
...🍬 Soundtrack this part #line without a hook -Ricky montgomery🍬...
...💌 Bahkan saat aku benar-benar sudah menyerah,bisakah aku masih berharap sedikit harapan?💌...
Yara terbangun saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang tentu saja di dalam sana adalah Lanang yang sedang mandi.
"Eugh, apa demamnya sudah mendingan?" Batin Yara pelan lalu bangkit dari tidurnya.
Ia melirik kamar dan peralatan kompres sudah tidak ada disana, ia yakin pasti Lanang lah yang membereskan semuanya.
"Kenapa dia langsung banyak bergerak sih? Bukankah ia sedang sakit?"
Yara bangkit dari tempat tidur dan membereskan kembali agar terlihat rapi setelah itu ia turun kebawah untuk menemui buk Tati dan juga Atun serta Sinen.
"Buk, Tolong buatkan bubur untuk mas Lanang yah jangan lupa dengan teh nya," ucap Yara yang memilih untuk tidak turun dari tangga karena melihat buk Tati yang sedang lewat.
"Baik non, segera saya siapkan!"
Setelah mengatakan itu Yara berjalan kembali ke kamar dan melihat Lanang yang keluar dari kamar mandi dan sudah lengkap dengan pakaian nya .
"Bagaimana demam mu? Apakah sudah turun?" Tanya Yara pelan mendekat kearah Lanang.
Seketika darah Lanang berdesir saat Yara dengan lembut menyentuh dahinya untuk memeriksa keadaan Lanang.
"Hmmm masih terasa hangat, kamu libur saja hari ini dan aku akan meminta cuti untuk mu kepada bosmu di studio,"ucap Yara dengan cepat.
Lanang buru-buru menggeleng karena ia merasa sudah sangat baikan , ia bukanlah laki-laki lemah yang mudah tumbang hanya karena demam saja. Yara saja yang terlalu membesar-besarkan nya seolah Lanang adalah seseorang yang mudah tumbang
"Saya sudah sembuh nyonya dan saya memang berniat untuk bekerja hari ini,"ucap Lanang dengan cepat.
"Ck, kenapa kamu bandel sekali sih dibilangin? Kamu masih sakit dan butuh istirahat lebih lagi."
"Saya benar-benar baik-baik saja nyonya, dan saya akan lebih baik lagi jika beraktivitas hari ini karena jika saya berkeringat maka akan semakin cepat untuk sembuh."
"Kamu sangat susah untuk diberitahu, aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana harus mengatakan nya padamu."
"Nyonya tidak perlu khawatir karena saya benar-benar sudah sembuh berkat perawatan nyonya yang begitu baik. Terima kasih banyak nyonya,"ucap Lanang dengan senyuman penuh kebahagiaan.
Yara yang melihat itu langsung bersikap kikuk karena Lanang tahu kalau ia diam-diam memperhatikan nya.
"Si,,siapa juga yang merawat mu? " Elak Yara karena tidak ingin Lanang tahu itu.
"Nyonya tidak perlu menyembunyikan nya, saya tahu kalau nyonya merawat saya semalaman bukan? Maaf karena sudah merepotkan nyonya!"
__ADS_1
"Permisi non!"
Yara yang mendengar itu langsung berlari menuju pintu karena buk Tati benar-benar menyelamatkan nyawanya ia sudah diburu rasa khawatir bagaimana ia akan menghadapi Lanang yang tahu kalau ia memperhatikan nya.
"Terima kasih buk,"ucap Yara pelan kemudian menutup pintu setelah buk Tati mengangguk.
"Kamu makanlah lebih dulu setelah itu minum obatmu," ucap Yara meletakkan nampan berisi bubur dan teh itu dihadapan Lanang.
Lanang tersenyum karena bagaimanapun Yara mengelak tetap saja perhatiannya terlihat. Seperti saat ini gadis itu bahkan memesankan bubur dan teh untuk Lanang.
"Saat ini saja nyonya sedang merawat saya hehe," ucap Lanang tersenyum pelan.
"Kamu tidak mau yah?" Ancam Yara hendak merebut bubur itu namun langsung ditahan oleh Lanang.
"Sa,,saya jelas mau nyonya, jarang sekali mendapatkan bubur pesanan dari nyonya heheh."
"Apaan sih gak jelas banget jadi orang,"ucap Yara pelan berjalan menuju kamar mandi.
"Habiskan sampai bersih, Jangan sisakan sedikit pun."
Lanang mengangguk tersenyum karena sikap perhatian Yara sungguh jarang ia lihat.
Yara sendiri memasuki kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri karena ia masih harus masuk ke kantor seharian.
