
...🍬 Soundtrack this part #Crosswalk- Jo Kwon (2AM)🍬...
...💌 Jangan pernah ceritakan keluh deritamu, teruslah simpan hingga dunia mengira kaulah makhluk yang paling bahagia💌...
Sejak tadi Lanang menahan agar ia tidak memuntahkan makanan yang dimasak oleh Yara tadi, benar-benar tidak nyaman diperutnya dan begitu juga dengan tenggorokan nya.
Karena saat ini Yara sedang berbenah diri untuk berangkat ke kantor Lanang keluar lebih dulu dari kamar sembari mengantarkan nampan berisi mangkuk dan gelas itu.
Di dekat pantry Sinen dan Atun sedang sibuk merapikan dapur , mereka langsung menjaga sikap saat melihat Lanang datang kesana.
"Apa aden butuh sesuatu? Mau disiapkan sarapan?" Tanya Sinen dengan wajah sok ayu.
Lanang menggeleng sembari meletakkan nampan itu diatas pantry dan kedua manusia itu langsung berteriak pelan karena kaget melihat mangkuk berisi sup buatan Yara tadi kini sudah kosong padahal tadi itu sangat penuh hingga hampir tumpah-ruah.
"Ada apa? Kenapa?" Kaget Lanang.
"Apa Aden menghabiskan sup buatan nona Yara?" Tanya Atun dengan cepat.
Lanang mengangguk pelan dan reaksi kedua gadis itu langsung berubah masam, mereka benar-benar tidak habis pikir dengan lidah Lanang. Kenapa ia bisa sanggup menghabiskan itu?.
"Apa tuan benar-benar menghabiskan semuanya? Tidak dibuang kan?"
Lanang menggeleng dengan cepat "Saya menghabiskan nya. "
"Tunggu sebentar den, saya buatkan teh manis untuk menghilangkan rasa aneh itu. Sedangkan satu sendok saja masih terasa bagaimana sampai semangkuk penuh? Bisa-bisa aku akan tewas di tempat!" Atun langsung saja bergumam dan langsung disenggol oleh Sinen karena Lanang bisa mendengar itu.
"Saya bangga dengan istri saya, dia tersenyum saat memberikan itu kepada saya . Rasanya menjadi enak dan tak terasa saya menghabiskan nya ." Lanang tersenyum saat mengatakan itu.
Jantung Atun dan Sinen langsung tidak aman karena melihat senyuman itu, belum lagi Lanang benar-benar sweet saat menceritakan Yara yang memasak makanan untuk nya. Padahal tidak enak sama sekali.
"Walaupun begitu harusnya Aden tidak usah menghab,,,"
"Ssttt,," Lanang menghentikan Atun yang hendak berbicara karena mendengar pintu kamar terbuka.
"Saya pamit yah. Lanjutkan saja pekerjaan kalian dan tolong yah rahasiakan dari istri saya. Katakan saja masakan nya adalah masakan terenak di dunia hehehe ."
"Ya tuhan, bagaimana caranya bernafas? Aku lupa !"
" Kenapa aden semakin terlihat berkarisma saja? Dia juga sangat bucin."
Kedua gadis itu dibuat mabuk kepayang oleh Lanang yang bahkan tidak pernah memberikan mereka harapan.
Pagi ini mood Yara benar-benar sangat baik dan semua yang ada didepan matanya sangat indah menurut nya, Lanang sendiri sampai bingung karena baru kali ini mereka memulai pagi tanpa omelan seorang Yara.
"Kita berangkat Sekarang nyonya?" Tanya Lanang dan langsung dianggukan oleh Yara. Biasanya gadis itu akan marah saat ia bertanya.
"Saya tidak duduk disana," ucap Yara hingga Lanang kebingungan.
Biasanya Yara memang duduk dikursi belakang namun kali ini ia menolak dan malah membuka sendiri pintu depan dan duduk tepat disamping kursi kemudi.
