
...🍬 Soundtrack #XOXO-somi🍬...
...💌 Kita yang saling memilih untuk saling menutupi💌...
Benar saja , bahkan belum juga sampai di mobil Yara sudah menyemprotkan Lanang dengan kata-kata mercon nya. Laki-laki itu hanya tersenyum kecil karena berhasil membuat Yara kesal dan marah pagi-pagi buta itu. Walaupun dengan suara sedikit tinggi Lanang sungguh tidak keberatan ia malah merasa setiap gadis itu marah ia semakin terlihat cantik dan menggemaskan.
"Maksud kamu apa tadi? Benar-benar ingin kulempar ke jalan yah kamu?"kesal Yara dengan tangan masih saja digandeng oleh Lanang.
Bagaimana Lanang tidak menahan senyumnya, gadis itu sedang kesal dan marah sementara ia masih saja bergantung dengan Lanang karena kakinya yang sedang sakit.
Melihat arah pandang Lanang Yara langsung menepis tangan laki-laki yang sedang menggandeng tangan nya.
"Kamu dengar tidak?"kesalnya karena sejak tadi ia sedang marah-marah laki-laki itu hanya tersenyum kecil seolah ia sedang melakukan lelucon dihadapannya.
"Saya paling tidak suka saat kamu bertingkah seenaknya seperti tadi, menurut kamu kenapa saya tidak ingin ke dokter? Saya tidak suka membuang waktu untuk hal-hal kecil seperti ini. Hanya luka sedikit tidak usah dibesar-besarkan."
Lanang tau kalau Yara benar-benar sedang kesal saat ini ,saat gadis itu mulai memakai bahasa formal itu tandanya ia sedang serius.
Padahal Lanang sendiri terpaksa melakukan hal tadi, memang ia sangat lancang karena mengadukan hal tadi namun ia benar-benar bersikap seperti itu untuk membuat ayah lebih percaya dengan pernikahan mereka. Karena ia sudah beberapa kali ditegur oleh sang ayah karena sampai saat ini mereka belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka akan dikaruniai anak dan itu menimbulkan kecurigaan ayah bahwa pernikahan mereka adalah setingan belaka.
"Maafkan saya nyonya, saya hanya ingin menunjukkan sikap bahwa kita adalah suami istri pada umumnya dihadapan tuan besar. Karena beberapa kali terakhir ini tuan besar sudah mulai curiga dengan pernikahan kita ."
"Kamu pikir saya bodoh? Jelas saya tahu kamu sedang ber-akting dihadapan papah. Yang saya kesalkan mulut ember mu itu . Saya sudah menolak untuk tidak ingin diperiksakan ke dokter kamu malah mengadu tidak jelas, akhh sudahlah kamu membuat mood saya jadi rusak pagi buta begini."
"Saya hanya khawatir kaki nyonya akan semakin parah nantinya jika dibiarkan karena saat ini saja sudah mulai membengkak."
"Saya tidak selemah itu untuk kamu khawatirkan!" Kesal Yara karena ia sungguh tidak suka jika orang lain mengkhawatirkan nya. Ia tidak ingin dipandang lemah.
"Berpura-pura kuat akan membuat nyonya terlihat semakin lemah, tidak baik-baik saja bukanlah kesalahan."
Lanang bukannya memandang gadis dihadapannya adalah gadis yang lemah hanya saja ia sangat ingin gadis itu sedikit santai jangan terlalu memaksakan dirinya,ia seharusnya lebih mencintai dirinya dengan tidak memaksakan segalanya. Mencintai diri sendiri adalah kunci dari segalanya. Sebelum mencintai segala sesuatu seharusnya lebih mencintai diri sendiri lebih dahulu.
Yara sudah menanamkan nya dalam hati sedari dulu, ia adalah gadis kuat dan tidak akan pernah dikasihani oleh orang lain. Ia tidak ingin dipandang sebagai gadis lemah dan bisa dibuang kapan saja. Gadis itu benar-benar sudah melalui banyak hal untuk menjadi dirinya yang sekarang ini.
"Tau apa kamu? Akhh sudahlah menjawab saja mulutmu itu. Cepat nyalakan mobil nya ke tempat dokter Harun"
Lanang tersenyum karena walaupun dengan beradu argumen dan menerima semprotan mercon oleh mulut Yara gadis itu tetap saja menurut untuk diperiksakan ke dokter.
"Siap nyonya." Lanang tersenyum membukakan pintu dan kemudian melaju meninggalkan rumah setelah Yara benar-benar sudah duduk dan mengenakan sabuk pengamannya.
__ADS_1
Kebisuan berlangsung selama perjalanan karena tidak ada satupun diantara keduanya yang membuka suara bahkan suara detik jam tangan Yara saja sampai terdengar karena perang bisu itu.
Yara menelisik setiap jalanan yang mereka lewati, matanya beralih dari pemandangan yang lain ke yang lainnya. Matanya sesekali berkedip dan kembali melihat lihat sedangkan Lanang ia hanya fokus menyetir kemudian sesekali melihat kearah Yara yang terdiam melihat keluar jendela mobil.
Lagi-lagi ancaman sang ayah menghantui pikiran Yara. Ia benar-benar sempat lupa dengan kecemasan nya kemarin dan kembali teringat hanya karena pikirannya tengah kosong saat ini.
