
...๐ฌ Soundtrack this part #red lights-stray kids( hyunjin and bangchan)๐ฌ...
...๐ Sudah bertahun-tahun hati ini terasa sangat tandus, kenapa tiba-tiba terasa begitu lembab hanya karena perlakuan manis mu?๐...
ย ย ย Yara sejak tadi merasa pipinya terasa panas dan juga ia tak hentinya tersenyum memegangi syal pemberian Lanang. Ia benar-benar tidak mengerti dengan moodnya yang tiba-tiba Sangat baik itu.
Ia melihat kearah Lanang yang menyetir itu, wajah Lanang masih terlihat pucat namun sangat keras kepala padahal Yara sudah mengatakan untuk ia libur saja tapi tidak diindahkan oleh Lanang dan untuk menyetir Yara sudah mengajukan diri namun Lanang lagi-lagi menolak.
"Bukankah kondisi mu semakin parah? Kita kerumah sakit saja,"ucap Yara tiba-tiba.
Lanang menggeleng dengan cepat karena ia benar-benar tidak ingin kerumah sakit dan tidak ingin libur, hanya karena demam saja ia harus libur? Sungguh sangat tidak pantas apalagi ia adalah seorang laki-laki yang tidak ingin terlihat lemah.
"Saya sungguh baik-baik saja nyonya," ucap Lanang dengan pelan dan kembali fokus menyetir.
"Dan untuk tadi malam maafkan saya nyonya!"
"Ha?"
Yara melihat kearah Lanang, ia benar-benar sudah mencoba untuk bersikap biasa saja namun karena diungkit oleh Lanang ia malah menjadi sedikit canggung.
"Ahh lupakan saja, aku yang salah bukan kamu,"ucap Yara pelan melihat kearah lain karena memang sebenarnya ialah yang salah bukan Lanang.
"Tetap saja nyonya, saya salah karena sudah menyentuh nyonya dan bahkan meninggalkan tanda begitu banyak. Akhh kenapa sih dengan ku?"
Yara melihat kearah Lanang dan merasa sedikit terluka, laki-laki itu bersikap seperti itu apa karena benar-benar tidak ingin menyentuh Yara yah? Apa Yara benar-benar menjijikkan atau bagaimana?.
"Sudahlah lupakan saja, aku yang salah bukan kamu!"
Yara menjauhkan pandangan dari Lanang dan laki-laki muda itu kembali fokus untuk menyetir.
"Wahh tumben sekali kamu terlambat datang?" Lean sudah menunggu sejak tadi di depan swalayan.
Yara berlalu setelah pamit kepada Lanang dan berjalan mendekat kearah Lean yang menyambut nya dengan senang.
"Kalau ada perlu apa-apa nyonya hubungi saya saja,"ucap Lanang dengan pelan dan di anggukan oleh Yara dengan senyuman.
Gadis itu merasa diperhatikan walaupun terkadang ia benar-benar sadar kalau Lanang hanya menjalankan tugasnya.
"Kenapa kamu memakai syal? Padahal hari tidak dingin loh!"
Seperti biasa, Lean tidak akan bisa tenang tanpa sepatah pertanyaan saja. Ia akan bertanya banyak hal dan itu membuat Yara lelah setengah mati.
"Aku hanya ingin memakainya saja, terlihat sangat unik bukan?" Tanya Yara tersenyum.
__ADS_1
Lean kebingungan kenapa tiba-tiba gadis itu tersenyum begitu sering sejak tadi.
"Benarkah? Apa ada sesuatu hal baik terjadi? Kenapa kamu tidak hentinya tersenyum sejak tadi?"
"Ahh benarkah?"
Yara tidak menyadari itu ,ia terlalu sibuk memikirkan betapa bahagianya ia mendapat syal itu dari Lanang dan bahkan dipakaikan oleh Lanang langsung dilehernya.
"Aku hanya merasa hari ini sangat cerah Lean, apa kamu tidak berpendapat sama?" Tanya Yara pelan dan duduk di sofa yang diikuti oleh Lean.
"Bahkan hampir setiap saat hari terlihat cerah dan hari kemarin lebih cerah dibandingkan hari ini tapi kamu malah tidak bersahabat,"ucap Lean dengan pelan mengungkit hal kemarin saat Yara begitu tidak bersahabat dan badmood.
