
...🍬 Soundtrack this part #Sisa rasa-mahal ini🍬...
...💌Hatiku terguncang saat mengetahui fakta itu, Bagaimana jika itu benar-benar terjadi padaku?💌...
Yara hanya terdiam saat menyetir,gadis itu terlihat sangat fokus menyetir tanpa melihat kearah Lanang sama sekali. Lanang sendiri tidak hentinya melirik kearah Yara yang benar-benar terlihat sangat pendiam itu.
"Bagaimana kalau saya saja yang menyetir nyonya?"tanya Lanang dengan pelan.
Yara menoleh dan menggeleng pelan "Tidak apa, kamu istirahat saja nanti ku bangunkan saat sudah sampai,"ucap Yara pelan dan ia kembali fokus menyetir.
Lanang kembali teringat dengan ucapan keluarga tadi dihadapan Yara, gadis itu terlihat sangat terguncang setelah mendengar itu dari mereka.
Lanang sedikit prihatin melihat Yara yang langsung terdiam itu, biasanya saat Lanang meminta untuk digantikan sebagai supir Yara akan menjawab dengan kasar tapi tadi gadis itu sangat damai seolah sedang tidak ingin menghabiskan tenaganya.
21.35pm.
Hana masih saja menunggu Lanang di depan studio padahal malam sudah mulai larut, ia benar-benar tidak akan puas jika tidak berpamitan langsung dengan Lanang apalagi tadi Lanang sedang demam. Ia akan diliputi oleh rasa khawatir.
Sejak tadi ponsel Lanang tidak masuk untuk dihubungi, selalu saja operator yang menjawab panggilan Hana.
"Duhh, gimana dong? Mas Lanang baik-baik saja gak yah?" Hana benar-benar khawatir dan tidak hentinya bolak balik seperti seseorang yang linglung.
Berkali-kali ia menekan nomor Lanang namun hasilnya masih saja sama.
"Huh, " Hana duduk di depan studio karena ia sungguh tidak bisa pulang begitu saja.
Sudah beberapa menit berlalu Hana masih duduk disana bahkan ia sampai tertidur dan hampir saja terjatuh karena tidur dalam posisi duduk dengan lengkap.
"Han," ucap seseorang menyentuh bahu Hana hingga gadis itu terlonjak kaget.
"Ma,,mas Lanang?" Hana melihat kearah orang itu dan ternyata itu adalah Lean yang juga baru saja datang.
"Aku adalah Lean, kenapa kamu disini sampai selarut ini?" Tanya Lean kebingungan karena melihat Hana masih saja di depan studio bahkan sampai saat ini.
Gadis itu langsung menunduk hormat dan memperbaiki posisi nya, ia mengira yang datang itu adalah Lanang namun ternyata Lean.
Lean sendiri yang hendak kembali kerumahnya terpaksa turun dari mobil untuk menghampiri Hana karena gadis itu terlihat sangat ngantuk di kursi itu.
"Eugh,"
"Sedang apa kamu disini? Kamu bahkan sampai tertidur tadi,"ucap Lean penasaran.
__ADS_1
Hana menggeleng pelan "Saya hanya menunggu kabar dari mas Lanang pak, sejak tadi ia belum juga memberikan kabar ."
Lean mengeryit pelan saat mendengar itu dari Hana, Bagaimana bisa dia menunggu Lanang disana sampai malam begini? .
"Lanang sudah tidak mungkin datang kesini, kamu pulang saja biar ku antar,"ucap Lean mengajak Hana untuk pulang karena sudah tidak mungkin Lanang akan datang.
Hana menggeleng karena ia sungguh tidak akan pulang, kalau tau begini mending sejak tadi dia pulang lebih dahulu.
"Tidak pak, saya akan tetap menunggu disini!"
"Telpon saja kalau begitu, Jangan menyiksa dirimu disini berlama-lama. Kamu bisa masuk angin nantinya,"ucap Lean pelan.
"Tidak aktif pak,"ucap Hana lesu.
Lean malah ikut dibuat bingung karena Hana, meninggalkan gadis itu sendirian bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan.
