Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 25: Kau tau arti sebuah penghargaan?


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #secret love song-little mix ft.jason derulo🍬...


...💌Mendung tidak selamanya berarti murung, jika kau mampu tersenyum maka itu adalah mentari yang kau ciptakan sendiri💌...


      Yara duduk di luar menunggu Lanang yang sedang diperiksa oleh dokter , tangannya gemetar hebat karena kenangan lama saat ia masih kecil. Samar-samar ia mengingat kalau mamahnya pernah dirawat lama dirumah sakit hingga ia sampai lupa bagaimana rasanya disayangi oleh seorang ibu.


"Kenapa papah belum juga datang?" Yara sungguh sangat khawatir.


Ia berkali-kali melirik melalui pintu bagaimana keadaan Lanang. Baru pertama kali ia merasakan khawatir seperti ini, dia sungguh tersentak sedemikian kaget saat melihat Lanang yang hilang kesadaran dan nafas yang tersenggal seakan ia sangat kesulitan bernafas.


"Apa dia akan baik-baik saja? Kenapa dengan nya?" Yara mondar-mandir karena khawatir tanpa sebab.


Lagi-lagi ingatan lama membuat ia sangat khawatir, ia ingat mamahnya juga menghembuskan nafas terakhirnya saat di dalam ruangan pemeriksaan. Ia masih kecil saat itu dan ia masih belum mengerti apapun.


Sampai ketika ia melihat mamahnya ditutup oleh kain berwarna putih pun ia masih belum tahu arti sebuah kehilangan hingga sampai papahnya menikah kembali barulah ia sadar bahwa mamahnya sudah tak lagi ada di dunia ini.


"Sayang,ada apa? Lanang kenapa?"


Papah datang dengan berlari begitu juga dengan Azri yang kebetulan sedang pulang dari sekolah dan bertemu papah ditengah jalan.


"Hiks,,,aku tidak tahu pah,aku takut hiks,,,"


Dan barulah Yara menangis saat melihat papahnya,ia buru-buru menghambur kedalam pelukan sang papah lalu meluapkan air matanya.


Papah tahu bagaimana perasaan Yara saat ini, putrinya sangat khawatir hingga ia menangis begitu hebat dengan tubuh bergetar.


Azri sendiri ingin ikut menenangkan Yara namun ia urungkan takut ia akan menggangu Yara hingga akhirnya ia memilih untuk diam saja.


"Bagaimana keadaan menantu saya dok?" Papah langsung bertanya saat dokter keluar dari ruangan tempat Lanang diperiksa.


Yara yang memeluk papahnya langsung mendekat kearah dokter tersebut sembari menunggu jawaban dokter itu.


"Tidak ada hak yang begitu serius dengan kondisi pasien, hanya saja beliau sedang dalam fase gelaja alergi anafilaktik dan tubuhnya shock hingga tiba-tiba tidak sadarkan diri."


Yara  langsung bernafas lega walaupun ia masih sesenggukan karena menangis.


"Dari hasil pemeriksaan tadi, dalam tubuh pasien terdeteksi zat berupa cairan yang berasal dari jamur dan pasien sebenarnya alergi pada segala jenis jamur ."


Yara langsung terdiam karena mengingat bagaimana Lanang menghabiskan semur jamur buatannya tadi dirumah Lean.


"Ja,,jamur dok?"tanya Yara memastikan dan dokter tersebut mengangguk.


"Jamur yang dimakan oleh pasien tergolong banyak dan untung saja secepatnya dibawa kesini, kalau tidak maka akan lebih banyak lagi gejala yang akan datang."


"Apa kami sudah boleh masuk dok?" Tanya Yara pelan.


"Ooh silahkan, pasien sudah sadar dan sudah bisa dibawa pulang dengan obat yang akan saya resepkan nanti."

__ADS_1


Yara langsung membuka pintu dan melihat Lanang yang duduk diatas ranjang sembari melihat kearah Yara yang langsung berlari memeluknya.


"Hiks,,, kenapa kamu memakan jamur tadi?"


Lanang langsung kaget karena Yara yang tiba-tiba memeluknya. Belum lagi gadis itu menangis.


"Apa nyonya sedang ber-akting karena ada papah disini?"


Bingung Lanang karena memang saat itu ada papah juga Azri disana, gadis itu masih saja memeluknya erat dengan tangisan yang mulai mereda.


"Walaupun ada papah nyonya tidak biasanya seperti ini,"ucap Lanang membatin.


"Sudahlah sayang, suamimu baik-baik saja jangan terlalu khawatir."


