Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 28: Benarkah perasaan ini?


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #my old story-iu cover by Kwon Ryuk ft. Lalima🍬...


...💌Kamu tidak bersalah, yang salah adalah aku. Karena terus saja memupuk perasaan ini tanpa aturan hingga mati karena takaran yang tidak sesuai ketentuan💌...


      Lanang keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian nya, alergi nya sudah perlahan membaik dan ia memang sudah berniat tetap ke studio untuk bekerja karena semalam ia mendapatkan pesan dari pak Danu tentang proyek baru yang harus diselesaikan hari ini juga.


"Loh? Dimana nyonya?" Lanang mencari cari dipenjuru kamar namun tidak menemukan sosok Yara.


Memang gadis itu sejak tadi sudah selesai dengan segala urusannya baik itu Dadan maupun berkas penting sudah ia kumpulkan.


"Apa dibawah yah?" Lanang memperbaiki penampilannya sembari membawa beberapa peralatan yang ia butuhkan.


Ia menuruni anak tangga dan tidak melihat keberadaan Yara sama sekali, didapur juga tidak ada.


"Tun, apa kamu melihat istri ku?"tanya Lanang pelan.


Atun menggeleng pelan, karena sejak tadi ia ada dihalaman belakang membersihkan tanaman. Dan ia baru saja datang untuk mengambil alat penyiram.


"Maaf den, saya sejak tadi di belakang dan saya tidak melihat nona sejak pagi ini."


"Baiklah terima kasih yah!"


Lanang melihat lihat lagi namun tidak menemukan kehadiran Yara.


"Mas sedang mencari mbak Yara?" Tanya Azri pelan .


Lanang melihat kearah Azri yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya dan hendak berangkat ke sekolah.


"Iya zri, apa kamu melihat Mbak ?"


"Mbak sudah berangkat pagi-pagi tadi mas, papah yang antar karena mbak Yara mengatakan mas tidak masuk hari ini karena sakit."


Lanang mengeryit pelan, padahal kan Yara melihat sendiri Lanang bangun dan langsung ke kamar mandi dan itu sudah jelas menunjukkan Lanang akan berangkat kerja.


"Oh iya bagaimana keadaan mas?"


"Aahh mas baik-baik saja , sudah mendingan."


"Syukurlah mas, mbak Yara belum pernah khawatir seperti itu sejak Azri mengenalnya."

__ADS_1


Lanang kebingungan, ia sama sekali tidak faham dengan maksud Azri. Memang semalam Yara sempat menangis dan memeluk nya namun bukankah itu adalah bagian dari aktingnya?.


"Memang nya selama mas diperiksa mbak Yara kenapa?"


"Mbak Yara terlihat sangat khawatir mas, belum lagi sejak kedatangan kami mbak Yara tak hentinya menangis mengatakan kalau ia takut terjadi sesuatu dengan mas. Akhh aku jadi iri dengan mas, karena mbak Yara belum pernah melakukan hal itu kepada ku. Bahkan saat aku sakit ia tidak pernah perduli sama sekali,"jelas Azri dan itu menimbulkan kebingungan dihari Lanang.


"Mas pasti sudah membuat mbak menangis hebat, mas jadi merasa buruk."Lanang merasa sedikit bersalah kepada Yara.


Terlihat galak diluar seolah ia adalah macan yang siap menerkam. Namun, ternyata sangat rapuh dan lemah dalam dirinya.


"Apa kamu hendak ke sekolah? Bagaimana kalau kita berangkat bersama saja. Biar mas yang anterin,"ucap Lanang pelan dan Azri langsung setuju.


Sejak tadi Lanang mencoba menghubungi nomor Yara namun gadis itu tidak mengangkat atau menggubris panggilan nya. Ia ingin menanyakan apakah ada masalah kenapa sampai berangkat pagi sekali sampai tidak menunggu nya.


"Kenapa dia tidak mengangkat panggilan ku? Apakah terjadi sesuatu dengan nya?" Lanang masih saja mencoba menghubungi Yara.


Sebuah mobil berhenti tepat dihadapan Lanang dan mobil itu sangat familiar Dimata Lanang. Ia dibuat bingung karena Hana keluar dari mobil itu sembari tersenyum ramah.


"Terima kasih banyak pak, saya sudah banyak merepotkan bapak."


Lean keluar dari mobil itu lalu tersenyum kearah Hana "Hmm berhenti berkata merepotkan, hanya memberikan tumpangan apakah itu mengurangi jumlah kursi mobilku? Tidak bukan? Kecuali kamu memakan kursi baru disebut merepotkan."


"Baiklah kalau begitu saya permisi yah, selamat bekerja untuk kalian!"


Lean tersenyum melambaikan tangan dan dibalas oleh Hana dengan cepat kemudian diikuti oleh Lanang dengan kaku.


