Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 29: Rasa yang tak diundang.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #driver license-Olivia Rodrigo🍬...


...💌 Karena aku mulai merasakan nyaman,aku mulai takut akan jatuh cinta sendirian💌...


       Sejak tadi Hana dan Lanang tidak hentinya mengerjakan proyek baru yang diembankan kepada mereka berdua. Lanang terlihat fokus dengan laptop miliknya, saat ini ia sedang mengerjakan sentuhan terakhir untuk proyek itu. Karena ia sudah sangat terbiasa semua proyek ia kerjakan tanpa memakan banyak sekali waktu namun karena proyek yang satu ini agak banyak maka kini sudah malam mereka belum juga selesai mengerjakan nya.


"Hana!"


"Iya mas,"ucap Hana langsung mendekat kearah Lanang karena tiba-tiba ia dipanggil pasti ada sesuatu yang dibutuhkan.


"Apa ada sesuatu yang mas butuhkan?"tanya Hana pelan dan Lanang menggeleng pelan.


"Segera bereskan semua barang-barang mu, hari sudah malam dan sedikit lagi ini akan selesai."


Hana tersenyum dan mengangguk pelan, ia merasa mereka seperti seorang pasangan ditempat kerja saja. Sama-sama mengerjakan proyek dan bahkan sama-sama meninggalkan studio nantinya.


"Apa mas Lanang ada waktu malam ini?"tanya Hana pelan.


Lanang yang mencoba menghubungi Yara karena sudah selesai mengerjakan proyek itu tidak mendengar pertanyaan Hana sama sekali.


"Kenapa dia tidak pernah menjawab nya? Tidak mungkin seharian ia tidak pernah memegang ponselnya."gumam Lanang pelan.


Sejak tadi ia mencoba menghubungi Yara karena gadis itu belum pernah mengangkat teleponnya dan bahkan tidak menelepon dia kembali.


"Apa terjadi sesuatu dengan nya?" Batin Lanang.


Hana berkali-kali memanggil Lanang namun karena sibuk dengan urusan Yara Lanang sampai tidak mendengar nya.


"Mas," panggil Hana untuk yang ketujuh kalinya dan kali ini ia mengeraskan suaranya.


"Eh? Ada apa Hana?" Tanya Lanang lembut.


"Apa mas sedang sibuk? "


"Kenapa?"


"Apa mas ada waktu malam ini?"


"Ha?"


"Aku ingin mengajak mas makan malam karena malam masih belum terlalu panjang."


"Maafkan mas yah Han, kamu tahu sendiri kan kalau mas masih harus bekerja sebagai sopir nyonya Yara. Kamu makan dan belilah apapun yang kamu inginkan tidak usah perdulikan mas,"ucap Lanang lembut.


Hana tersenyum kecut namun ia memaklumi posisi Lanang saat ini, laki-laki itu masih harus bekerja ia tidak boleh memaksanya.


"Baiklah mas, kalau begitu saya permisi untuk pulang lebih dulu." Hana menenteng tasnya dengan berat hati meninggalkan Lanang lebih dulu.


Lanang mengangguk tersenyum dan membalas lambaian tangan Hana. Kemudian ia kembali fokus menghubungi Yara.


"Ahhh tidak bisa begini, aku akan kesana untuk melihat nya."


Lanang memasukkan laptop nya juga beberapa peralatan lainnya kedalam ranselnya dan keluar dari studio menuju pusat perbelanjaan Yara.


"Apa benar-benar terjadi sesuatu dengan nya," gumam Lanang khawatir.


Namun, belum juga sampai ia melihat Yara keluar dari kantor miliknya dengan Lean. Mereka tertawa pelan seperti sedang membahas sesuatu yang menarik.

__ADS_1


"Ahh, aku khawatir tanpa alasan." Lanang melambatkan jalannya kemudian menghampiri Yara juga Lean.


"Selamat malam nyonya, pak Lean!" Sapa Lanang tersenyum.


Yara yang melihat Lanang langsung terdiam padahal tadi ia sedang tertawa karena mendengar lelucon absurt dari Lean.


"Ooh Lanang, hai."


"Pacarmu dimana? kenapa kamu sendirian?"


Yara yang mendengar itu kemudian melirik Lanang padahal sejak tadi ia menghindari bersitatap dengan Lanang.


"Pacar? Maksud bapak apa?"


"Hana, bukankah dia pacarmu?"


Yara melebarkan telinga menunggu Jawaban Lanang mengenai hubungannya dengan Hana gadis muda yang merupakan teman sekampung nya.


"Hahaha bapak salah faham," tawa Lanang.


"Apa maksud dari tawa itu? Apakah itu menunjukkan kalau mereka memang pacaran?" Batin Yara.


"Ha? Kamu tertawa seolah itu adalah kebenaran hmmm."goda Lean.


"Bapak salah faham, dan Hana sudah pulang lebih dulu pak karena pekerjaan kami selesai dengan cepat."


"Kamu membiarkan nya pulang sendirian?" Tanya Lean dan dibalas anggukan oleh Lanang.


"Wahhh bagaimana bisa kamu begitu pengecut sebagai laki-laki? Seharusnya kamu mengantarnya pulang."


"Ta,,tapi saya harus bekerja pak, menjadi sopir nyonya Yara."


"Mari nyonya,"ucap Lanang hendak membukakan pintu untuk Yara.


"Bukankah kita sudah janjian makan malam ?" Tanya Yara menarik Lean yang hendak masuk kedalam mobil nya .


