Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 72: Aku tahu isi hatimu.


__ADS_3

^^^🍬 Soundtrack this part #Langit abu-abu-tulus🍬^^^


...💌Kamu terlalu lama memendam itu, aku tahu bagaimana perasaan mu dan aku akan mencoba untuk membuatmu bahagia dengan ku💌...


     Pintu kamar diketuk dari luar hingga Yara dan Lanang yang sedang sibuk untuk berkemas langsung kebingungan. Kalau itu adalah Atun atau Sinen mereka pasti akan bersuara. Namun, kali ini hanya sekedar ketukan tanpa ada suara.


"Biar mas yang bukakan sayang,"ucap Lanang berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan.


"Pagi mas hehehe,"ucap Azri dengan ramah.


"Loh, Azri? Ada apa pagi-pagi begini? Ada sesuatu yang kamu butuhkan hmm?" Tanya Lanang.


Lanang takut mood Yara akan memburuk dan ia langsung mencoba untuk mencairkan suasana.


"Mbak Yara dimana mas?" Tanya Azri dengan pelan.


"Sedang berkemas tuh, ada perlu yah dengan mbak Yara?" Tanya lanang pelan.


Azri dengan semangat mengangguk "Aku ingin di ikatkan dasi oleh mbak Yara mas."


Lanang semakin merasa tidak enak dengan Azri, ia takut Yara akan menolak dengan nada yang sarkas.


"Apa mas saja yang mengikatkan nya untuk mu?" Tanya Lanang dengan pelan.


Azri buru-buru menggeleng karena ia hanya ingin dikatakan dasi oleh Yara seorang. Ia benar-benar bahagia hanya karena perhatian kecil dari kakaknya yang sudah sangat lama ia nantikan itu.


"Aku mau mbak Yara yang ikatkan mas, seperti semalam orang orang mengatakan kalau dasiku terlihat sangat rapi karena mbak Yara yang mengikatkan mas."


"Yara mengikatkan kamu dasi? Kapan?" Bingung lanang.


Bagaimana mungkin ia percaya dengan itu, ia jelas mengingat betapa dingin dan kakunya Yara saat dihadapan Azri.


"Ada apa mas? Siapa itu?" Tanya Yara berjalan pelan menuju pintu.


Ia melihat Azri yang sudah berdiri disana dengan senyuman lebar sambil cengengesan.


"Azri? Ada apa?" Tanya Yara dengan nada yang sangat lembut.


Kini malah Lanang yang dibuat heran dengan apa yang terjadi dihadapannya saat ini. Bagaimana mungkin dalam satu malam saja Yara benar-benar menurut dengan nasihat nya.


"Azri mau mbak yang ikatkan dasi untuk Azri,"ucapnya dengan nada penuh harap.

__ADS_1


Yara terdiam dan melihat kearah Azri, sekali dibaikin Azri benar-benar keasyikan dan lupa kalau Yara itu kadang bisa berubah moodnya secara tiba-tiba.


Lanang langsung khawatir Yara akan kesal dan marah karena sudah diganggu pagi-pagi buta begini.


"Baiklah sini mendekat,"ucap Yara meraih dasi itu.


Lanang mengembuskan nafas lega dan tersenyum karena ia merasa sangat dihargai sebagai seorang suami. Bagaimana tidak? Nasehat yang ia sampaikan benar-benar berhasil untuk Yara. Gadis itu menurut dan juga mendengarkan semua yang ia katakan.


"Sudah selesai, mbak kan sudah berpesan padamu untuk segera belajar mengikat dasi mu. Kamu sudah besar Jangan manja!" Tegas Yara dan Azri langsung mengangguk senang.


"Jangan hanya mengangguk saja, tapi kamu harus mendengarkan nasihat mbak. Kamu sudah besar jadi jangan terlalu bergantung kepada orang lain,"ucap Yara lagi dengan pelan.


Lanang tersenyum karena baru kali ini ia melihat sisi seorang kakak dari Yara. Azri sendiri sangat bahagia karena dinasehati oleh kakaknya. Ia bahkan sangat ingin dinasehati lagi dan lagi.


"Kamu sudah makan?" Tanya Yara kearah Azri dan Azri menggeleng.


"Ck,, kamu umur berapa sih? Kamu hampir saja terlambat kenapa belum juga makan?" Omel Yara.


Dengan pelan ia menarik tangan Azri menuruni tangga meninggalkan Lanang yang kebingungan itu.


"Wahhh sekarang aku bahkan dilupakan hahahah,"ucap Lanang tertawa gemas melihat adik kakak itu.


