
...🍬 Soundtrack this part #Mimpi terindah-cover by Feby putri🍬...
...💌Aku tidak pernah menyadari bahwa kamu adalah laki-laki hebat karena aku terlalu angkuh selama ini💌...
Sera hanya diam saja di dalam mobil sembari memikirkan banyak hal, ia benar-benar merutuki kebodohan nya karena telah nekat melakukan hal gila itu. Walaupun niatnya hanya ingin melatih mentalnya saat berdekatan dengan lawan jenis seharusnya ia lebih teliti lagi dalam menyewa laki-laki dan dengan bodohnya ia menyewa laki-laki kurang ajar seperti Roy.
"Ya tuhan aku sangat malu karena Lanang mengetahui kegilaan ku, bagaimana bisa dia datang kesana? Apa dia mengikuti ku?" Batin Yara pelan.
Ia benar-benar frustasi karena merasa dipermalukan di hadapan lanang. Ia benar-benar sudah menghabiskan stok rasa malunya kalau dihadapan Lanang, ia sudah banyak menunjukkan sisi memalukan lainnya sejak bertemu dengan Lanang.
"Ahh bisa gila aku,"rutuk Yara karena ia sudah sangat malu.
Lanang menyadari bahwa ada yang aneh dari Yara sejak tadi, gadis itu tidak bisa diam dan bahkan menarik rambutnya sendiri.
"Ada apa nyonya? Apa nyonya terluka tadi?" Tanya Lanang menghentikan mobil dan memeriksa keadaan Yara.
Yara kaget saat Lanang mendekat kearahnya melihat kondisinya apakah ada yang terluka saat ia belum sempat datang tadi.
"Apa nyonya sempat disentuh oleh laki-laki tadi?" Tanya Lanang khawatir.
Yara dengan cepat menggeleng "To,, tidak, a,,aku baik-baik saja."
Lanang memegang dahi Yara hingga gadis itu semakin kaget seolah pernafasan benar-benar terhenti ia mematung tak tahu harus bagaimana.
"Nyonya juga tidak panas kok, apa nyonya baik-baik saja?" Tanya Lanang lagi.
"Aku baik-baik saja, cepat jalankan mobilnya!" Yara terpaksa berbicara dengan kesal lalu melihat kearah lain karena ia takut Lanang akan melihat wajahnya yang memerah itu.
"Sial, kenapa tiba-tiba pipiku memanas hanya karena dahiku disentuh oleh Lanang?" Gimam Yara pelan.
Iya melirik kearah Lanang yang fokus menyetir itu dan seolah seluruh cahaya mengitari Lanang ia benar-benar terlihat sangat bersinar Dimata Yara. Bak seorang pangeran lanang sungguh mempesona dalam pandangan Yara.
"Kenapa tiba-tiba dia terlihat begitu tampan? Bahkan saat serius saja ia terlihat sangat sempurna.",
Yara benar-benar tidak berkedip sedikit pun , ia terus saja memandangi Lanang seolah ia tak ingin menghabiskan satu detik pun untuk berkedip karena keindahan Lanang.
__ADS_1
"Aku benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona nya, bagaimana ini?" Panik Yara masih terus memandangi Lanang.
Lanang yang mengetahui itu sejak tadi merasa tidak nyaman karena Yara terus saja memandanginya seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Ia mencoba untuk mengabaikan itu namun, Yara benar-benar sedang menatapnya dalam dan tidak berkedip sama sekali.
"Khem, apa ada yang ingin nyonya sampaikan?" Tanya Lanang memecahkan kecanggungan itu.
Yara yang tertangkap basah langsung menatap kearah lain, jantung nya semakin berdetak kencang karena tertangkap basah sedang memandangi Lanang yang sedang sibuk menyetir itu.
"Apa ada hal yang ingin nyonya katakan kepada saya? Sejak tadi nyonya melihat kearah saya ,"ucap Lanang.
"Memandang mu? Kenapa kamu pede sekali jadi orang,"elak Yara padahal kenyataannya memang begitu.
Lanang benar-benar merasa kalau Yara sejak tadi menatapnya, apa hanya perasaan nya saja yah? Kalau begitu berarti ia memang sedikit kepedean tadi.