Yara yang sadar dengan perbuatan nya langsung merasa kikuk dengan melepaskan pelukan itu perlahan.


"A,,aku baik-baik saja kok sayang, kamu tidak usah khawatir begitu." Lanang pun melanjutkan sandiwara itu.


Lanang turun dari ranjang dan membuat Yara khawatir "Kamu Jangan banyak bergerak dulu!"


"Ma,mas," sambungnya lagi karena ia sempat lupa ada papah disana.


"Maafkan aku karena sudah membuat papah khawatir dan repot datang kemari, "ucap Lanang dengan sopan dan menunduk.


"Aduhh kamu ini kayak sama siapa aja, aku ini papah mu nak. Jangan sungkan begitu, kamu baik-baik saja sudah membuat papah lega."


Lanang menggeleng dengan cepat "Aku sudah baik-baik saja pah, "


"Kamu jangan bandel dong mas, padahal mas sendiri yang mengatakan kalau sedang sakit jangan berpura-pura baik-baik saja." Yara sungguh jengkel dengan sikap Lanang yang seakan ia baik-baik saja .


"Baiklah kita pulang sekarang yah, biar papah jemput resepnya kalian berangkat saja duluan."


"Iya pah,"ucap Yara menuntun Lanang dengan pelan sedangkan papah dan Azri pergi menjemput resep untuk obat Lanang.


"Saya baik-baik saja nyonya, tidak usah diperlakukan seperti ini hehehe."


"Berhenti tertawa kubilang! Aku tidak suka melihat mu tertawa dengan bibir pucat seperti itu,"ucap Yara dengan pelan dan masih saja menggandeng tangan Lanang.


"Hahah,,,"Lanang malah semakin tertawa pelan hingga Yara kebingungan.


"Ha? Kenapa malah semakin tertawa begitu?"


Lanang masih saja tertawa pelan hingga terhenti karena melihat Yara yang sedikit cemberut karena kesal.


"Apanya yang lucu sih? Apa otakmu ikut terkena alergi?"


"Apa nyonya tidak merasa lucu? Kemarin nyonya lah yang butuh bantuan untuk berjalan sekarang malah giliran saya."

__ADS_1


"Letak kelucuan disana apa?" Tanya Yara yang benar-benar tidak mengerti.


"Seperti takdir saja hahaha,"


Tawa Lanang begitu lebar saat mengatakan itu, Yara yang melihat itu terhipnotis karena bahkan saat bibir itu pucat tetap saja Lanang terlihat tampan dan menawan.


"Berhenti tertawa!"


Lanang langsung diam walaupun ia masih merasa lucu dengan kejadian itu, ia benar-benar sudah gila mengantarkan nyawa hanya agar Yara tidak dipermalukan dihadapan Lean.


"Masuklah,"ucap Yara membukakan pintu untuk Lanang.


"Loh? Kenapa saya duduk di sini nyonya?   Biar saya saja yang menyetir."


"Sudahlah masuk saja, terlalu banyak protes kamu akan terlihat semakin menyebalkan."


"Ta,, tapi."


"Masuklah."


Mau tidak mau ia harus masuk sebelum gadis itu berubah pikiran dan malah marah padanya.


"Kenapa kamu memakan semur itu sampai habis? Padahal kamu tahu kan kalau kamu alergi jamur?" Tanya Yara yang masih fokus menyetir itu.


Awalnya ia sangat kesal karena Lanang sudah ceroboh memakan makanan yang membahayakan nyawanya namun karena ia sudah terlanjur khawatir ia pun memilih untuk menyikapinya dengan baik saja.


Lanang terdiam dan melihat kearah Yara sembari tersenyum "Sudah saya bilang kalau saya sangat menyukai masakan nyonya hehehe,"


Yara yang melihat senyuman Lanang dengan pujian itu langsung merasakan jantungnya berpacu dengan kuat.


"Ka,,kamu !"


Lanang langsung heran karena Yara tiba-tiba menyentaknya dengan keras.


"Kamu jangan pernah tertawa seperti itu dihadapan ku, aku tidak menyukainya karena terlihat sangat bodoh."


Seketika Lanang mingkem dan mengangguk "Maaf karena sudah membuat nyonya merasa tidak nyaman."


"Sial, kenapa tiba-tiba jantung ku berdetak dengan kencang? Apa dia mendengar nya? Akhh gila kamu Yara!"


...🍄 Bersambung🍄...


Wahhh wahhh wahhh mulai kelihatan nih benih ikan eh cinta maksudnya.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2