Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 38: Kecanggungan yang tiada akhir.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #Missing my love-Donell Lewis🍬...


...💌 Bahkan ketika kamu sedang tidak baik-baik saja bisakah kamu tetap tersenyum?💌...


      Sejak membuka mata Lanang merasa sangat tidak nyaman karena hawa yang terasa semakin dingin dan kepalanya begitu berat dan bukan hanya itu ia mulai merasa berkunang-kunang dan sedikit bersin-bersin dipagi hari itu.


Untuk bangkit saja ia harus bersusah payah karena pusing dan juga serasa sedang mengalami gejala demam.


"Kenapa dengan mu?" Tanya Yara yang baru saja keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama yang sudah ia balutkan ditubuhnya.


Yara sudah memutuskan untuk tetap bersikap seperti biasa, ia akan memasang wajah tembok bila perlu karena ia memang sudah terlanjur memperlihatkan sisi memalukan dari dirinya.


Lanang yang kini sedikit merasa canggung kepada Yara karena kejadian malam itu, ia benar-benar hilang akal dan menjamah tubuh gadis yang menjadi istri kontrak nya itu.


"Sa,,saya ha,,"


Ucapan Lanang seketika terhenti saat melihat leher Yara yang dipenuhi bekas kemerahan dan itu benar-benar terpampang jelas meskipun Yara mengenakan pakaian berkerah nantinya itu akan tetap terlihat dengan jelas.


"Kenapa dengan mu? Wajahmu terlihat sangat pucat."


Yara langsung menyadari bahwa saat ini Lanang sungguh sedang tidak baik-baik saja karena wajahnya benar-benar pucat dan matanya terlihat sayu.


Lanang masih merutuki kebodohan nya karena sudah meninggalkan bekas kecupan gila itu disana, ia merasa bersalah dan juga merasa kalau ia benar-benar sudah bersikap tidak wajar kepada Yara.


"Kenapa aku bisa segila itu tadi malam? Harusnya aku bisa menahan nya!" Batin Lanang.


Yara melihat Lanang menggeleng dengan wajah khawatirnya ia mendekat kearah Lanang dan memegang kening laki-laki itu dengan lembut.


Lanang langsung menghindar dan menjauh dari Yara hingga Yara sedikit tersentak kaget kenapa tiba-tiba sekali Lanang bersikap begitu aneh.


"Kenapa kamu sangat panas? Kamu sepertinya sedang demam."


Lanang menggeleng dengan cepat dan meraih handuk yang tidak jauh darinya "Sa,,saya baik-baik saja nyonya!"


Lanang tidak menunggu Yara berbicara lagi dan langsung masuk kedalam kamar mandi karena tidak sanggup dengan situasi canggung yang dihadapinya saat ini.


"Kenapa dengan nya? Sudah jelas sedang demam begitu malah tidak mengaku,"ucap Yara buru-buru memakai pakaian nya.


Setelah itu ia turun kebawah menuju dapur untuk menemui Sinen ataupun Atun kalau perlu buk Tati untuk membuatkan bubur untuk Lanang.


"Sinen,Atun?" Panggil Yara mencari keberadaan mereka di dapur namun mereka tak kunjung datang.


Papah yang baru saja datang dengan Azri yang sudah selesai dengan pakaian sekolahnya serta tas itu menghampiri Yara.


"Ada apa sayang? Kenapa mencari mereka?"


"Mas Lanang terlihat sangat tidak enak badan pah, aku mencari mereka untuk membuatkan bubur untuk mas Lanang. Aku pernah mencoba memasak namun masakan ku tidak enak,"ucap Yara dengan jujur.


Ia masih ingat karena masakannya Lanang hampir saja kehilangan nyawanya. Ia tidak ingin lagi membahayakan Lanang hanya karena masakannya.


Papah tersenyum mengangguk dan melihat kearah leher Yara yang dipenuhi bekas kemerahan itu.

__ADS_1


"Wahh menantu ku walaupun sedang sakit ternyata seganas itu yah sayang? Papah jadi ragu dia butuh bubur atau malah hal lainnya?"


Yara mengeryit kebingungan dengan maksud dari pernyataan papah"Maksud papah apa? "


Azri saja langsung tau maksud papah karena melihat bekas itu juga dan ia sudah tidak bisa lagi menahan senyumnya karena kepolosan kakaknya yang sama sekali tidak sadar akan hal itu.


"Kenapa kamu tersenyum? Apa yang lucu hah?" Kesal Yara hingga nyali Azri langsung ciut.


"Kenapa malah memarahi adikmu hmm? Kamu tanyakan saja kepada suamimu apakah dia membutuhkan bubur atau malah hal lain?" Goda papah .


"Ihh papah apaan sih? Ngomong kok gak jelas gitu? Ngeselin,"ucap Yara kesal.


Tiba-tiba saja Sinen dan Atun baru saja masuk dengan beberapa perbelanjaan ditangan mereka. Yara yang melihat itu langsung menghampiri mereka berdua mengabaikan papah yang hendak berbicara itu.


"Sampaikan salam papah semoga menantu secepatnya Sem,,"


Ucapan papah langsung terpotong saat Yara berlari menuju Atun juga Sinen.