"Ha? Makan malam?" Lean memandang dengan penuh tanda tanya kearah Yara. Karena sejak tadi mereka tidak pernah membuat janji untuk makan malam.


Yara mencubit pelan pinggang Lean agar laki-laki itu menurut dan membantunya mencari alasan. Karena ia sungguh tidak ingin berdua bersama Lanang di dalam mobil.


Seharian ia membiarkan Lanang terus saja mengubungi nomornya padahal ia melihat nomor ponsel Lanang dilayar ponselnya.


"Ooh,, makan malam yah. Aku sampai lupa hehehe,"Lean yang akhirnya mengerti langsung mengikuti alur drama yang tiba-tiba Yara ciptakan itu.


"Kamu nih main lupa aja, "ucap Yara pelan.


"Yasudah kita makan malam dimana?aku lupa kita janjian makan dimana. Bagaimana kalau kamu ikut saja?"tanya Lean kepada Lanang namun langsung saja Yara menginjak kakinya.


"Akhh,, Kenapa kamu menginjak kaki ku? "


"Lanang pasti lelah seharian bekerja kan? Kamu pulang lah lebih dulu nanti biar Lean yang mengantarkan ku."


Lanang langsung faham bahwa Yara tidak ingin ia ikut, sejak tadi Lanang sudah memperhatikan Yara dan gadis itu terlihat sangat ingin menghindari Lanang. Melihat ponsel yang kita berada dalam genggaman Yara sudah jelas Yara memang sengaja mengabaikan panggilan nya seharian.


"Kita tidak tahu, siapa tau Lanang akan bersedia ikut dengan kita."


"Sebelumnya terima kasih pak atas ajakannya, tapi saya masih memiliki tugas lain dan tidak bisa bergabung dengan bapak juga nyonya."

__ADS_1


Lanang tahu betul situasi saat ini dan ia tidak ingin menganggu mereka berdua.


"Benarkah?"


"Sudah-sudah, kita sebaiknya berangkat sekarang sebelum malam semakin panjang."


"Sabar dulu elahh, kamu sudah lapar apa bagaimana? "


"Silahkan duluan saja pak semoga makan malamnya lancar,"ucap Lanang tersenyum.


Setelah Yara dan Lean pergi barulah Lanang memasuki mobil dengan perasaan bingung karena sikap Yara yang begitu aneh hari ini.


"Kenapa menatap ku sejak tadi? Apa ada yang ingin kamu katakan kepada ku?"


Lean masih saja menatap Yara dengan perasaan penuh curiga "Makan malam yah? Kenapa tiba-tiba kamu bersikap aneh seperti tadi? Mencurigakan sekali." Selidik Lean .


"Yahh emang salah kalau aku pengen makan malam?"


"Bukan itu yang menjadi permasalahan nya. Kamu seperti sedang beralasan saja, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Tanya Lean masih saja curiga.


Yara mendecak kesal karena Lean yang selalu saja bersikap kepo dan bersemangat dalam kehidupan Yara.


"Sudahlah kalau tidak mau yasudah, antarkan aku pulang saja."


"Yahh gitu aja ngambek, yaudah dehh aku gak nanya lagi."


Yara terdiam memikirkan bagaimana lagi ia harus bereaksi saat bertemu Lanang nanti. Banyak alasan yang membuat ia sangat ingin menghindari laki-laki muda itu, terutama ia masih sangat malu karena kejadian semalam dimana ia dengan bodohnya mencium Lanang.


"Bisa-bisanya dia muncul dihadapan ku seolah tidak ada yang terjadi dengan kami,"batin Yara.


Belum lagi ia sangat malu karena kejadian Lanang yang sakit akibat memakan masakan nya. Akhh sudahlah banyak sekali keburukannya Dimata Lanang.


"Bagaimana ini? Kenapa aku menjadi bodoh dan ceroboh saat didekat nya? Akhh sial!"


"Kenapa? Kamu terlihat sangat tidak nyaman sejak tadi?"


"Hmm Lean, aku sudah tidak lapar lagi. Bagaimana kalau kita pulang saja?"


Lean langsung menggeleng karena Yara yang sangat tidak jelas sejak tadi.


"Kamu kenapa sih? Apa ada masalah?"


Yara dengan cepat menggeleng"Aku tiba-tiba merasa kenyang, kamu sih nyetirnya kelamaan. "


"Lah? Kok malah nyalahin aku? "


"Yahh pokoknya gitu deh, aku mau pulang aja aku udah gak mood makan."


Lean menggeleng kesal karena Yara yang tidak jelas itu, dengan berat hati ia memutar balik mobil karena kalau pun ia berdebat untuk tetap memaksa makan malam malah Yara akan ngotot pulang walaupun tidak diantar oleh nya


Sementara Lanang sejak tadi merenung dan menelaah dalam-dalam mengingat semua sifat dan sikapnya saat sedang bersama Yara. Apakah ada kesalahan yang ia perbuat hingga Yara benar-benar menghindari nya bahkan tak ingin bertemu dengan nya. Dilihat dari cara gadis itu memalingkan wajah dari nya membuat ia semakin bingung saja.


"Apa sebenarnya yang terjadi dengan nya?apa aku melakukan kesalahan?" Lanang terus saja memikirkan apa ia melakukan kesalahan.


...🍄 Bersambung🍄...


Wahhh mbak Yara makin cemburu niehh, tanda-tanda benih cinta mulai bersemi nih.

__ADS_1


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀


__ADS_2