
...🍬 Soundtrack this part #Smile-yena feat bibi🍬...
...💌Hatiku berdebar bahkan saat mendengar langkah kakimu saja , apalagi saat aku melihat wajahmu💌...
Yara benar-benar tidak habis pikir bagaimana lagi cara untuk menghentikan Lanang untuk tidak bekerja hari ini, laki-laki itu sangat keras kepala dan selalu saja membangkang ucapannya.
"Kamu benar-benar bandel yah! Bagaimana kalau demam mu naik lagi gara-gara kekurangan istirahat?" Khawatir Yara saat Lanang menaiki mobil mengambil alih kemudi.
Lanang tersenyum karena diperhatikan oleh Yara, ia benar-benar nyaman dengan sikap perhatian Yara namun disisi lain ia merasa sedikit tersentil diulu hatinya karena merasa tidak pantas untuk merasakan bahagia hanya karena diperhatikan oleh Yara.
"Nyonya tidak usah khawatir, saya akan baik-baik saja kok hehehe."
"Yasudah terserah kamu saja , aku malas berdebat pagi-pagi buta begini."
Yara memilih untuk diam saja melihat kearah luar, Lanang sendiri sudah mulai menjalankan mobil meninggalkan pekarangan rumah.
Kini hanya hening yang menyelimuti mereka berdua di dalam mobil itu, Lanang teringat dengan ucapan papah saat menanyakan perihal cucunya yang tak kunjung ada kabar. Ia melirik kearah Yara yang terdiam seolah gadis itu begitu tertekan dan memiliki banyak sekali beban hidup padahal ia sudah tergolong gadis yang sangat beruntung karena mendapatkan segalanya termasuk pekerjaan dan juga kehidupan yang mewah. Lanang semakin yakin kalau kehidupan mewah bukanlah penentu kebahagiaan dalam menjalani hidup.
Yara sendiri terdiam mengingat apa yang ia dengarkan saat dirumah sakit beberapa hari yang lalu, ia sangat takut jika hal itu juga menimpa nya nanti. Kalau pun ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk melakukan itu dengan Lanang namun tak kunjung mendapatkan kesempatan hamil bagaimana dengan nya? Persetan dengan harta warisan ia sudah tidak perduli lagi dengan itu semua ia hanya takut tidak bisa merasakan hal yang sama dan normal seperti wanita kebanyakan.
"Bagaimana jika aku juga sudah mulai susah untuk hamil? Bagaimana jika aku sudah terlalu tua dan hormon ku juga bermasalah?" Batin Yara semakin frustasi.
"Apa nyonya baik-baik saja?" Tanya Lanang yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Yara yang terlihat sangat khawatir itu.
Yara buru-buru mengubah air mukanya dan menggeleng "Aku baik-baik saja, fokuslah menyetir."
Lanang pun mengangguk dan kembali fokus untuk menyetir. Ia benar-benar yakin kalau Yara sedang mengkhawatirkan sesuatu.
Lanang memasuki studio namun ia heran saat melihat studio sangat sepi. Ia baru sadar bahwa Hana Belum juga datang karena biasanya gadis itu adalah orang pertama yang datang ke studio dan menyambut nya dengan ramah.
"Apa dia terlambat datang hari ini?" Gumam Lanang kemudian memasuki ruangan nya.
Lanang mulai mengerjakan pekerjaannya yang sempat terbengkalai itu karena ia sakit jadi beberapa proyek yang sedang ia kerjakan itu harus terbengkalai.
"Hmm akhirnya satu sudah selesai, sekarang proyek yang satu lagi."
Lanang sudah selesai mengerjakan satu proyek dan sampai kini Hana belum juga memperlihatkan dirinya, gadis itu tidak biasanya seperti itu. Ia tidak memberikan kabar sama sekali.
Lanang khawatir, biar bagaimanapun ia adalah wali Hana dikota ini. Gadis itu tidak memiliki siapapun untuk menjaganya kalau bukan Lanang maka tidak akan ada lagi yang akan peduli.
"Kenapa tidak di angkat?"
__ADS_1
Lanang menelpon Hana berkali-kali namun tidak ada Jawaban sama sekali, gadis itu tidak pernah seperti ini.
Sudah masuk jam istirahat siang namun ia tak kunjung datang juga belum lagi panggilan Lanang satu pun tidak ada yang ia respon.
"Apa dia baik-baik saja?" Khawatir Lanang memilih untuk keluar dan melihat Hana kerumahnya.
"Loh, kamu mau kemana?" Tanya Yara yang sedang berjalan kearah Lanang.