"Anak itu, semenjak suaminya datang sangat sering mengabaikan papahnya ini,"ucap papah tersenyum.


"Mari berangkat saja, menantu pasti akan secepatnya sembuh karena mbak mu lah yang merawatnya!"


Azri dan papah langsung berlalu meninggalkan Yara yang dengan panik mendekati Atun juga Sinen.


"Ada apa nona? Kenapa Nona terlihat sangat khawatir?"


"Aa cepat buatkan bubur sekarang juga! Mas Lanang sedang kurang enak badan," ucap Yara dengan cepat.


Mereka saling memandang dan tersenyum saat melihat banyak sekali bekas kemerahan dileher Yara dan itu benar-benar terpampang sangat jelas. Siapapun yang melihat itu akan tahu bahwa itu adalah tanda kepemilikan yang dibuat oleh Lanang.


"Kenapa kalian malah tersenyum? Kalian sudah gila ha? Suamiku sedang sakit apa yang membuat kalian tersenyum?" Kesal Yara karena sejak tadi orang rumah tersenyum karena mendengar Lanang sakit.


"Ma,, maaf Nona, akan segera kami siapkan!" Ucap mereka bersamaan dan langsung bergerak.


Yara hanya diam saja menunggu disana.


"Wahh den Lanang ternyata sangat ganas yah tun? Akhh bisa gila aku!"


"Iya nen, Aku jadi kepikiran kemana-mana pas ngeliat tanda dileher non Yara,"ucap Atun tersenyum.


"Akhh, jangan lupa buatan teh hangat juga yah!"


"Baik Nona."


Mereka kemudian kembali fokus bekerja dan sesekali bergosip ria tentang majikan nya itu.


"Bahkan saat sedang sakit saja den Lanang benar-benar sehebat itu, apalagi saat sedang sehat berapa ronde yah kira-kira?" Atun tersenyum membayangkan nya.


"Sudahlah cepat selesaikan nanti Nona memarahi kita!"


Lanang sedang bersiap-siap dengan memakai kemejanya dan sedikit merapikan rambutnya. Wajah pucat itu terlihat dikaca namun Lanang mencoba mengabaikan itu karena ia benar-benar merasa masih sanggup untuk bekerja hari ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu sudah rapi begitu?" Tanya Yara yang datang dari bawah sembari membawa nampan dengan bubur dan teh hangat.


"Saya kan masuk kerja hari ini nyonya,"ucap Lanang pelan dengan sedikit canggung.


"Kamu sedang sakit jangan kemana-mana dulu, tidak bisakah kamu libur hari ini ?"


Lanang menggeleng dengan cepat "Saya tidak bisa nyonya, karena masih banyak kerjaan menumpuk disana!"


"CK, bandel banget sih! Yasudah kamu sarapan dulu siapa tahu mendingan," ucap Yara mendekat kearah Lanang.


"Sa,,saya sungguh tidak apa nyonya, dan saya sedang tidak berselera untuk makan!"


Yara mendengus kesal karena mendengar Jawaban Lanang, dengan pelan ia meletakkan nampan diatas meja dan mendekat kearah Lanang.


"Jangan bandel, ini bukan bubur buatan ku jadi jangan takut rasanya pasti enak,"ucap Yara memaksa Lanang untuk duduk diatas sofa.


Lanang menggeleng karena bukan itu alasannya menolak, ia hanya merasa tidak nyaman dengan situasi saat ini. Mereka berdua terasa canggung atau hanya Lanang saja?.


"A,,aku sungguh tidak lapar nyonya!"


"Sudahlah aaa buka mulutmu," ucap Yara menyodorkan satu sendok bubur dan mau tidak mau ia harus setuju untuk memakannya.


Namun ia tiba-tiba tersedak karena lagi-lagi melihat bekas dileher Yara. Apa gadis itu sengaja atau ia tidak menyadari itu?.


"Pelan-pelan! Tadi kamu menolak sekarang malah tidak sabaran," ucap Yara memberikan teh hangat itu.


"Tunggu nyonya, saya ingin mengambil sesuatu sebentar!"


Lanang menolak suapan selanjutnya dan bangkit berjalan menuju ruang ganti mengambil sebuah syal dari kopernya yang mana syal itu adalah syal pemberian adiknya saat ia hendak ke kota dahulu.


"Permisi nyonya," ucap Lanang melilitkan syal itu dileher Yara hingga gadis itu menjatuhkan sendok dari tangannya.


Jantung nya berdetak sangat kencang karena perlakuan Lanang yang tiba-tiba memasangkan syal dilehernya.


"A, apa maksud nya ini?" Tanya Yara pelan.


"Maafkan saya nyonya, maaf karena sudah membuat leher nyonya dipenuhi dengan bekas perbuatan saya. Dengan syal ini bekas itu tidak akan terlihat lagi,"ucap Lanang dengan sopan.


"Be,, bekas? Bekas apa?"


Yara bangkit dan membuka syal itu, dia kaget saat melihat banyak sekali bekas kemerahan di lehernya.


"Ke,, kenapa ini ada disini? Dan kenapa banyak sekali?" Gumam Yara pelan dan Lanang bisa mendengar itu.


...🍄 Bersambung🍄...


Hahaha Lanang kamu tanggungjawab maz.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2