"Ahhh sudahlah kamu iyakan saja kenapa rupanya? "
"Iya iya deh, kamu nih untung sayang!"
"Ngomong gitu lagi aku gundulin lama-lama kepala mu,"ucap Yara pelan dan Lean tertawa pelan.
"Kamu sudah sarapan?"
"Hmm sudah," ucap Yara pelan dan melihat berkas di mejanya yang sempat ia telantarkan semalam.
"Tumben, padahal aku sudah memasak untuk mu!"
"Untuk kedepannya kamu tidak perlu repot-repot melakukan hal ini Lean, dan kamu terlalu sering datang ke sini. Apa kamu tidak takut orang akan menganggap kamu terlalu sering bermain dan terlihat tidak kompeten?"
Yara duduk dan meraih bekal itu dari tangan Lean kemudian membuka nya serta mengeluarkan isinya satu persatu.
Lean melihat kearah Yara dengan senyuman kikuk, ia tahu selama ini semua usahanya benar-benar sia-sia karena hanya ia yang mencintai dan Yara tidak sama sekali.
Walaupun terasa sesak ia begitu nyaman dengan kehidupan nya saat ini, bahkan saat Yara tidak membalas dan mengetahui perasaan nya ia tetap bahagia karena bisa bersama dengan gadis itu setiap hari dan juga bisa sedekat ini dengan Yara.
"Wahh kamu yang masak ini semua?" Tanya Yara penuh kagum.
Dengan cepat Lean tersenyum dan mengangguk kearah Yara, melihat respon Yara saja ia sudah bahagia karena gadis itu selalu saja menghargai nya.
"Wahh kenapa kamu begitu hebat yah? Kamu tampan, pintar,dan bahkan pandai memasak! Siapapun yang akan menjadi istri mu pasti bahagia,"puji Yara mencoba masakan Lean.
Jantung Lean berdebar sangat kencang karena mendengar itu dari Yara, gadis itu sungguh tidak sadar bahwa ia telah membuat Lean semakin menggebu-gebu.
"Be,,benarkah? Benarkah istri ku akan bangga dan bahagia jika memiliki ku?" Tanya Lean pelan.
"Kalau sifat nyebelin nya ilang sih hahaha."
__ADS_1
Lean tertawa mengikuti Yara yang tertawa setelah mengatakan itu.
"Bukannya kamu sudah sarapan kenapa masih dimakan?"tanya Lean.
"Yahh sedang ingin saja, tadi aku hanya makan bubur dengan la,," Yara hampir saja keceplosan.
"Dengan la?"
"Dengan bibi dirumah namanya Latun heheh," ucap Yara dengan cepat.
Yara kembali teringat dengan Lanang dan tersenyum memegang syal dilehernya.
"Oh iya , kalau seorang laki-laki memberikan sebuah barang kepada seorang perempuan itu maksudnya apa yah?"
"Contohnya?" Tanya Lean.
"Yahh seperti memberikan sebuah syal atau semacamnya."
Lean tampak berpikir dan melihat kearah Yara dengan wajah curiga.
"Hmmm kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu? Apa ada yang memberimu syal?" Tanya Lean.
"Mulai deh nyebelin nya, langsung jawab aja gak usah banyak nanya."
"Kebanyakan sih laki-laki bahkan memberikan sebuah barang tanpa alasan, ada yang memberikan nya karena menyukai nya dan memang terkadang karena tuntutan."
Yara berpikir dengan pelan di posisi mana dia saat ini, apa diposisi tanpa alasan, dicintai atau hanya karena tuntutan? .
"Aku. Berada di posisi mana yah?"batin Yara berpikir keras.
"Hey, kenapa malah melamun begitu?" Tanya Lean saat melihat Yara melamun.
"Ahh tidak, kamu juga makan dong!"
Lean menurut dan mengambil masakan yang ia bawa itu dan memakannya dengan Yara. Ia tersenyum kearah gadis itu merasa bahagia bisa menikmati waktu berdua walaupun ia tidak tahu apa yang ada di dalam hati Yara apakah ada secuil harapan namanya terselip disana atau bahkan tidak sama sekali.
"Tapi tetap saja aku bahagia," batin Lean.
...๐ Bersambung๐...
Lean sama aku aja deh kalau gak dapat Yara, bisa masak kok jadi gak perlu kamu masakin lagi hehehe.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys ๐ง