"Saat hendak melewati simpang aku tidak sengaja bertemu dengan pak Lean mas, karena arah tujuan kami sama maka pak Lean memberikan tumpangan padaku."


Hana memberitahu apa yang terjadi padahal Lanang sendiri tidak pernah meminta Hana untuk menjelaskan itu.


Lanang masih saja sibuk menghubungi Yara yang sejak tadi tak mengangkat panggilan nya. Ia tersenyum kearah Hana menanggapi ucapan Hana.


"Baguslah, pak Lean memang orang baik dan kita beruntung bisa mengenalnya Han, baik-baik lah padanya yah."


Hana dengan cepat mengangguk pelan, walaupun ada rasa sedih dihatinya karena reaksi Lanang begitu berbeda hari ini. Ia terlihat sangat sibuk dan hampir saja mengabaikan nya. Namun, setelah melihat keadaan Lanang terlihat sedikit berbeda wajahnya masih sedikit pucat dan beberapa ruam masih terlihat samar diwajah dan tangannya membuat Hana menjadi khawatir.


"Apa mas sakit? Kenapa wajah mas terlihat sedikit pucat?" Tanya Hana khawatir.


Lanang tersenyum pelan "Hmm apa kamu lupa pesan mas terakhir kali?"

__ADS_1


"Tidak usah memperdulikan mas Hana harus memperhatikan kesehatan Hana lebih dari apapun!" Sebut Hana dengan semangat.


Sebuah elusan Lanang berikan dipucuk kepala gadis muda itu, Lanang melakukan itu hanya karena bangga saja Hana mengingat pesannya sedang Hana sendiri sudah merasakan jantungnya tidak aman karena gugup dan melting.


"Kamu sangat pintar Han,jadi kedepannya tidak usah perdulikan mas atau memikirkan kondisi mas yah. Kamu harus lebih memperhatikan kesehatan mu lebih dari apapun itu, ingat kita harus kuat untuk lebih bahagia hehehe."


Hana tersenyum mengangguk karena ia benar-benar mendapatkan kekuatan dan semangat saat berada disekitar Lanang, pesan dan juga nasehat Lanang selalu saja membuat ia semakin excited.


Hana tersenyum merasa lucu dengan Apa yang ia lihat saat ini, karena sejak tadi ia tidak hentinya memperhatikan Lanang dan Hana yang saling berkomunikasi dengan cara yang tidak biasa. Mereka bagaimana anak muda yang sedang kasmaran dan dimabuk cinta, seperginya Lean Yara tak hentinya memandangi mereka berdua.


"Bahkan untuk beristirahat saja ia enggan karena takut tidak bertemu dengan gadis itu,"ucap Yara tertawa pelan.


Ingatan semalam membuat Yara begitu malu, jelas-jelas Lanang tak akan mengingat ciuman dari seorang gadis perawan tua. Entah kemana otaknya hingga ia melakukan hal bodoh itu terhadap Lanang.


Pasti Lanang sudah mati-matian mengejeknya dalam hati, apa dia kurang perhatian? Apa dia sudah tidak waras? Atau apakah dia sudah tidak punya malu? Yara benar-benar merasa malu dengan dirinya sendiri.


"Hahahaha, kenapa kamu begitu menyedihkan Yara? "Tawanya hambar.


Entah perasaan apa yang tiba-tiba muncul dari dalam lubuk hati Yara. Sedikit memilukan melihat kedekatan Lanang dengan gadis muda dan manis itu, Yara memang memiliki segalanya baik itu harta, pekerjaan, kekayaan dan juga pendidikan. Tapi entah kenapa ia merasa insecure tanpa sebab kepada seorang gadis muda yang bahkan tidak sebanding dengan nya.


"Kenapa aku seperti ini? Apa ini gejala karena aku terlalu lelah bekerja? Ahh aku hanya kecapean saja."


"Bagaimana dengan makan siang mu semalam? Maafkan mas dan nyonya Yara yah karena sudah meninggalkan kalian."


"Ah tidak apa mas, kenapa sampai minta maaf begitu hehehe. Setelah mas dan buk Yara pergi aku dan pak Lean memasak sisa bahan makanan untuk makan siang."


"Maafkan mas sekali lagi yah, entah kenapa mas begitu lapar hingga menghabiskan semuanya."


Hana tersenyum "Ahh mas tidak perlu minta maaf karena itu,aku senang melihat mas makan dengan lahap heheh."


"10 menit lagi kita akan mengerjakan proyek nya kalian bersiap-siap lah ."pak Danu.


Seketika Lanang dan Hana langsung menyiapkan barang-barang yang diperlukan nantinya.


...🍄 Bersambung🍄...


Wahhh cewek se perfect yara aja bisa merasakan yang namanya insecure? Bagaimana dengan ku yang bahkan tidak sepadan dengan nya?.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.

__ADS_1


See you guys 🧀


__ADS_2