"Duduklah, biar mbak yang akan menyiapkan makanan mu."


"Tunggu apa lagi mas? Kenapa hanya duduk saja? Ayok makan dengan Azri. Kalau makan sendiri Azri gak bakal ngabisin nasinya."


Azri langsung melihat kearah Yara dengan penuh tatapan sendu. Ia tidak mengira ternyata Yara selama ini benar-benar memperhatikan nya. Seringkali ia makan sendiri dan selalu saja menyisakan nasinya.


"Kalau mbak yang siapkan satu baskom juga aku mampu abisin mbak hehehe," ucap Azri dengan pelan.


" Sedang apa kamu? Berbicara seperti itu?" Tanya Yara dengan wajah datar.


Azri langsung ciut dan Lanang tertawa karena itu. Mereka tertawa bersama karena Yara Benar-benar terlihat sangat menggemaskan saat sedang berekspresi serius seperti itu.


"Berhentilah tertawa dan langsung makan," ucap Yara pelan.


"Wahhh kalian begitu bahagia sampai tidak sadar ada kami disini?"


Seketika Yara , Lanang dan juga Azri kaget saat melihat mamah dan papah yang berdiri disana sejak tadi sambil memperhatikan semuanya.


"Pa,,papah!" Yara yang sedikit cerewet tadi langsung terdiam pelan.

__ADS_1


Mamah terlihat tersenyum kearah Yara dengan sangat hangat, baru kali ini Yara melihat ekspresi itu dari mamah tirinya itu.


"Duduklah, biar mamah yang siapkan makanan untuk mu!"


Yara kaget karena nada bicara mamah benar-benar ikut berubah, suara, tatapan dan juga tingkah lakunya benar-benar berubah.


"I,,iya mah."


"Papah gak disuruh duduk nih?" Sindir papah sambil tersenyum.


"Mas duduk juga hahahaa," ucap mamah.


Papah benar-benar tersenyum bahagia karena melihat kondisi rumah benar-benar terasa sangat berbeda dan semakin hangat saat ini. Ia jelas tahu hubungan Yara dan Azri serta mamahnya memang kurang baik, dan bukan berarti ia membiarkan nya selama ini. Ia tahu dengan sangat bagaimana perasaan Yara dan juga bagaimana sikap putrinya itu.


Ia menunggu sampai Yara sendiri yang akan bersikap hangat lebih dahulu dan ternyata hari itu akhirnya datang juga setelah kehadiran Lanang dirumah itu.


Ia melirik kearah Lanang yang tersenyum itu, ia benar-benar bersyukur Lanang hadir di dalam rumah itu dan mengubah segalanya menjadi sangat indah khususnya mengubah Yara menjadi pribadi yang sangat baik dan juga terbuka berbeda dengan Yara yang selama ini sebelum kehadiran Lanang.


"Makanlah yang banyak Yara, kamu terlihat semakin kurus saja." Ucap mamah dengan nada yang sangat perhatian.


Selama ini setiap kali mereka berinteraksi pasti akan terdengar seperti sebuah perdebatan namun kali ini nada mereka berbicara benar-benar terdengar seperti seorang putri dan ibunya.


"Ma,, makasih mah." Kikuk Yara memakan makanan nya.


Lanang tersenyum lalu memegang tangan Yara dengan mengelus nya pelan seolah berkata bahwa Yara berkerja dan juga bersikap sangat bagus. Lanang bangga!.


"Mah pah, lihatlah dasi Azri! Mbak Yara yang mengikatkan nya,"ucap Azri dengan sangat bangga.


Padahal hanya di ikatkan dasi saja reaksinya seolah Yara memberikan seluruh dunia ini padanya.


"Wahh rapi sekali yah. Kamu harus berlatih mengikat dasimu sendiri yah, jangan menyusahkan mbak mu karena mbak adalah orang yang sibuk dan memiliki banyak sekali pekerjaan," nasihat mamah dengan sangat lembut.


Yara tidak pernah melihat sisi ini dari mamah tirinya. Ia terlalu sibuk membatasi diri dan mencoba untuk membenci nya hingga tak sadar akan itu.


Hari ini seolah seluruh permasalahan dalam rumah benar-benar terpecahkan dan papah sangat bersyukur akan hal itu.


Rasa sayang dan kagumnya terhadap Lanang semakin besar karena bisa mengubah suasana di dalam rumah menjadi sang hangat.


...🍄 Bersambung🍄...


Lanang tuh positive vibes banget yahh. Apapun dan siapapun yang ada di dekatnya seolah menyerap kebaikan darinya.

__ADS_1


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀


__ADS_2