"Yasudah bagaimana kalau kita pulang saja, dijalan nanti kita coba hubungi Yara untuk menanyakan bagaimana kabar Lanang. Sudah mulai larut kamu jangan disini karena itu akan sangat berbahaya,"ucap Lean dan Hana langsung menurut.
Mereka memasuki mobil dan Lean memberikan ponselnya kearah Hana untuk menghubungi nomor Yara yang juga tidak bisa dihubungi seharian.
"Tidak aktif juga pak, bagaimana ini? Apakah mereka baik-baik saja?" Khawatir Hana.
"Masa sampai seharian sih pak? Saya benar-benar khawatir."
Lean tertawa pelan kearah Hana "Yah begitulah dunia bisnis Han, jangankan seharian bahkan sampai berhari-hari."
"Tapi saya tidak akan tenang jika tidak mendengar kabar mas Lanang pak,"ucap Hana.
Lean mengeryit karena merasa Hana sangat mengkhawatirkan Lanang. Gadis itu benar-benar teguh pada pendiriannya.
Sementara kini Lanang dan Yara baru saja memasuki kamar karena baru saja sampai.
"Kamu berbaringlah di ranjang, akan aku minta buk Tati membuatkan bubur untuk mu,"ucap Yara mendudukkan Lanang ditepi ranjang dengan sangat terpaksa.
Lanang bangkit dan menolak untuk tidur disana, belum lagi ia sungguh tidak ingin merepotkan nya.
"Saya baik-baik saja nyonya, saya hanya perlu beristirahat di sofa saja maka semua akan baik-baik saja."
"Jangan bandel, Kenapa kamu tidak pernah menurut saat aku mengatakan sesuatu? Cepatlah berbaring disana!"
Lanang menggeleng karena ia sungguh tidak ingin berbaring disana . Ia tidak nyaman dan sangat sangat tidak ingin.
__ADS_1
"maaf nyonya, saya sungguh tidak bisa tidur disana!"
Tuk,
Yara dengan cepat menarik tangan Lanang dan mendorong nya keatas tempat tidur hingga Lanang kini sudah berhasil berbaring.
"Aku sedang lelah hari ini, mohon untuk menurut lah padaku, kalau mau membangkang besok saja."
Setelah mengatakan itu Yara turun kebawah untuk menemui buk Tati dan meminta untuk dibuatkan bubur.
Yara diam menunggu buk Tati dengan hati yang masih saja tidak bisa tenang, ingatan perkataan mereka masih saja terngiang-ngiang dipikiran Yara. Ia sangat takut bagaimana jika ia benar-benar akan mengalami hal yang sama dengan gadis tadi?.
"Non, "panggil buk Tati sejak tadi namun Yara masih saja bengong.
"Non!"
Buk Tati dengan pelan menyentuh bahu Yara hingga gadis itu tersadar "Eh iya buk!"
"Buburnya sudah selesai non begitu juga dengan teh nya, apa non baik-baik saja? Kenapa non terlihat sangat lelah hari ini?"
Yara tersenyum dengan paksa kearah buk Tati "Maklum lah buk pekerjaan di kantor terkadang juga sangat melelahkan heheh,"ucap Yara pelan beralasan.
"Non jangan terlalu memaksakan diri, bagaimana jika nona sendiri juga ikut sakit seperti Aden Lanang?"
"Baiklah buk terima kasih perhatian nya, saya keatas sekarang juga yah!"
"Salam sama den Lanang semoga secepatnya sembuh,"ucap buk Tati dan dibalas anggukan oleh Yara yang kini sudah mulai naik keatas.
"Makanlah bubur ini dan minumlah obatmu , semoga secepatnya demam mu mereda."
Yara meletakkan bubur itu di atas nakas dan Lanang hanya bisa menuruti karena tidak ingin gadis itu benar-benar semakin lelah karena nya.
Yara sendiri langsung saja berjalan menuju sofa setelah memberikan bubur itu kepada Lanang.
...🍄 Bersambung🍄...
Wahhh kasian banget Yara, kalau begitu sih mentalnya pasti benar-benar terguncang.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1