
...🍬 Soundtrack this part #team-lorde🍬...
...💌Bahkan sehebat apapun kamu berbohong aku akan dengan cepat tahu bahwa itu bukanlah sebuah kebenaran karena kamu tidak baik-baik saja💌...
Seperginya Lanang berlari menuju kamar mandi Yara langsung memperbaiki posisi dress serta ********** dan kembali duduk di ranjang dengan penuh kesal dan juga amarah.
"Bodoh,kamu gadis bodoh!" Yara mencoba untuk tetap tenang dan menghilangkan rasa gugup dan takut saat melihat Lanang diburu oleh gairah tadi.
Ada setitik air mata yang jatuh karena ia benar-benar takut saat melihat sisi Lanang yang dipengaruhi obat itu. Benar-benar bukan Lanang yang ia kenal karena mereka terlihat sangat berbeda.
Ingatan tangan laki-laki itu yang mencoba untuk melucuti habis pakaian nya membuat ia semakin gemetar.
"A,,aku tidak takut, ini yang aku inginkan tapi kenapa aku bertindak bodoh seperti itu tadi? Akhh benar-benar gadis gila."
Yara menarik rambutnya kesal karena ia benar-benar gila sudah menggagalkan rencananya sendiri. Bersusah payah ia mencoba segala cara dan saat ia mendapatkan kesempatan ia malah merusaknya seperti seorang idiot saja.
"Kenapa ada gadis sebodoh diriku? Akhh aku benar-benar tidak ada harapan lagi setelah ini."
"Bagaimana lagi aku akan bertindak? Aku sudah tidak bisa lagi mendapatkan kesempatan emas seperti ini."
Sementara Lanang saat ini masih dibawah guyuran shower, ia sudah mulai sadar dan mengingat semua yang sudah terjadi atas luar kendalinya.
Ia merasa bodoh karena tidak bisa mengendalikan dirinya hingga menyentuh Yara ah atau bahkan lebih dari sekedar menyentuh Yara.
Gadis itu benar-benar bergetar dan menunjukkan wajah sangat gugup dan juga khawatir saat Lanang berusaha untuk menyentuhnya.
"Kenapa aku bisa lepas kendali seperti itu? Apa ada sesuatu di minuman yang nyonya berikan?" Tanya Lanang pelan masih dibawah guyuran shower.
Ia ingat betul semua yang Yara ucapkan semalam, gadis itu meminta untuk mereka segera membuat anak dan sekarang ia bahkan berbuat sejauh ini untuk bisa melakukan itu dengan Lanang.
"Kenapa dia berbuat sampai sejauh ini? Kenapa ia nekat melakukan ini disaat ia sendiri tidak sanggup melakukan nya?" Lanang benar-benar kesal karena ulah Yara tersebut. Bagaimana jika ia benar-benar lepas kendali dan meniduri Yara? Sungguh ia tidak ingin itu terjadi.
"Kenapa dengan nya? Seperti seorang yang hilang akal saja."
__ADS_1
Lanang keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju Yara setelah ia selesai dengan baju yang lebih hangat karena saat ini hawa panas yang tadi sudah tergantikan oleh hawa dingin akibat siraman shower dimalam malam dingin ini.
Yara yang masih saja shock itu langsung mengusap kasar air matanya yang sempat jatuh tadi dan mencoba untuk terlihat tenang. Padahal sebenarnya ia sudah sangat malu dan juga gugup.
Lanang mendekat kearah Yara dan berdiri tepat didepan gadis itu, ia menatap kearah Yara yang mencoba untuk menjauhkan pandangan dari Lanang.
Yara terus saja menghindari tatapan itu hingga kemudian mata mereka bertemu dan Lanang mengunci pandangan itu.
"A,,apa? Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" Tanya Yara mencoba untuk stay cool dihadapan Lanang.
Lanang menatap Yara dengan penuh kecurigaan "Apa nyonya memasukkan sesuatu kedalam minuman tadi?"
Deg,
Yara benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa, ia tidak mungkin berbohong lagi karena sudah jelas Lanang tahu itulah kebenaran nya.
"Kenapa nyonya hanya diam saja? Apa nyonya benar memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu seperti obat perangsang?"
Lanang memang bukanlah seseorang yang memiliki pendidikan yang tinggi seperti Yara Lean dan orang lainnya tapi tahu banyak hal termasuk hal ini.
"Apa nyonya akan terus diam seperti itu?"