Lanang hanya diam saja menatap bingung namun ia segera menjalankan mobil , karena Yara sedang mood Lanang tidak ingin mood gadis itu rusak hanya karena ia yang mencari gara-gara.
"Apa ada yang mengganggu pikiran nyonya? Sejak tadi nyonya terlihat sedang berpikir keras," tanya Lanang karena melihat Yara tersenyum sembari memikirkan sesuatu.
"Ahh aku sedang berpikir hendak memasak apa lagi nanti? Aku jadi ketagihan memasak karena kalian sangat menyukainya." Ucap Yara dengan senang.
"Mampussss, bagaimana ini? Bagaimana cara menyadarkan nya? " Batin Lanang menjadi serba salah.
__ADS_1
Awalnya ia berniat menjaga perasaan Yara agar tidak tersinggung makanya ia mengatakan kalau masakan Yara itu enak . Tapi siapa sangka Yara malah semakin tidak tahu diri.
"Apa kamu punya saran untuk menu makanan?" Tanya Yara.
Lanang langsung gelagapan memikirkan jenis makanan yang mudah untuk dimasak dan tidak memerlukan teknik yang rumit.
"Hmmm bagaimana kalau Nyonya memasak mie saja?"
Yara mengeryit " Loh, kenapa kamu meminta hal sederhana seperti itu? Seharusnya kamu merekomendasikan makanan lain seperti rendang, semur dan juga beberapa jenis makanan basah lainnya."
Lanang semakin merasa ini sungguh gila, gadis itu kenapa tidak sadar juga? Ya tuhan Lanang benar-benar dibuat stress.
Pagi-pagi sekali seperti biasa Lean akan berangkat menuju kantor Yara lebih dulu kemudian ia akan datang ke perusahaan nya dan begitulah kebiasaannya setiap pagi sedari dulu .
"Kamu urus saja berkas diatas meja yang sudah saya siapkan itu, kamu hanya perlu mengirimkan nya saja karena sudah saya periksa semua. Sebentar lagi saya akan menyusul jadi persiapkan semuanya,"tutur Lean kemudian mematikan sambungan telepon.
"Hmmm mari kita lihat penampilan si ganteng ini,"ucap Lean berkaca dikaca mobilnya sendiri sembari berpose beberapa gaya seolah ia adalah seorang model.
"Wahh bagaimana bisa ada manusia sesempurna dirimu Lean? Siapa saja yang melihat mu akan langsung jatuh bahkan laki-laki pun iri dengan mu."
Siapapun yang melihat itu pasti akan mengira Lean memiliki gangguan mental, dia memiliki kepedean diatas rata-rata dan sudah melewati kadarnya.
"Baiklah si ganteng akan berangkat menuju sang pujaan hati sekarang."
Lean meninggalkan rumah dengan sedikit bersiul , sepertinya setiap pagi Lean tidak pernah melaluinya dengan kesedihan karena ia selalu saja bersemangat setiap pagi.
"Nanti makan apa yah? Hmmm aku bingung harus makan apa dengan Yara nanti," gumam Lean terus saja berbicara dan terus menyetir.
"Loh?"
"Kamu,,," Lean turun dari mobil dan menghampiri Hana yang kaget karena melihat Lean.
"Pak Lean!"
"Hana bukan?"
"Iya pak saya Hana, kenapa bapak bisa ada disini?"
"Saya memang tinggal dilingkungan ini Han, apa kamu sedang menuju studio?"tanya Lean melihat tangan Hana yang dipenuhi beberapa peralatan.
"Iya pak saya sedang menuju studio," ucap Hana pelan.
"Bagus, saya juga hendak ke pusat perbelanjaan milik Yara. Bagaimana kalau kita barengan saja?"
"Tidak usah pak,saya tidak ingin merepotkan bapak."
"Hmm yang bilang kamu merepotkan siapa ? Kamu emang gak minat gitu barengan sama cowok seganteng saya?"
Hana tertawa pelan karena Lean sungguh laki-laki yang sangat humoris. Ia yang awalnya canggung Langsung merasa nyaman disekitar Lean.
