
...🍬 Soundtrack this part #love paranoia- luna🍬...
...💌Aku tidak tahu kapan rasa ini mulai tumbuh, yang aku tahu aku semakin terobsesi dengan mu💌...
Yara dengan cepat membawa Lanang menuju rumah sakit Padang laki-laki itu sejak tadi menolak untuk diperiksakan.
"Saya hanya terluka sedikit nyonya, tidak sampai harus diperiksakan ke dokter."
Yara menatap kesal kearah Lanang dan masih menarik tangan Lanang hingga laki-laki itu menurut dan berhenti untuk membantah karena Yara itu adalah gadis yang sangat keras kepala.
"Kamu diam saja, aku lebih tahu dari mu!"
Lanang mendengus pelan dan mengikuti Yara bak seorang anak kecil yang sedang ditarik oleh ibunya sendiri.
Yara duduk di kursi tunggu tanpa bersedia ikut masuk kedalam karena ia sungguh sangat tidak menyukai rumah sakit, ia hanya akan menunggu Lanang selesai diperiksa oleh dokter.
Ia duduk sembari memegang ponselnya melihat sudah pukul berapa saat ini, dan ia memang sedikit khawatir dengan keadaan Lanang.
"Semoga saja dia tidak mengalami demam parah,"gumam Yara pelan.
Ia sedikit kaget dengan dirinya akhir-akhir ini, Kenapa dia begitu perduli dengan Lanang dan seolah ia juga tidak bisa berpisah lama-lama dengan Lanang.
"Tidak, aku hanya mencemaskan dia sebagai seorang atasan saja. Bagaimana kalau demamnya parah maka ia tidak akan bisa mengantar jemput aku ke kantor, hanya itu saja tidak lebih."
Yara mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya rasa khawatir sebagai partner perjanjian saja.
Namun lagi-lagi ia mengingat kejadian saat ia merasa begitu kesal karena melihat Hana dan Lanang begitu dekat, ibarat kata Yara merasa Hana telah bersikap genit kepada suami orang. padahal kan pernikahan mereka hanya setingan biasa.
"Akhh itu,aku hanya tidak ingin saja Hana bersikap genit karena aku merasa malu jika perempuan seperti itu,"bela Yara namun kalau ditarik dengan dirinya sendiri ia bahkan lebih parah dibandingkan Hana.
Hana hanya tidak sengaja jatuh keatas tubuh Lanang sedang ia , ia bahkan menggoda Lanang dan juga memberikan obat yang tidak-tidak pada Lanang.
"Akhh sial, kenapa sih dengan ku?"
Matanya tertuju pada seorang ibu hamil yang sedang bersama dengan suaminya duduk dikursi tunggu yang lain.
Terlihat sekali mereka sangat serasi dan saling mencintai, suaminya mengelus pelan perut istri nya yang kian membuncit itu sembari mereka saling memandang dan saling tersenyum penuh kebahagiaan.
"Kamu jangan gugup sayang, semua akan baik-baik saja ," ucap suaminya sembari memegang tangan istrinya.
Yara membayang kan gadis itu adalah dia dan laki-laki itu adalah Lanang. Bukankah begitu bahagia jika ia benar-benar mengalami itu dan Lanang ada disampingnya?.
__ADS_1
Yara buru-buru menggeleng dan mencoba untuk tidak berpikir yang tidak-tidak karena itu benar-benar sangat sulit untuk ia capai apalagi Lanang sangat teguh dalam pendirian nya.
"Hmm mereka terlihat sangat bahagia, kapan aku bisa mengalami itu?" Gumam Yara pelan.
Kini pasangan itu memasuki ruangan bersamaan karena sudah saatnya giliran mereka.
Dan Yara juga melihat sepasang suami istri keluar dari sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruangan yang tadi.
Wajah mereka terlihat sangat lesu dan juga sangat tidak bersemangat dan seketika istrinya menangis dipelukan suami nya.
Yara benar-benar penasaran apa sebenarnya yang sedang terjadi disana. Kenapa mereka terlihat begitu terpukul setelah keluar dari ruangan itu.
Biasanya Yara tidak akan pernah tertarik dengan kehidupan orang lain namun akhir akhir ini ia merasa itu menarik dan juga kepo membuat ia semakin bersemangat.
"Bagaimana ini sayang? Hiks,,aku tidak bisa hamil hiks,, kenapa sangat susah sekali untuk kita memiliki anak?" Tangis perempuan itu saat suaminya melepaskan pelukannya.
