
...🍬 Soundtrack this part #Touch love-yoon mirae🍬...
...💌 Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sebenarnya sangat lah lemah namun selalu berpura-pura untuk terlihat kuat💌...
Sejak tadi Yara tak hentinya memandangi ponselnya yang kini sudah menunjukkan 10 menit telah berlalu,namun laki-laki itu belum juga keluar dari kamar mandi.
"Kenapa dia lama sekali didalam sana? Apa dia menyadari nya?" Yara semakin takut rencana malam ini akan benar-benar gagal .
"Tidak mungkin, dia pasti tidak tahu apa yang telah terjadi dengan nya."
Knop,
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Lanang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju kaos oblong dan juga celana training miliknya.
"Kenapa kamu lama sekali? Apa saja yang kamu kerjakan di dalam sana?" Kesal Yara karena ia sampai khawatir Lanang menyadari perbuatannya.
Lanang mengeryit pelan karena Yara yang tiba-tiba bersuara sedikit tinggi kepada nya.
"Sa,,saya hanya mandi nyonya, apa nyonya ingin kesana juga?" Tanya Lanang yang kebingungan itu.
"Tidak,"ucap Yara cepat.
"Lalu kenapa nyonya marah hanya karena saya keluar dari sana sedikit lama? Saya merasa sedikit kepanasan sejak tadi dan terlalu nyaman mandi hingga saya lupa waktu telah berlalu,"ucap nya pelan.
"Panas? Apa sekarang masih panas?" Tanya Yara pelan.
Lanang kemudian mengangguk sembari mengibaskan tangannya seolah ia benar-benar sedang merasa kepanasan.
Yara tersenyum penuh kemenangan karena sepertinya obat itu akan segera bereaksi.
Dengan cepat Yara mematikan AC untuk mempercepat proses reaksi obat itu, Lanang terlihat semakin tidak nyaman dan mengibasi dirinya dengan handuk.
Belum lagi bajunya sudah mulai dipenuhi oleh keringat karena Lanang sungguh merasa sangat gerah.
"Apa nyonya tidak merasa kepanasan?" Tanya Lanang dengan pelan.
Yara menggeleng dengan cepat"Tidak sama sekali, aku malah merasa kedinginan."
"Bisakah nyonya untuk meningkatkan AC nya? Saya sungguh tidak tahan saking panasnya."
Lanang terlihat sangat frustasi namun Yara menggeleng dengan cepat seolah ia sama sekali tidak perduli dengan keadaan Lanang, ia hanya tidak ingin merusak rencananya.
"Tidak bisa, aku sangat kedinginan. Nanti aku masuk angin,"ucapnya pelan.
Lanang mengangguk mengerti dan kembali untuk mencoba menghilangkan rasa gerah itu, belum lagi sejak tadi pandangan nya tidak pernah lepas dari Yara yang memakai dress merah cerah yang sedikit tersingkap keatas paha nya.
__ADS_1
"Lanang!"
"I,,iya nyonya,"ucap Lanang gelagapan karena ia takut Yara menyadari bahwa ia sejak tadi menatapi Yara dengan pikiran yang sudah mulai traveling itu.
"Bisakah kamu sedikit mendekat? Aku merasa ada sesuatu yang tersangkut di rambut belakang ku."
"Ha,,ha? "
"Cepatlah, sepertinya itu hewan dan aku sungguh tidak nyaman."
"Sa,,saya seperti nya tidak bisa nyonya! "
"Kamu membantah ku? Cepatlah kemari," ucap Yara kesal karena Lanang yang sudah diberi obat saja masih membantah nya.
Lanang dengan terpaksa mendekat kearah Yara yang melihat kearah nya dengan tatapan seksama begitu juga dengan Lanang yang menatap manik wajah itu tanpa lepas.
"Di,,dimana nyonya?" Tanya Lanang mencoba untuk tetap tenang.
Yara menyibakkan rambutnya kesamping hingga kini terpampang nyata lah leher putih dan jenjang nya itu dihadapan Lanang.
"Apakah ada bekas gigitan nya disini? Sedikit perih."
Ucap Yara berbohong karena ia hanya sedang mencoba untuk memancing Lanang yang sedang berusaha mengontrol diri dari pengaruh obat itu.
"Ti,, tidak ada nyonya," ucap Lanang dengan cepat menjauhkan pandangan nya dari leher Yara.
"Benarkah? Coba kamu perhatikan dengan seksama dan lebih dekat lagi! Aku sungguh merasakan kalau ini digigit," ucap Yara menyentuh lehernya.
Lanang sudah mulai hilang akal, naluri kelakian nya sejak tadi sudah mendominasi dirinya namun ia mencoba untuk tetap berpikir waras.