Lanang kembali fokus menyetir dan Yara kembali melirik kearah Lanang. Semakin dilihat juga Lanang malah semakin bersinar saja hingga membuat Yara terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Lanang menghentikan mobil dan melihat kearah Yara dengan pelan, ia benar-benar melihat dengan jelas bahwa Yara terus saja memandangi nya.
Yara tahu kalau Lanang menyadari bahwa ia benar-benar memandangi Lanang, mau mengelak juga ia sudah tidak bisa karena terlanjur tertangkap basah.
"Baiklah aku ingin benar-benar memastikan satu hal, kamu harus menjawabnya dengan jujur."
Lanang mengangguk dan melihat kearah Yara dengan seksama, menunggu apa yang akan Yara katakan.
Yara sendiri langsung grogi ditatap oleh Lanang, laki-laki itu benar-benar menatap nya tanpa tahu kalau jantung Yara benar-benar tidak aman saat ini.
"Apa yang ingin nyonya pastikan?" Tanya Lanang pelan karena sejak tadi Yara tak kunjung mengatakan nya.
"Kamu masih belum menjelaskan apa sebenarnya alasanmu menolak ajakan ku untuk memberikan cucu untuk papah,"ucap Yara dengan bahasa yang lebih halus lagi.
Lanang lagi-lagi ditanyai hal seperti itu oleh Yara, ia sungguh tidak habis pikir kenapa Yara masih ingin membahasnya mengingat sikap dan respon Lanang yang tidak pernah bersahabat saat mereka membahas itu.
"Kamu jangan pernah mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, jangan banyak alsan dan aku butuh jawaban yang pasti untuk aku jadikan sebagai acuan apakah aku harus menyerah dan melanjutkan nya." Yara melihat kearah Lanang dengan wajah datar.
__ADS_1
Lanang bisa melihat keseriusan itu dari tatapan Yara, gadis itu benar-benar sangat membutuhkan jawaban saat ini.
"Baiklah kalau itu yang nyonya ingin pastikan, saya menolak tawaran dan ajakan nyonya karena itu bukanlah hal yang bisa kita lakukan hanya karena sebuah kebutuhan saja. Saya tidak tahu kenapa nyonya sangat terobsesi dengan membuat anak atau semacamnya yang jelas saya tidak bisa karena pernikahan kita adalah pernikahan kontrak bukan nyata. Saya tidak ingin merugikan nyonya dengan menghadirkan anak padahal nanti nya kita juga akan berpisah,"ucap Lanang dengan cepat.
Deg,
"Berpisah yah?" Gumam Yara pelan.
Ia benar-benar melupakan itu, ia benar-benar lupa bahwa hubungan Emre bukanlah pernikahan yang diawali oleh cinta melainkan sebuah perjanjian semata.
"Bagaimana kalau kita tidak usah berpisah? Bagaimana kalau kita benar-benar mencoba untuk menjadi pasangan yang sesungguhnya?" Tanya Yara dengan tidak tahu dirinya.
Lanang tidak percaya bahwa Yara akan mengatakan itu , ia jelas tahu bahwa mereka tidak saling mencintai dan semua ini akan segera berakhir.
"Apa nyonya benar-benar serius dengan apa yang nyonya ucapkan? Saya tidak bisa nyonya!"
Yara faham dan mengerti dengan ucapan lanang yang mengatakan kalau ia tidak bisa, Yara faham dan sadar diri karena Lanang masih sangat muda dan pasti menginginkan gadis yang lebih muda lagi dibandingkan Yara yang kini sudah memasuki usia kepala tiga.
"Sa,,"
"Baiklah aku mengerti, kita pulang saja ke rumah! Lupakan saja apa yang sudah aku katakan tadi,"ucap Yara pelan.
Ia menutup wajahnya dengan kemeja Lanang dan melihat kearah lain.
Lanang pun melihat kearah Yara dengan pelan, ia frustasi karena Yara terus saja membuat ia merasa tidak enak hati.
Dengan perlahan ia menghidupkan mobil dan melaju menuju rumah.
...🍄 Bersambung🍄...
Cinta bertepuk sebelah tangan yah Yara, mas Lanang kan maunya sama author hihihi.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1