
^^^🍬Soundtrack #Hurts so good-astrid s🍬^^^
...💌Kita dan segala ketidakmampuan kita dan beberapa presepsi orang-orang yang di sekeliling kita💌...
Yara duduk dikursi penuh kebesaran yang ia perjuangkan sejak dahulu, banyak sekali kisah yang sudah ia lalui untuk bisa duduk disana. Banyak waktu dan momen yang sudah ia lewati hanya demi tahta itu.
Sejak muda Yara sudah menggila dalam urusan bisnis hingga menghalau semua yang ada didepan nya. Baik itu urusan percintaan dan semacamnya Yara sungguh sangat tidak memperdulikan itu karena berfokus pada bisnis dan bisnis hingga sang ayah mulai resah melihat Yara.
Gadis itu terlalu tertutup dalam urusan asmara nya, tidak pernah menunjukkan sikap bahwa ia sedang kasmaran, jatuh cinta dan bahkan sangat sulit untuk berekspresi. Ayahnya takut putrinya akan menjadi perawan tua dan tidak akan pernah menikah karena terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan juga karir nya.
Hingga suatu hari sang ayah pun mengancam Yara dengan ancaman tidak akan mendapatkan warisan sepeserpun karena tidak mau menikah. Jelas Yara sangat tidak Terima dengan ancaman itu.
Apalagi mengingat saat ini dirumah mereka sudah hadir Ibu tiri dengan putranya yang kini berusia 16 tahun dan telah menduduki bangku SMA. Kalau Yara tidak mendapatkan sepeser pun harta warisan otomatis mereka akan menguasainya. Dan Yara sungguh tidak bisa mentolerir itu apalagi sejak awal ia memang sudah tidak menyukai kehadiran mereka.
Dengan berat hati ia pun mencari cara untuk mendapatkan calon suami secepatnya agar ayahnya berubah pikiran dan tidak mengatasnamakan semua aset dengan nama adik tirinya itu.
Dan bertemu lah ia dengan lanang, dengan berbagai macam cara ia berhasil membawa laki-laki berusia 19 tahun bertubuh gagah itu untuk diperkenalkan kepada ayahnya sebagai calon suaminya.
Ayahnya awalnya sangat bingung dengan situasi itu, bagaimana bisa putrinya membawa calon suami yang umurnya terpaut jauh lebih muda 11 tahun darinya yang kini berusia 30 tahun.
Namun, karena akting Yara yang luar biasa ayahnya yakin dan langsung setuju dan memang ayahnya adalah tipe orang yang tidak terlalu perduli tentang kasta. Kalau menurut nya layak maka ia tak akan mempermasalahkan latar belakang nya lagi. Apalagi melihat sosok lanang yang sangat sopan dan pekerja keras itu ia langsung suka.
Tok.
Tok.
Yara yang sedang merenung itu kaget dan langsung membenahi posisi nya saat itu.
"Masuk! "
Seorang pria memakai jas berwarna abu-abu dengan setelan lengkap celananya tidak lupa dengan sepatu berwarna hitam mengkilap seolah baru saja di semir sebelum masuk kedalam ruangan itu.
"Morning cantik!! " Senyum genit seperti biasa dilayangkan oleh pria itu kearah Yara hingga gadis itu bergidik ngeri.
Gadis itu langsung memasang wajah datar seolah tidak menggubris godaan laki-laki dihadapan nya itu.
"Tiang amat neng, gak takut tuh tiba-tiba lumpuh? "
"Harap berlaku sopan saat sedang diruangan saya! Apalagi saat ini sedang ada jam kerja. "
Laki-laki itu langsung memasang wajah bete karena respon Yara selalu saja sama setiap ia mencoba hal baru untuk menarik perhatian gadis freezer itu.
"Dahlah, gak asyik lu ah. "
"Keluar atau saya suruh satpam yang ngeluarin kamu! "
__ADS_1
"Yaelahh buk, adem dong kalau kurang adem kita minum adem sari dulu gimana? "
"KAMU PIKIR SAYA SEDANG SARIAWAN YAH! "
"Aduhh busett makin di semprot aja nih gue, canda doang neng. Serius amat dah. "
Yara memutar bola mata malas karena sangat malas menghadapi laki-laki dihadapan nya itu. Diladenin dengan cara apapun ia tak akan bisa dilawan. Dikasarin sekalipun tetap aja keukeuh gak mau kalah.
