?" Tanya Sinen mendekat kearah Yara yang sedang memasak bubur untuk Lanang.


Atun juga ikut bergabung dan langsung menyenggol pinggang Sinen hingga kini mereka saling menatap dan membuat ekspresi seolah mereka tidak enak hati.


"Aah saya sedang membuat bubur untuk Lanang, dia terlihat sangat lemas."


"Bagaimana ini? Kasian sekali Aden Lanang." Bisik Atun.


"Atau kita beritahu saja kebenarannya?"


Sinen langsung menggeleng karena tak tega membuat Yara kecewa saat ia sudah sangat bahagia dengan kemampuan yang pikir sudah hebat


"Apa dia akan menyukai ini?" Tebak Yara melihat kearah mereka berdua.


"Hmm,, pasti nona, Aden akan menyukai nya."


"Apa ada yang ingin kalian sampaikan? Kenapa terlihat seolah ingin memberitahu sesuatu saja?"


"Eumbb,,,"


Sinen menggeleng dengan cepat untuk menghentikan Atun. Bagaimana jika Yara kecewa? Mereka sungguh tidak ingin itu terjadi.


"Atun , Sinen!" Panggil Yuna selaku mamah tiri Yara hingga memecahkan keheningan diantara mereka.


"Iya nyonya!"


Mereka langsung berbalik dan melihat kearah Yuna.


"Apa kalian sudah tidak waras? Kenapa kalian menghidangkan makanan sampah seperti tadi pagi?"


Atun juga Sinen kebingungan karena tiba-tiba saja Yuna berkomentar dengan masakan mereka biasanya dia akan memuji masakan mereka yang memang tergolong enak.


"Maaf nyonya, kami tidak mengerti maksud nyonya," ucap Sinen pelan.

__ADS_1


"Masih tidak mengerti? Kenapa sup buatan kalian begitu buruk pagi tadi? Saya sampai muntah gara-gara memakan nya . Kenapa tiba-tiba kalian menjadi buruk dalam memasak?"


Yara yang mendengar kata itu langsung melihat kearah Yuna "Apa sup yang kamu maksud adalah sup diatas mangkuk oval ?"


Yuna dengan cepat mengangguk dan Yara langsung tersenyum pelan karena merasa dihina oleh mamah tirinya itu.


"Apa maksud mu mengatakan kalau masakan itu adalah masakan sampah?"


Yuna tersenyum sinis "Wahh kenapa kamu jadi sensi begini? Apa itu masakan mu? Karena rasanya tidak mungkin itu adalah masakan Atun ataupun Sinen."


"Kalau iya memang nya kenapa? Lancang sekali kamu menghina masakan ku."


Atun juga Sinen langsung terdiam takut, memang bukan pertama kalinya mereka melihat Yara bertengkar dengan Yuna karena sadari dulu mereka tidak pernah akur. Atau mungkin karena umur mereka tergolong tidak jauh itu juga penyebab mereka sama-sama memiliki sikap yang egois.


"Wahh kenapa bangga sekali dengan masakan mu yang hancur itu, ahh saat ini kamu sedang memasak bubur yah? Cobalah! maka kamu akan tahu alasanku berkata seperti itu,"ucap Yuna dengan sinis.


Yara dengan kesal menyendok bubur yang baru saja ia masak itu dan meniupnya kemudian mencobanya.


"Uhuk,,,"


Yara langsung mencari air putih untuk menghilangkan rasa aneh dalam masakan nya itu.


"Bagaimana? Apakah aku salah jika berkomentar seperti itu?" Senyum Yuna menghardik Yara.


Yara menatap Yuna dengan kesal dan ia pun mencari mangkuk berisi sup yang ia buat lagi tadi, setelah menemukan nya ia pun mencicipi nya.


"Hubh,,"


Yara langsung saja memuntahkan nya ke tong sampah . Yuna tertawa pelan melihat Yara yang sedang muntah itu.


"Masih merasa bangga dengan masakan mu? Wahh bagaimana bisa ada manusia seburuk kamu? Sekalipun tidak bisa memasak tidak akan separah itu rasanya."


Yara melihat kearah Atun dan Sinen yang menunduk sejak tadi, Yara melihat lagi kearah mereka seolah mempertanyakan mengenai reaksi mereka tadi pagi yang mengatakan kalau masakan nya enak.


"Bagaimana bisa seorang gadis tidak bisa memasak? Apa masak mie instan juga kamu tidak bisa? Hahah pantas saja tidak ada laki-laki yang mau padamu,"ucap Yuna hingga Yara semakin dibuat kesal.


"Ups,, sepertinya saya harus pergi sekarang sebelum ada yang meledak."


Yuna pergi begitu saja meninggalkan Yara yang sudah sangat kesal setengah mati itu.


"Non,,,"


"Tolong tinggalkan saya sendiri dulu,"ucap Yara menahan Atun yang hendak berbicara dengan nya.


Atun dan Sinen langsung pergi dengan cepat karena tidak ingin membuat Yara semakin kesal saja.


...🍄 Bersambung🍄...


Kasiann banget Yara pasti kecewa banget.

__ADS_1


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀


__ADS_2