Aura dan hawa yang semakin panas membuat ia tidak bisa menahan diri belum lagi leher putih itu begitu terpampang nyata seolah sedang berusaha untuk membujuk bermanja-manja disana.
"Ti,, tidak ada nyonya."
Lanang mencoba untuk menjauh namun Yara menarik nya hingga mereka terjatuh diatas tempat tidur dengan posisi Lanang menimpa tumbuhnya.
Wajah mereka sangat dekat dan kini saling mengunci pandangan, Yara sekuat tenaga untuk tetap tenang walaupun sebenarnya ia sangat takut dan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"A,,aku bisa, ini yang aku inginkan dan inilah kesempatan ku,"ucap Yara dalam hati.
Sedangkan Lanang kini sudah mulai diburu oleh na*su dan belum lagi sesuatu dibawah sana sudah semakin menantang untuk terbebas.
Pandangan Lanang kini berpindah ke area bibir merah Yara, ia benar-benar merasa bahwa bibir itu terlihat sangat manis dan lezat hingga beberapa saat kemudian ia semakin mendekat dan kini bibir itu sudah ia bungkam dengan lembut.
Yara yang masih gugup itu langsung kaget saat bibir Lanang kini sudah bersentuhan dengan bibir nya, bibir itu perlahan bergerak hingga kemudian menjadi cepat seolah sedang diburu oleh sesuatu.
__ADS_1
Yara mencoba untuk tetap tenang dan berusaha menikmati permainan Lanang dibibir nya namun tetap saja ia sedikit bergetar karena ini baru pertama kali baginya untuk berciuman se intens itu dengan lawan jenis.
Lanang masih terus menerus bermain dibibir Yara mulai dari kecupan hingga beberapa lum*tan ia berikan disana.
Lanang semakin diburu oleh birahinya dan kemudian turun dari bibir Yara menuju leher jenjang gadis itu, ia sungguh kaget saat Lanang menghisap nya.
"Akhh,," Yara menggelinjang kaget dan berusaha untuk tetap tenang.
"Tenang lah Yara, ini hanya sebentar saja."
Yara masih berusaha untuk tetap tenang walaupun saat ini ia sungguh ingin berteriak karena Lanang sungguh buas menggerayangi tubuhnya baik itu lehernya kini pasti sudah dipenuhi oleh bekas kecupan Lanang.
Lanang buru-buru melepaskan kaosnya karena merasa hawa semakin panas tak bisa ia tahan, mata Yara terbelalak kaget saat melihat tubuh kekar Lanang. Ia sedikit gemetar dan tiba-tiba merasa ciut.
"Ke,,kenapa aku tiba-tiba menjadi takut? A,,aku tidak bisa begini. Ini yang aku inginkan dan aku sudah bersusah payah untuk sampai disini,"ucap Yara pelan mencoba untuk tetap tenang.
"Akhh,," Yara sedikit berteriak saat tangan Lanang masuk kedalam dress nya dan menyentuh gundukan di dalam dress itu.
Yara kaget dan semakin gemetar saat Lanang mulai meremasnya, ia sungguh tidak ingin rencananya gagal tapi kenapa ia sangat ketakutan saat ini. Ini yang ia inginkan tapi kenapa ia bersikap seolah ia sedang dilecehkan saja?.
"Kenapa dengan ku? Aku tidak bisa menggagalkan rencana ini, tapi ..tapi a,,aku sungguh tidak sanggup."
Yara melihat kearah Lanang dan melihat wajah laki-laki itu sungguh dipenuhi oleh keringat dan juga gairah, Lanang melakukan itu benar-benar bukan atas dasar cinta namun karena pengaruh obat saja.
"Kenapa aku merasa sakit saat mengetahui fakta itu? Aku hanya perlu hamil anaknya tidak membutuhkan cinta nya," batin Yara mencoba untuk tetap tenang.
Namun ia semakin bergetar hebat saat Lanang mencoba menurunkan celana nya, ia benar-benar tidak bisa melanjutkan itu.
"Hentikan!"
Lanang seolah sudah menuli dan tidak bisa berpikir jernih lagi, ia sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Celana Yara sudah hampir terbuka jangilula dengan dress-nya yang sudah naik hingga hampir saja ia polos tanpa sehelai kain pun.
"Kumohon hentikan," ucap Yara mendorong Lanang dan segera ia menaikkan celananya kembali.
Lanang yang terpental itu langsung sadar dan melihat kearah Yara yang hampir saja ia telanjangi itu.
"Nyonya? Kenapa,,"
Lanang langsung berlari ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air di shower. Ia benar-benar merasa sangat kepanasan saat ini.
...🍄 Bersambung🍄...
Wahh padahal dikit lagi, akhh kasian Lanang gak sih?.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