"Ba,, baiklah pak, terima kasih banyak."
Hana langsung masuk saat Lean membukakan pintu mobil dengan sopan untuknya, ia benar-benar mengacungi jempol kesopanan Lean.
"Wahh dia tak hanya Tampan, dia juga bahkan memiliki sikap yang baik." Hana sempat kagum namun ia segera sadar bahwa hanya Lanang yang menguasai hatinya sepenuhnya.
"Bagaimana kerja di studio? Apakah melelahkan?"
__ADS_1
Hana dengan cepat menggeleng karena ia benar-benar merasa nyaman disana, ada Lanang adalah poitn paling utama dan lainnya juga demikian.
"Saya sangat nyaman berada disana pak, apalagi ada mas Lanang disana hehehe."
Lean melirik sekilas kearah Hana yang tersenyum saat menyebutkan nama. Lanang dan seolah ia tahu apa yang terjadi saat ini.
"Kalian berpacaran?"
"Ha?"
"Kamu dan Lanang apakah berpacaran?"
"Ti,, tidak pak. Bagaimana bisa bapak berpikir seperti itu ," pipi Hana langsung blushing karena mendengar itu dari Lean.
Lean sampai kaget karena Hana mengelak dengan kekuatan volume Paling tinggi" Yasudah kalau tidak, kamu tidak perlu heboh seperti itu ." Senyum Lean yang faham kalau saat ini Hana sedang malu.
Mereka tak hentinya berbicara banyak hal dan saling bertukar cerita sepanjang perjalanan hingga sampai akhirnya mereka tiba ditempat tujuan.
"Semangat kerja nya yah Han hehehe," Lean berbicara dengan nada manis sembari keluar lebih dulu dari mobil begitu juga dengan Hana yang ikut keluar.
"Loh?"
Yara dan Lanang yang baru saja sampai kaget melihat Lean dan Hana yang turun dari mobil secara bersamaan.
Hana langsung menunduk karena tidak sanggup melihat wajah kaget Lanang, ia takut Lanang salah faham.
"Bagaimana ini? Apakah mas Lanang salah faham mengira aku mendekati pak Lean." Batin Hana merasa gelisah.
"Wahh ada apa ini? Kenapa kalian berdua bisa datang bersamaan?" Tanya Yara yang merasa harus bertanya karena tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Hana langsung maju dan meminta maaf "Maaf buk tolong jangan salah faham, pak Lean hanya ingin membantu saya karena kami bertemu ditengah jalan jadi pak Lean memberikan tumpangan."
Yara mengeryit bingung "Kenapa kamu menjelaskan itu kepada saya? Saya kan hanya bertanya saja."
"Sa,,saya hanya.."
"Sudahlah Yara, lihat dia sampai takut begitu karena mu,"ucap Lean tersenyum dan menepuk pundak Hana dengan pelan.
"Nah, makanya itu. Kenapa dia takut padaku?"
Yara benar-benar sangat jengkel dengan Hana, sejak pertama bertemu saja dia sudah tidak suka karena Hana memanggilnya dengan panggilan ibu dan sekarang ia bahkan membuat Yara terlihat seperti orang jahat saja.
"Baiklah, terserah mu saja kenapa sampai takut pada saya, sekedar info saya masih selera melihat nasi bukan daging manusia." Yara pun berlalu begitu saja dan langsung diikuti Lean.
"Saya permisi yah, selamat bekerja!" Lean menyemangati Hana juga Lanang yang langsung mengangguk hormat.
"Mari ke studio Han," ucap Lanang yang berjalan menuju studio dan tidak lupa membawakan beberapa barang yang dibawa Hana.
Hana sendiri mengikuti dari belakang dengan perasaan yang tidak enak karena mengira Lanang pasti salah faham. Sedangkan Lanang sendiri tidak memikirkan itu sama sekali.
...🍄 Bersambung🍄...
Empat sisi yang sesungguhnya ini mah? Kalian milih kapal yang mana nih gaes?.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1