"Wahh enak juga yah, apa karena ini adalah bubur pesanan nyonya Yara sehingga terasa sangat enak dan unik"ucap
Hana masih tidak bisa mengingat apapun yang terjadi malam itu antara dia dengan Lean , ingatan nya seolah terhapus tanpa sebab. Apa karena mereka sama-sama minum yah hingga tak ada satupun diantara mereka yang saling mengingat kejadian yang sebenarnya malam itu.
"Bagaimana ini mas? Apa sebenarnya yang terjadi?" Hana semakin panik karena sudah beberapa jam berlalu ia masih belum juga mengingat apapun.
"Aku juga tidak tahu dan tidak ingat sama sekali kenapa kita bisa berakhir seperti ini,"ucap Lean dengan pelan.
Hana menutup wajahnya dengan selimut dan menangis disana karena ia benar-benar tidak ingin ini terjadi, jelas-jelas pasti terjadi sesuatu diantara mereka berdua hingga kini mereka berakhir tanpa sehelai benangpun.
"Hei kenapa kamu menangis? "Panik Lean saat melihat Hana yang menangis tersedu-sedu dalam selimut itu.
Hana masih menangis karena ia juga tidak tahu harus bagaimana setelah ini, ia benar-benar tidak berpikir sampai sejauh ini. Ia bodoh karena sudah menodai cinta nya kepada Lanang. Kalau sudah begini Lanang pasti tidak akan mau dengan nya lagi.
"Hiks,," Hana semakin menangis membayangkan kalau sampai Lanang tau tentang ini dan ia akan dijauhi oleh laki-laki itu.
"Hei diamlah, jangan membuat ku semakin panik saja. Pasti tidak terjadi sesuatu diantara kita,"ucap Lean mencoba untuk menenangkan Hana.
Hana mengangkat wajahnya dan melihat kearah Lean . Wajah gadis itu sudah memerah karena habis menangis .
__ADS_1
"Benarkah mas? Benar tidak terjadi sesuatu diantara kita bukan? Tapi kenapa pakaian kita terlepas dan berserakan dimana-mana?" Tanya Hana menangis lagi.
Lean menggeleng dan mencoba untuk mengingat lagi, namun tetap saja ia tidak bisa mengingat apapun yang mengarah pada apa yang terjadi pada pagi buta ini.
"Bagaimana ini? Hiks,,apa aku sudah tidak suci lagi?" Tanya Hana pelan.
Lean melirik kearah Hana, gadis kecil dan lugu itu benar-benar terlihat sangat khawatir hingga kini Lean kembali dikurung rasa khawatir dan rasa bersalah.
Namun, Lean merasa ini bukanlah mutlak kesalahannya karena Hana laha yang memulai semua ini, gadis itu yang mengambil minuman berkadar alkohol tinggi itu dan meminumnya namun Lean juga salah karena tidak memberitahu gadis itu tentang minuman yang tidak boleh ia sentuh.
"Diamlah, aku akan bertanggungjawab jika ada sesuatu yang terjadi."
Hana melihat kearah Lean, ia sama sekali tidak ingin memiliki hubungan seperti itu dengan laki-laki lain. Ia tahu niat baik Lean tapi tetap saja iaasih kecewa jika ia dan Lanang tidak akan bisa bersatu karena kejadian ini.
"Hiks,, Tolong mas menutup mata . Aku ingin memakai pakaian ku!"
Lean langsung menurut dan menutup matanya karena tidak ingin membuat Hana tidak nyaman.
Hana langsung bergerak pelan meraih bajunya yang tidak terlalu jauh dan memakainya satu persatu dengan was-was takut Lean akan melihat kearah nya.
"Mas jangan ngintip yah! "
"A,,aku tidak akan mengintip mu, kamu tenang saja."
"Aku permisi mas,"ucap Hana meraih tas nya setelah ia selesai memakai pakaian nya.
"Tunggu! Aku akan mengantarmu kerumah mu,"ucap Lean hendak bangkit namun tidak jadi saat melihat tubuhnya masih polos di dalam selimut.
"Aku bisa pulang sendiri mas,"ucap Hana pelan.
"Aku akan mengantarmu!"
"Maaf mas, aku ingin sendiri saat ini. Permisi mas,"ucap Hana meninggalkan Lean yang mendengus pasrah itu.
"Bagaimana ini? Aku sungguh tidak ingat apapun mengenai masalah ini."
Lean begitu kaget dan juga khawatir dengan apa yang terjadi diantara dia dan Hana. Mereka benar-benar tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
...🍄Bersambung**🍄**...
Apa sih yang terjadi antara Lean dan Hana? .
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys 🧀