Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 8: Worst


__ADS_3

...🍬Soundtrack #Anyone but you- byk Ava max🍬...


...💌Rumah adalah tempat ternyaman untuk singgah. Namun, pantaskah disebut rumah jika tak ramah? 💌...


         Hari sudah mulai gelap namun pekerjaan Yara belum juga kunjung selesai sejak tadi, sebenarnya ia bisa saja membiarkannya dan melanjutkan nya esok hari. Tapi Yara adalah tipe manusia yang tidak ingin menunda melakukan sesuatu karena ia tak ingin kehilangan sesuatu kembali seperti saat ia kehilangan wanita paling berharga dalam hidupnya.


Gadis itu terlihat sangat lelah tapi enggan untuk berhenti karena masih harus mengerjakan beberapa berkas lagi yang saat ini tergeletak minta dikerjakan tepat dihadapannya.


"Kenapa tumben sekali banyak begini? " Bingung Yara.


"Belum selesai? " Tanya Lean yang datang dari luar sembari memberikan minuman untuk Yara dan langsung diterima oleh gadis itu.


"Thanks, " Ucap Yara kemudian kembali mengerjakan berkas itu.


"Gitu doang? " Tanya Lean pelan hingga Yara mengernyit pelan karena mendengar itu.


"What ? " Tanya Yara pelan dengan wajah kebingungan.


"Udah ditemenin dari tadi sampai malem begini, udah dibeliin minum cuma dapat thanks doang? " Lean mengeluh dengan wajah ngeles hingga Yara langsung memasang wajah tak habis pikir.


"Sekedar mengingatkan yah saudara Lean yang terhormat, sepertinya sudah berkali-kali saya menyuruh anda untuk pulang tapi anda menolak. Dan untuk teh nya Terima kasih banyak. " Yara langsung fokus kembali setelah mengatakan itu.


"Serius banget elah, yaudah lanjut gihh. "


Lean tersenyum pelan lalu menyeruput teh hangat nya sembari melihat kearah gadis yang dihadapannya itu. Gadis itu terlihat sangat fokus dan beberapa kali berekspresi heran dan bingung saat melihat berkas itu.


"Lean! "


"Iya aku disini. "


"Coba lihat berkas yang ini bentar! Kenapa ada sesuatu yang janggal yah? " Yara menunjuk sebuah berkas dan dengan semangat Lean datang kearah gadis itu.


Kini jarak mereka sangat dekat karena Lean menunduk untuk melihat itu sembari tangannya memegang kursi milik Yara hingga posisi mereka sangat Ambigu seolah sedang berpelukan dari belakang.


Lean menjelaskan dengan pelan mengenai apa yang membuat Yara sedikit sangsi dengan apa yang saat ini ia baca itu.


Langkah kaki Lanang yang hendak mengetuk pintu kantor Yara langsung terhenti saat melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana diantara cela-cela pintu yang lupa ditutup oleh Lean saat masuk tadi.


Kantor sudah sangat sepi saat ini, seluruh karyawan sudah pulang kecuali pihak keamanan dan Lanang sudah diizinkan masuk kedalam dengan alasan menjemput Yara.


Mata Lanang sungguh dapat melihat jelas posisi ambigu tersebut walaupun tidak ada hal lain yang terjadi namun Lanang langsung faham mereka sedang tidak ingin diganggu saat ini.


"Baiklah kita tunggu nyonya diluar saja. " Gumam Lanang berjalan berbalik keluar untuk menunggu Yara selesai dan Pulang bersama agar tidak menimbulkan kecurigaan dalam keluarga mereka.


Lanang duduk dikursi sembari memikirkan banyak hal mulai dari masa lalu, masa sekarang dan bahkan masa depan yang masih samar dalam pikiran nya.


"Apa ibu dan Nabila sudah makan malam? Aku sangat penasaran mereka makan dengan apa tadi? "


Lanang bergumam dan merogoh ponsel miliknya kemudian menekan nomor ponsel milik adiknya yang memang sengaja ia beli agar bisa menghubungi kampung halamannya.


