Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 15: Ada apa ini?


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #Beautiful-nct 2021🍬...


...💌Jika menjalin hubungan adalah perkara yang mudah maka tidak akan banyak orang yang sendiri saat ini💌...


           Setelah menunggu beberapa saat barulah Yara menyelesaikan pemeriksaan kakinya. Memang tidak tergolong parah namun jika dibiarkan bisa saja semakin bengkak dan akan membuat Yara merasa tidak nyaman saat berjalan dan beraktivitas.


"Untung saja kalian datang sebelum kakimu semakin parah,"tutur dokter yang sudah memiliki seorang putra itu tersenyum ramah kearah Yara.


"Padahal tidak sakit sama sekali, kamu terlalu lebay run."


Yara dan dokter Harun adalah teman satu alumni saat SMA dahulu , mereka memang tidak terlalu dekat satu sama lain namun masih masuk kedalam kategori berteman dan memang Yara selalu saja menjaga relasi nya walaupun ia bukanlah gadis yang tergolong ramah.


"Jangan banyak beraktivitas dulu, kalau bisa sih jangan kemana-mana dulu. Memang terlihat sepele tapi itu akan sangat mudah membengkak."


"Siap pak dokter, kami pamit."


Yara dituntun oleh Lanang walaupun awalnya gadis itu menolak dibantu oleh Lanang . Namun ia akhirnya menurut untuk menjaga sikap dihadapan dokter Harun.


Sampai didalam mobil mereka kemudian kembali berpamitan dan melaju menuju kantor.


"Untung saja kita langsung ke dokter nyonya. Bagaimana kalau sampai kaki nyonya bengkak kemudian bernanah dan tidak bisa berja...."


"Kamu menyumpahi ku!"nyalak Yara langsung membuat Lanang bungkam seketika.


"Bagaimana kalau kita kerumah saja nyonya? Bukankah dokter Harun mengatakan untuk nyonya beristirahat saja? Kita tidak usah ke kan...."


"Secepatnya kita harus ke kantor sekarang!"


"Tapi nyonya, bukankah nyonya seharusnya Isti..."


"Kamu membantah perintah ku?"


Lanang kembali terdiam karena Yara sungguh menatap nya dengan penuh penekanan. Ia langsung saja ciut dan menurut meneruskan perjalanan menuju kantor.


"Aku sudah menuruti kemauan kalian dengan memeriksakan kakiku ke dokter,jadi jangan berulah lagi."


Lanang langsung mengangguk pelan dan memilih fokus untuk menyetir karena apa yang gadis itu ucapkan sangat realistis sekali. Ia langsung tidak bisa membalas ucapannya seperti yang biasa ia lakukan.


Yara menepis tangan Lanang yang mencoba membantunya saat turun dari mobil hingga Lanang tersenyum pelan. Walaupun sikap Yara tergolong kasar padanya tetap saja ia melihat itu seolah Yara itu sedang bertingkah imut dihadapannya.


"Tidak usah berlagak kakiku patah saja, aku bisa berjalan sendiri."


Lanang langsung menggeleng dengan pelan "Tidak nyonya, kaki nyonya tidak bisa dibiarkan terlalu lama dipaksakan berjalan. Jadi nyonya bisa menggandeng tangan saya agar tidak terlalu memaksakan kaki nyonya."


Yara menatap kesal kearah Lanang dan Lanang langsung beralih melihat kearah yang berlawanan tak berani bersitatap langsung.

__ADS_1


"Sepertinya kamu tidak faham bahasa manusia yah? Kenapa setiap apa yang saya sampaikan tidak pernah langsung kamu terima?"


"Saya hanya ingin membantu nyonya heheh."


"Tutup mulutmu aku benci melihat mu tertawa bodoh seperti itu!"


Bohong!


Saat ini Yara merasakan sesuatu yang aneh saat melihat barisan gigi rapi Lanang saat tertawa laki-laki itu terlihat semakin tampan saja.


Langsung saja Lanang menutup mulutnya dan bungkam karena ucapan Yara tadi.


"Baiklah nyonya, sekarang saya akan mengantar nyonya keruangan nyonya."


"Tidak perlu!"


"Saya tidak keberatan nyonya. Tidak usah merasa merepotkan saya."


"Saya yang keberatan dan saya yang merasa direpotkan,"tutur Yara melihat dengan wajah datar kearah Lanang.


"Wahhh ada apa ini? kenapa suasananya terlihat suram disini?"