"Kenapa kalau aku memasukkan sesuatu kedalam minuman itu? Mau apa kamu?" Yara mencoba membela diri dengan bersusah payah untuk terlihat keren padahal ia benar-benar gugup dihadapan Lanang.
Pendidikan tinggi dan juga seluruh kekayaan yang ia punya sungguh tidak berarti kini karena ia sudah mempermalukan dirinya dihadapan Lanang suami bayarannya itu.
Lanang mengeryit pelan setelah mendapatkan Jawaban dari Yara, gadis itu bertanya mau apa dia? Bukankah seharusnya Lanang yang bertanya kenapa dia berbuat sejauh itu ?.
"Kenapa nyonya memasukkan obat itu kedalam minuman? Apa nyonya sama sekali tidak takut jika saja saya lepas kendali dan tadi hampir saja saya lepas kendali." Lanang terlihat sangat frustasi karena mengingat kejadian tadi.
Yara meremas sprei dengan kuat dan masih berusaha untuk memasang muka tembok dihadapan Lanang karena mau bagaimana pun ia sudah terlanjur mempermalukan dirinya dan juga sudah seringkali menunjukkan sikap tidak berwibawa dihadapan Lanang.
"Itu yang aku inginkan, bukankah aku sudah mengajak mu untuk melakukan nya? Dan tadi itu adalah usahaku untuk membuat mu mau melakukan nya dengan ku."
__ADS_1
Lanang terbelalak kaget saat Yara dengan wajah datarnya mengatakan itu namun terlihat sekali tangan gadis itu masih saja gemetar takut.
"Apa sebenarnya yang nyonya rencanakan sampai harus sejauh ini dalam bertindak? Apa nyonya berpikir kalau masalah ini masih bisa dibuat sebagai bahan bercandaan?" Kesal Lanang karena Yara sungguh sudah menyepelekan hal itu.
Yara menggeleng dengan cepat"Sejak kapan aku menganggap ini bercanda? Aku serius dan kamu bisa melihat keseriusan ku ini dengan cara ini,"ucap Yara.
"Sejak semalam aku sudah mengatakan kalau aku serius, apa kamu pikir saat aku mengajakmu malam itu aku tidak serius? Kamu yang menanggapi nya tidak serius dan berkata bahwa kamu tidak pernah mendengar nya dari ku,"ucap Yara dengan cepat.
"Apa sekarang kam,,,"
Yara tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Lanang kini sudah menindih tubuhnya hingga tubuh mereka sangat rapat sekali dan itu membuat Yara gugup dan sedikit gemetar.
"Apa nyonya benar-benar serius? Apa kita lanjutkan saja yang tertunda tadi?" Tanya Lanang pelan.
Yara menelan Saliva dengan susah payah dengan jantung yang semakin berdegup kencang ia merasakan kegugupan nya semakin meningkat saja. Ia benar-benar sangat ingin melanjutkan nya agar semua rencananya berhasil namun jujur saja ia benar-benar sangat takut dan belum siap.
"Bagaimana? Apa saya harus mencium bibir nyonya lebih ganas dari pada yang tadi? Atau apakah saya harus langsung pada intinya?"
"Ka,,kamu! Si,,siapa takut?" Tantang Yara yang wajahnya sudah terlihat semakin takut dan Lanang bisa melihat itu dengan jelas.
Lanang tersenyum smirk dan mencoba untuk mendekat kearah Yara, ia melihat kearah bibir merah Yara yang sudah dua kali bersentuh dengan bibirnya. Dengan perlahan bibir itu semakin mendekat dan hampir saja mengenai bibir Yara namun gadis itu menutup mata dengan penuh ketakutan dan memalingkan wajahnya kearah lain .
Lanang melihat dengan jelas bahwa ia benar-benar tidak menginginkan nya, ia takut dan sama sekali tidak benar-benar menikmati nya.
"Lihatlah! Nyonya sama sekali tidak menginginkan nya bukan? Berhentilah melakukan hal-hal yang melewati batas nyonya, karena sejak awal pernikahan ini bukanlah hal yang serius."
Setelah mengatakan itu Lanang berlalu meninggalkan Yara yang masih berbaring melihat kearah lain. Lanang berbaring di sofa untuk menenangkan pikirannya yang sempat kalut karena masih tidak mengerti dengan sikap Yara.
"Gadis bodoh! Kamu gadis tidak berguna,"ucap Yara pelan masih diposisi tadi.
...🍄 Bersambung🍄...
Padahal udah ada kesempatan, Yara pasti masih takut karena baru pertama kalinya.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