"Halo mas! " Suara lembut adiknya terdengar senang dan itu membuat Lanang tersenyum.

__ADS_1


"Halo Bila gadis manisku, bagaimana keadaan disana hmmm? " Tanya Lanang pelan.


"Kami baik baik saja disini mas, ibu sedang beristirahat dan sudah sangat mendingan mas. Bagaimana dengan mas? "


"Tentu saja mas baik-baik saja bila, jangan lupa yah memberikan obat secara rutin untuk ibu. "


"Siap mas heheh. "


"Apa ada hal yang kamu butuhkan hmm? Kalau ada jangan segan untuk mengabari mas yah. "


"Iya mas, saat ini tidak ada hal mendesak mas. Semoga semuanya lancar untuk mu mas. "


Lanang tersenyum dan panggilannya dengan sang adik pun berakhir dengan beberapa kalimat nasihat satu sama lain.


Sedikit rasa rindu nya kian terobati hanya karena berbicara singkat dengan sang adik. Ia tak hentinya tersenyum karena senang mendengar kabar baik datang dari kampung nya termasuk kondisi ibunya.


Tiba-tiba Yara dan laki-laki bernama Lean itu keluar dari dalam sembari berbicara dengan sesekali bercanda hingga Lanang langsung berdiri dan Yara yang melihat itu langsung bingung dengan situasi saat ini.


"Loh? Bukannya dia yang melambaikan tangan tadi? Kenapa dia disini seolah sedang menunggu seseorang saja. " Bingung Lean saat melihat Lanang.


Yara kepalang karena tidak tahu harus berkata apa saat ini, ia sungguh ingin berbohong dan memberi semua jawaban yang menujukkan tidak ada hubungan antara ia dengan Lanang.


Lanang yang melihat Yara terlihat sangat bingung itu langsung faham dan menunduk memperkenalkan diri.


"Permisi tuan, saya adalah supir dari nyonya Yara. Apakah saya mengganggu? " Tanya Lanang pelan.


Yara yang mendengar itu sedikit bingung kenapa tiba-tiba Lanang mengaku sebagai supir.


"Supir? Yakin? Kenapa pakaian mu tidak formal begitu? Dan tadi juga Yara berkata tidak mengenal mu saat kamu melambaikan tangan siang tadi. "


Yara melihat kesal kearah Lean, ia berkata seperti itu untuk membuat lean berhenti bertanya tentang Lanang nantinya. Sebab, laki-laki itu sangat sibuk mengenai orang-orang yang berada disekeliling Yara.


"Saya di ijinkan oleh nyonya untuk berpakaian bebas karena saya juga melakukan pekerjaan sampingan di Xoel studio tuan, " Jelas Lanang bersikap profesional walaupun ia sempat heran kenapa Yara berkata tidak mengenalinya.


Yara hanya diam saja merasa bingung dan malu secara bersamaan, laki-laki muda itu sangat ahli dalam hal berimprovisasi. Ia tahu harus bagaimana berekspresi dan juga bersikap bijak.


"Benarkah begitu hmm? " Tanya lean menyentuh bahu Yara dan Lanang melihat itu hanya diam saja. Ia faham betul dengan kedekatan mereka berdua.


"I,, iya. " Yara hanya diam saja karena kaget.


"Ohh baiklah, kalau begitu saya bisa pulang dengan tenang. Kalau kamu tidak ada sih saya juga bisa mengantar jemput Yara. " Lean sedikit cemberut.


"Sudah-sudah, aku lelah dan ingin secepatnya istirahat. Mari kita pulang! " Yara dengan cepat membuka pintu mobilnya dan masuk mengabaikan Lean dan Lanang diluar.