Belum lagi pagi ini ia sudah membuat kesan lebih buruk dihadapan laki-laki berusia lebih muda darinya itu, ia benar-benar lupa untuk menjaga sikap dan mulutnya saat bersama Lanang karena Lanang selalu saja membuat ia jengkel dengan banyak hal.
"Bagaimana ini? Apakah ia akan semakin membenciku?" Batin Yara merutuki kebodohan nya karena tidak mengontrol emosinya pagi itu.
"Dia pasti tidak akan pernah tertarik dengan ku lagi? Akhh lupakan kata tertarik. Yang ku butuhkan adalah ia harus menyentuh ku agar kami bisa memberikan cucu untuk papah. Tapi aku sudah mengacaukan semuanya." Tutik Yara merasa bodoh dengan dirinya sendiri.
Lanang sedikit kebingungan melihat Yara yang tidak bisa diam bahkan gadis itu memukul pelan kepalanya sendiri.
"Apa ada masalah nyonya?"
Yara langsung melihat kearah Lanang yang juga melihat kearahnya, wajah laki-laki muda itu seketika menghipnotis penglihatan Yara. Ia benar-benar merasa kalau wajah Lanang sangat tampan dan membuat ia tak bisa berkata-kata lagi .
"Ya Tuhan, kenapa dengan ku?"batin Yara merasa bingung dengan dirinya sendiri.
"Apakah nyonya baik-baik saja?" Tanya lanang lagi memastikan.
"Khem, tidak apa. Kamu fokuslah menyetir! Ingin mencelakai saya yah?"ketus Yara kemudian berpaling kearah lain. Mencoba menghindari melihat wajah Lanang.
"Pelan-pelan nyonya!"
Lanang menuntun Yara keluar dari mobil dan membantunya menuju ruangan dokter Harun.
Karena melihat dokter Harun yang sedang menangani seorang pasien Lanang mendudukkan Yara diatas kursi disana.
"Sudahlah kamu pergi saja ke studio, kamu sudah terlambat lama sekali. "
Lanang menggeleng dengan pelan"Saya sudah izin hari ini nyonya. Saya akan menemani nyonya ke kantor dan membantu nyonya mengambil keperluan disana dan kalau ada yang butuh untuk dijemput saya bisa menjemputnya."
Yara menggeleng dengan cepat " Tidak usah, semuanya memiliki tugas masing-masing disana. Kamu pergi saja ke studio saya baik-baik saja."
Lanang menggeleng lagi dengan sedikit tersenyum pelan hingga Yara yang melihat itu benar-benar merasa senyum Lanang sangat manis sekali.
"Tidak nyonya! Bagaimana kalau tiba-tiba kaki nyonya semakin parah tuan besar pasti mengira saya tidak menjaga nyonya dengan baik. "
__ADS_1
Yara menarik nafas pelan dan mengangguk dengan enggan. Ia malas sekali berdebat saat ini, Lanang sungguh keras kepala sekali.
"Baiklah terserahmu saja. Jangan salahkan saya kalau kamu terkena masalah di studio,saya tidak pernah memaksa mu untuk libur dari pekerjaan mu."
Lanang mengangguk tersenyum " Sipp nyonya."
Dering telepon berbunyi dari ponsel milik Lanang, dan ternyata itu adalah panggilan dari ayah .
"Halo pah, "
" Apa istrimu sudah diperiksakan ke dokter?" Tanya ayah dari seberang telepon.
Yara hanya memutar bola mata jengah karena ayahnya sungguh tidak percaya bahwa ia mengatakan akan diperiksakan.
"Papah ngk percaya sama Yara?" Kesal Yara merebut ponsel Lanang.
Terdengar kekehan dari ponsel dan itu membuat Yara sedikit mencibir kesal.
"Bukannya gak percaya sayang, papah hanya ingin memastikan saja. Syukurlah kalau kalian sudah memeriksakan nya. "
Sambungan dimatikan setelah Yara selesai berbincang sebentar dengan ayahnya.
Lagi-lagi hanya ada kebisuan setelah itu, mereka saling membiarkan satu sama lain. Tak ada yang memulai pembicaraan dan hanya fokus menunggu dokter Harun selesai bertugas.
Lagi-lagi dering telepon berbunyi dari ponsel Lanang hingga memecah kesunyian sesaat itu. Lanang menerima panggilan itu sedang Yara hanya diam saja tak mau tau.
"Halo Hana! Ada apa hmmm?" Suara lembut Lanang menerima panggilan dari Hana gadis muda yang bekerja di studio dengan Lanang.
Yara yang semula acuh tak acuh itu kemudian melebarkan telinga seolah ingin tahu apa yang sedang mereka bahas di telepon.
"Mas tidak masuk kerja hari ini, semua sudah mas kirimkan ke surel pak Danu. Jadi Hana berangkat dengan pak Danu saja yah." Jelas Lanang dengan nada lembut karena saat melihat Hana ia akan teringat dengan adiknya dikampung.
Yara kembali menarik beberapa kesimpulan dalam benaknya. Lanang pasti menyukai gadis itu, atau gadis itu yang menyukai Lanang yang jelas ada sesuatu diantara mereka berdua.
"Hmmm apa aku akan berhasil?"batin Yara merasa pesimis dengan rencananya yang kian susah untuk ia lancarkan.
...🍄 Bersambung🍄...
Ada saingan tuh mbak Yara hahah. Makanya jangan galak-galak biar Lanang kesemsem😅
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan
See you guys 🧀