"Jadi gini nih buk Yara yang terhormat, mengenai produk baru yang akan diluncurkan kenapa tiba-tiba ditunda? "
"Bagian pengembangan mengalami beberapa kesulitan saat merancang nya, secepatnya akan kami kabari. "
Yara ikut duduk didepan laki-laki itu sembari meletakkan segelas kopi instan yang baru saja ia buat sembari menjelaskan beberapa masalah yang baru saja ia proses pagi tadi.
"Bagaimana dengan tanggal peluncuran yang sudah kita tetapkan? "
"Sudah saya kirimkan surat resmi keputusan dan permohonan melalui sekretaris saya. Apakah kamu tidak membacanya? " Yara melirik curiga kearah laki-laki itu.
"Se, sedang ingin kubaca heheh. Tunggu sebentar! "
Laki-laki itu meminta filenya dan langsung membaca nya dengan seksama sedang Yara hanya bisa menggeleng tak habis pikir sampai kapan pria itu akan serius dalam bersikap.
Laki-laki itu adalah salah satu sponsor dan seorang pemilik perusahaan bahan jadi dan mentahan untuk keperluan pengembangan produk di pusat perbelanjaan milik Yara.
Lean sudah lama memiliki perasaan lebih kepada Yara, hanya saja ia tak ingin memperlihatkan itu dan memang sedang menunggu waktu yang tepat. Sampai kini ia masih belum menemukan waktu yang tepat karena gadis itu sungguh sangat susah untuk ditebak sikapnya.
Yara sendiri sama sekali tidak menyadari itu, baginya Lean adalah sahabat sekaligus kolega nya dalam berbisnis dan tidak lebih dari itu. Apalagi melihat sikap laki-laki itu mungkin untuk ia menyukainya akan sangat sulit.
"Nanti makan siang kita makan di Aeri cafe yah? Katanya mereka baru aja ngeluarin produk baru. "
"Hmmm terserah! "
Yara sangat tidak ingin berdebat dengan Lean, kalau saja ia menolak dengan berbagai alasan sekalipun ia tak akan bisa karena laki-laki itu sungguh sangat pemaksa orang nya. Kamu tidak akan bisa kalah jika berhadapan dengan Lean.
"Kamu kenapa sih? Ada masalah apa sampai terlihat sangat uring-uringan begitu? "
"Tidak ada, aku baik-baik saja! "
Kini mereka sudah berbicara dengan mode teman, mungkin Yara memang sedang tidak moof untuk berbicara formal saat ini.
"Seriously? Tapi kenapa wajahmu sejak tadi terlihat seperti menyimpan banyak sekali masalah? "
"Aku tidak apa Lean! Berhenti bertanya untuk sesuatu hal yang berulang. "
"Kamu nih selalu saja berkata tidak apa-apa. Jangan biasain deh nyimpen masalah sendiri, sesek baru tau rasa. "
__ADS_1
"Sudahlah kamu tidak usah ceramah segala, aku sedang tidak mood mendengar ceramah mu. "
"Hmmm baiklah, terserah mu saja. Kalau ada masalah kamu cerita saja kepada ku, aku siap jadi pendengar untuk mu. "
"Hmmm, " Gumam Yara yang sangat tidak ingin berbicara banyak hal saat ini.
Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, ia benar-benar bingung dan pusing tanpa sebab.
Banyak hal yang berputar-putar diotak nya, banyak hal yang sangat ingin ia bereskan tapi tidak tahu ingin memulai nya dari mana.
Semenjak hari dimana ia menikah ia semakin banyak melamun dan bingung bagaimana ia akan bersikap kedepannya.
Bagaimana jika ia ketahuan sedang bersandiwara dengan lanang? Bagaimana jika ayahnya sampai tau da benar-benar kecewa dengan nya?.
"Akhh,, "
"Kenapa? Ada masalah apa? "
Lean yang sedang sibuk melihat instagram miliknya sembari tersenyum dan bergumam dalam hati "Gilee ganteng banget gue! "
"Kenapa hmmm? "
Yara langsung terdiam karena ia sendiri tak sadar kenapa ia bisa berteriak frustasi seperti tadi.
"Tidak ada! "
"Tidak ada apaan? Tadi kamu teriak kok! "
"Sudahlah diam saja, aku sedang tidak ingin diganggu! "
"Kamu kenapa hmmm? "
"DIAM! "
Lean langsung diam karena Yara sungguh sedang tidak mood saat ini.
...🍒Bersambung🍒...
Lean sape nih? Koran baru huhuyyy.
Jangan lupa yah like, komen dan votenya wan kawan heeheh.
See you guys 🧀
__ADS_1