Deg,
Jantung Yara berdetak sangat kencang karena mendengar itu, gadis itu terlihat sangat muda dan lebih muda dibandingkan Yara. Bagaimana dengan Yara? Ia takut akan mengalami hal yang sama.
"Tidak sayang, kamu jangan terlalu memikirkan nya dulu yah. Kita kan sedang berusaha kamu jangan pesimis dulu dong,"ucap suaminya menenangkan istrinya.
Mereka berdua duduk didepan Yara sembari saling menguatkan satu sama lain .
Sedangkan Yara hanya bisa menguatkan dirinya sendiri, ia benar-benar sangat takut mengalami hal yang sama dengan gadis itu.
Yara melihat dari kejauhan seorang perempuan yang berlari tergesa-gesa kearah gadis yang menangis tadi.
"Bagaimana? Bagaimana hasilnya?" Tanya perempuan itu kepada gadis itu.
Gadis itu langsung menangis memeluk perempuan itu "Hiks,,,ibu,,,aku belum bisa memberikan cucu untuk ibu hiks," ucapnya masih terus menangis.
"Apa yang dokter katakan kepada kalian? Ibu sangat khawatir nak."
Yara masih saja diam menunggu mereka mengatakan apa sebenarnya yang menjadi Kendala dari kehamilan sang istri.
Suaminya terlihat menarik nafas dalam dan melihat kearah ibunya sembari memegang tangan istrinya.
"Dokter berkata bahwa usia istri ku sudah memasuki usia sulit untuk memiliki anak buk, karena usianya yang sudah memasuki kepala tiga maka hormon nya mulai berkurang buk,"ucap laki-laki itu terlihat sangat pasrah.
Deg,
__ADS_1
Jantung Yara lagi dan lagi semakin berpacu lebih kencang lagi. Mendengar penuturan itu membuat Yara semakin tak kuat hati. Baginya itu adalah sebuah ketakutan, usianya sudah memasuki usia kepala tiga dan ia bahkan belum pernah melakukan itu .
"Bagaimana jika aku juga mengalami hal itu?" Batin Yara pelan.
Ia meremas celananya dengan kuat, ia mencoba untuk tetap berpikir positif bahwa ia tidak akan mengalami hal yang sama bukan?.
Gadis itu benar-benar terlihat sangat frustasi walaupun sudah memiliki banyak orang yang menjaga dan menguatkan nya . Bagaimana dengan Yara yang bahkan tidak memiliki seorang pun di sisi nya.
"Tidak, pasti itu bukanlah karena faktor usia. A,,aku masih bisa !"
Yara bangkit dari tempat duduknya mencoba untuk menjauh dari tempat itu karena ia sungguh tidak ingin mendengar apapun lagi saat ini.
Bugh,
Saat berbalik Yara tidak sengaja menabrak orang dibelakang nya dan ternyata itu adalah Lanang yang sejak tadi berdiri disana melihat dan mendengar kan karena ia melihat Yara begitu serius saat mendengar kan mereka.
Yara yang sedikit terguncang hatinya saat ini sungguh sedang dilema , hatinya rapuh tanpa sebab dan ia mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Nyonya!"
"E,,ehh Lanang, bagaimana? Sudah selesai pemeriksaan nya?" Tanya Yara dengan suaranya sedikit bergetar namun ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
Lanang mengangguk dan mendekat kearah Yara "Apa nyonya sedang sakit? Kenapa nyonya terlihat sedang tidak baik-baik saja?"
Yara buru-buru menggeleng "Aku baik-baik saja, mari kita resepkan obat nya lalu kita kembali kerumah." Ucap Yara meraih kertas yang ada ditangan Lanang.
Gadis itu berlalu lebih dulu meninggalkan Lanang dan langsung diikuti oleh nya, namun sebelum benar-benar berlalu Lanang melihat kearah gadis yang menangis tadi.
Lanang melihat kearah punggung Yara yang sedikit menunduk itu, gadis itu berjalan seolah tidak ada yang terjadi dengan kaki yang sedikit bergetar ia terlihat berpura-pura kuat.
"Apa dia baik-baik saja?" Gumam Lanang menyusul Yara yang sudah mulai menjauh itu.
Yara sendiri saat ini tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan karena ia hanya bisa terus berjalan dan mencoba untuk meresepkan obat untuk Lanang dengan hati yang sangat mencelos.
...🍄 Bersambung🍄...
Kasian banget yaraaa, pasti kena mental banget pas tau fakta itu.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan
See you guys 🧀
__ADS_1