"Kamu berhati-hati lah saat mengemudi, jangan sampai Yara kenapa-kenapa! "


"Siap tuan, permisi! "


Lanang masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin sembari meninggalkan kantor dari jendela terlihat Lean menunggu mereka berlalu kemudian laki-laki itu juga memasuki mobil dan kembali pulang.


Lanang hanya diam saja dan fokus mengemudi sedangkan Yara juga ikut terdiam dengan banyak nya tanda tanya di benaknya saat ini. Apa Lanang marah karena ia bersikap seolah tak mengenal nya? Atau laki-laki itu kecewa dan semacamnya.

__ADS_1


"Bagaimana hari nyonya? Apakah berjalan dengan baik? " Tanya lanang pelan untuk memecah keheningan.


Yara langsung melihat kearah Lanang karena laki-laki itu ternyata tidak marah, buktinya ia memulai sebuah pembicaraan dengan mencari topiknya juga.


"Hmm biasa saja, bagaimana dengan mu? " Tanya balik Yara dan ia pun teringat dengan gadis muda yang terlihat sangat menyukai Lanang itu.


"Alhamdulillah berjalan lancar nyonya heheh. " Senyum lanang dan itu membuat Yara mengeryit.


"Apa kamu senang bekerja disana? " Tanya Yara.


"Saya merasa nyaman bekerja disana nyonya karena memang saya juga menyukai pekerjaan tersebut. "


"Iyakah? Atau karena hal lain kamu mereka senang berada disana? " Selidik Yara.


"Maksud nyonya? "


"Sudahlah aku lelah dan ingin istirahat, kalau sudah sampai tolong bangunkan aku! " Yara mencoba untuk memejamkan matanya karena perjalanan kerumah masih ada sekitar 40 menit lagi.


Lanang menganggukkan kepala dan kembali fokus menyetir sembari melihat sesekali kearah Yara yang benar-benar sudah mulai terlelap itu.


"Hmmm pasti dia sangat kelelahan karena menghadapi banyak tugas hari ini, " Gumam Lanang.


Setelah beberapa menit berlalu sampailah Lanang dengan Yara di depan rumah, dengan perlahan Lanang membuka pintu mobil agar tidak membangunkan Yara. Gadis itu benar-benar terlelap hingga Lanang tidak sampai hati untuk membangunkan nya dan ia pun memilih untuk menggendong nya saja.


Bahkan sampai pada gendongan Lanang saja Yara benar-benar tidak bergerak ataupun merasa terganggu sedikitpun, benar-benar sangat terlelap.


Saat Lanang membuka pintu rumah disana Ayah sedang sibuk membenarkan sesuatu di sofa dan kaget melihat Lanang datang dengan Yara dalam gendongannya.


"Kenapa dengan nya? " Panik sang ayah karena melihat putrinya lemah dalam gendongan Lanang.


"Hanya tertidur biasa pah, " Jelas Lanang.


"Ouhh, yasudah bawa dia ke kamar. " Ayah tersenyum dan benar-benar merasa senang saat melihat keuwuan putri dan menantunya itu.


"Permisi pah." Lanang berlalu meninggalkan ayah di ruang depan.


Ayah semakin yakin dengan kebahagiaan putrinya, melihat Lanang begitu perhatian dan juga penuh kasih sayang pada putri tunggalnya itu.


"Apa posisi ku sudah digantikan oleh menantuku hahah, " Ucapnya dengan wajah penuh kebahagiaan.


"Gadis itu terlihat sangat nyaman dalam gendongan Lanang haha. Ya Tuhan kenapa aku merasa sangat senang hanya karena itu? " Ayah tak hentinya tersenyum.


Kebahagiaan seorang putrinya adalah hal yang setiap Ayah inginkan. Karena mereka akan khawatir jika putrinya jatuh pada laki-laki yang tidak tepat.


...🍒Bersambung🍒...


Wahhh Ayah nih gak tau aja kebeneran yang sesungguhnya. Wkwkwk


Jangan lupa yah like, komen dan votenya wan kawan.


See you guys🧀

__ADS_1


__ADS_2