Kedua manusia yang sedang berseteru itu langsung saja melirik kearah Lean yang baru datang dengan kopi ditangannya.


"Pagi pak!" Sapa Lanang dengan sopan lalu kembali melihat kearah Yara yang masih terlihat kesal itu.


"Kenapa kalian terlihat sedang bertengkar saja? Ada masalah apa hmm?"


Lean memang manusia kepo,ruwet,baik,tidak sombong dan masih banyak lagi sifat random yang ia miliki hingga Yara semakin kesal karena harus dihadapkan dengan dua laki-laki itu. Satu masih bocah dan memusingkan karena berlagak seolah ia sudah paling dewasa dan satu lagi sudah dewasa tapi sikapnya masih sangat kekanakan.


"Bukan urusan mu! "Ketus Yara hingga Lean bingung kenapa yang kena batunya malah dia?.


"Loh? Kenapa ngelampiasin nya ke aku?  lain kali kamu nanya nanya aku gak mau jawab lag..."


Yara dengan susah payah mendekat kearah Lean dengan kakinya yang sakit itu dan menutup mulut tidak berguna Lean itu. Bagaimana jika dia membahas pertanyaan Yara pada hari itu dihadapan Lanang? Bisa-bisa ia akan ketahuan.


"Diam! Setiap kali mulutmu terbuka aku ingin segera pindah negara."


Yara menggandeng tangan Lanang dengan cepat hingga Lanang langsung tersenyum pelan.


"Cepat bawa aku ke ruangan ku!"


"Siap segera dan secepatnya nyonya hehehe!"


"Berhenti tertawa kubilang!"

__ADS_1


Lanang langsung terdiam dan menuntun Yara berjalan hingga membuat Lean kebingungan ada apa dengan kaki gadis freezer itu hingga harus digandeng seperti itu? .


"Kenapa dengan kakimu? "Kejar Lean mengikuti kedua manusia yang sedang memasuki lift itu.


"Hanya terkilir biasa."


"Yakin? Kenapa terlihat bengkak begitu? Sudah diperiksakan ke dokter belum? Ahhh gak bisa dibiarkan ayo ke dokter sekarang juga!"


Yara semakin pusing saja karena sejak pagi tadi ia sudah mendengar kata dokter sebanyak 100 kali. Kenapa hanya masalah ringan dibuat jadi ruwet sih?.


"Lama-lama aku bisa membenci dokter karena kalian."


Lanang sejak tadi tidak hentinya memperhatikan Lean, laki-laki hebat itu benar-benar terlihat sangat sempurna bahkan dihadapan seorang Lanang yang berjenis kelamin laki-laki. Pasti banyak sekali perempuan yang terpana kepada parasnya yang tampan dan tubuh proporsional juga ia adalah seorang pemuda yang sukses.


Lanang memperhatikan Yara dan Lanang yang sedang beradu argumen itu dengan seksama. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang sedang berdebat hal-hal kecil sangat cocok dan bisa dibilang pasangan serasi.


Melihat itu timbullah pertanyaan dalam benak Lanang yang membuat ia tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran gadis pintar seperti yara.Kenapa bukan Lean saja yang Yara ajak menikah hari itu? Kenapa seorang pemuda yang tidak punya apa-apa seperti Lanang? Tentu itu akan merusak reputasi Yara.


"Huh! Aku bagaikan debu dihadapan mereka berdua. Aku dan segala kekurangan ku." Batin Lanang terdiam.


"Aw,,"


Lanang kaget saat Yara menyikut pinggang nya.


"Masih ingin diam disini sampai tahun baru tiba? Kamu melamunkan apa?"ketus Yara hingga Lanang langsung sadar.


"Ehh maaf nyonya, mari nyonya."


Lean sendiri hanya diam saja melihat Yara dan Lanang yang terlihat sangat canggung itu. Apa karena mereka seorang bawahan dan majikan? .


"Kamu sih aku ngajak biar aku yang gandeng malah nolak. Kapan lagi digandeng sama cogan kayak aku?"


"Diam atau tidak usah bekerja hari ini! Aku sudah mengatakan untuk tidak berbicara pada sesuatu hal yang tidak berguna. "


Lean langsung cemberut dan membuka pintu ruangan Yara dan Lanang membantu Yara untuk duduk di kursinya.


"Kamu libur hari ini, jadi duduk saja di sofa dan tunggu perintah ku selanjutnya." Yara dan langsung dianggukan oleh Lanang.


...🍄 Bersambung🍄...


Ngelawan aja teross. Aku dukung kok Lanang.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2