Lanang melihat kearah Yara dan kaget kenapa Yara sudah ada disana? "Ada apa nyonya? Apakah ada sesuatu yang nyonya butuhkan?" Tanya Lanang pelan.
Yara menggeleng dengan cepat " Aku hanya sedang menunggu Lean namun ia tak kunjung datang, tidak seperti biasanya. Kamu sendiri hendak kemana?" Tanya Yara dengan pelan.
"Hana tidak masuk hari ini nyonya, dia juga tidak mengangkat panggilan saya. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan nya."
Deg,
bohong jika Yara tidak cemburu karena melihat perhatian Lanang, ia benar-benar merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa memikat Lanang.
"Ooh begitu yah, kalau begitu lanjutkan lah!" Yara hendak pergi namun ditahan oleh Lanang.
"Apa nyonya bisa menemani saya?"
"Gila, sudah gila! Untuk apa aku ikut serta mencari gadis itu?" Kesal Yara karena ajakan Lanang.
"Mungkin saja ia sedang ada urusan lain,"ucap Yara pelan.
"Tidak seperti biasanya nyonya, biasanya kalau pun ia tidak bekerja ia akan memberitahu saya kemana dan sedang apa dia."
"Cih, dia sedang pamer akan hubungan mereka yah?" Kesal Yara.
Ia pun menghidupkan musik dengan sangat keras hingga Lanang kaget bukan main.
"Aku hanya ingin mendengarkan musik saja . Apa kamu terganggu?" Tanya Yara kearah Lanang.
Lanang dengan cepat menggeleng dan heran karena setaunya Yara tidak terlalu menyukai musik kenapa tiba-tiba sekali ia ingin mendengar musik? Yara sendiri melakukan itu hanya ingin menghindari agar Lanang tidak membicarakan Hana lagi dan lagi.
"Hana , kamu kenapa gatal sekali kepada suami orang?" Batin Yara masih sangat kesal.
"Lanang, kamu juga sama buruknya. Kenapa masih bersikap perduli dengan gadis lain saat kamu sudah memiliki istri?" Kesal Yara.
Saat mereka sampai di depan rumah Hana mereka kaget melihat keberadaan Lean disana.
__ADS_1
"Loh, kamu sedang apa disini?" Tanya Yara kepada Lean .
Lean kaget saat melihat Lanang dan Yara yang datang kerumah Hana.
"Aah, aku sedang menunggu kolega ku yang meminta untuk bertemu disini. Kalian sedang apa disini?" Tanya Lean pelan dan mencoba untuk bersikap tenang.
"Kolega? Kenapa meminta bertemu disini?" Tanya Yara curiga .
"Dia sedang ada urusan mendadak dan meminta ku untuk datang kesini, kalau begitu aku duluan yah masih ada urusan lain yang harus ku urus."
"Kamu kok mencurigakan gitu sih Lean? Apa ada masalah?" Tanya Yara pelan.
Lanang hanya diam saja dan berjalan kearah rumah Hana. Ia melirik kearah pintu dan disana terdapat sandal yang biasa Hana pakai dan itu menunjukkan bahwa Hana sedang ada dirumahnya saat ini.
"Kalian sedang apa kesini? " Tanya Lean pelan.
"Aahhh itu Lanang sedang mencari Hana karena ia tidak masuk kerja, merepotkan!"
"Hana tidak masuk kerja? Mungkin dia sedang ada urusan!"
Yara melirik kearah Lean karena laki-laki itu sungguh terlihat sangat mencurigakan.
"Kamu benar-benar aneh , apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Yara melihat curiga kearah Lean.
"Apa sih? Kalau begitu aku duluan saja." Lean memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan Yara yang masih sedikit curiga itu.
"Kenapa sih dengan nya? Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan."
Yara memilih untuk mengabaikan itu saja dan berjalan kearah Lanang yang mencoba untuk memanggil Hana.
Sudah berkali-kali mereka mengetuk pintu namun Hana tidak membukakan nya . Belum lagi sampai kini panggilan dari Lanang belum juga ia angkat.
"Hana, kamu pasti di dalam kan? Buka pintunya! Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lanang dengan lembut.
Yara sendiri hanya melihat kesal kearah Lanang yang sedang khawatir itu. Terlihat sekali ia sangat perhatian terhadap Hana dan itu jelas membuat Yara kesal.
"Apa aku sedang cemburu? Ahh tidak mungkin. Aku hanya kesal saja karena Hana begitu merepotkan orang saja,"ucap Yara mengelak perasaannya.
...🍄 Bersambung🍄...
Lean pasti khawatir banget. Merasa bersalah padahal kan gak sepenuhnya semua salah Lean.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