
...🍬 Soundtrack this part #miss u Miss me-just stef🍬...
...💌 Berjalan bukan berlari, karena hidup ini adalah sebuah perjalanan bukan sebuah pelarian💌...
Lanang fokus menyetir menuju rumah setelah mengantar Hana pulang ia langsung pulang ke rumah tanpa menunggu Yara. Awalnya ia ingin tetap bersikukuh menunggu Yara pulang namun ia urungkan karena takut Yara akan semakin marah padanya karena tidak mau menurut.
"Hmmm, harus beralasan apa lagi aku sekarang agar papah tidak curiga?" Gumam Lanang masih sibuk menyetir.
Ia bingung harus memberikan alasan apa lagi kepada papah mengapa ia pulang lebih awal lagi tanpa Yara? Seperti halnya semalam papah bertanya kenapa Lanang pulang lebih dulu tanpa Yara? Untung saja ia bisa memberikan alasan yang tepat dan kini ia bingung harus beralasan apa lagi.
Sampai di depan rumah Lanang langsung memasukkan mobil ke garasi dan berhak pelan menuju pintu.
"Loh?"
Lanang dikagetkan oleh sosok Yara yang sudah berdiri didepan rumah seolah sedang menunggu nya.
"Akhirnya datang juga,"ucap Yara tersenyum kearah Lanang meskipun terkesan canggung dan juga gugup Yara tetap berusaha profesional dan ia benar-benar akan membulatkan tekadnya.
"Nyonya menunggu saya?" Tanya Lanang pelan dan dibalas anggukan oleh Yara.
Lanang mengeryit pelan karena ia masih ingat dengan jelas isi pesan Yara yang menyuruhnya untuk pergi lebih dulu karena ia akan makan malam dengan Lean.
"Bukankah nyonya ada janji dengan pak Lean?"
"Akhh sudahlah, aku sejak tadi sudah menunggu mu disini. Kenapa kamu lama sek?" Cicit Yara pelan.
"Sa,,saya pikir nyonya tidak menunggu saya, apa ada sesuatu yang penting nyonya?" Tanya Lanang pelan.
Yara mengangguk cepat "Mari,di kamar saja kita bicarakan,"ucap Yara pelan.
Lanang semakin dibuat penasaran karena Yara begitu terburu-buru sampai menarik tangannya dengan genggaman erat. Baru kali ini genggaman Yara terlihat sangat bersahabat.
"Loh, ada apa ini kenapa kalian berdua berlari?" Tegur papah yang sedang berjalan dari arah dapur dan dikagetkan oleh Lanang dan Yara yang masuk nyelonong lari-lari seperti dikejar depkolektor.
"Kami ada urusan pah, kami ke kamar sekarang!" Yara menarik Lanang yang terlihat pasrah ditarik-tarik oleh Yara.
Papah tersenyum smirk seolah ia tahu urusan apa yang dimaksud oleh putrinya itu.
"Wahh begitu tidak sabarnya kah sampai berlari begitu? Malam kan masih belum terlalu panjang kenapa buru-buru begitu? Hahahah anak muda jaman sekarang." Papah tertawa pelan karena pikirannya sedikit traveling melihat kelakuan putri dan menantunya itu.
__ADS_1
"Kenapa dengan mbak Yara dan mas Lanang pah? Mereka terlihat buru-buru begitu?" Tanya Azri yang sempat melihat Yara dan Lanang yang buru-buru itu.
"Membuat ponakan untuk mu sayang,biar kamu ada teman disini."
Azri langsung ngeh dan tersenyum karena ucapan papahnya, benar-benar diluar dugaan sekali mereka benar-benar pasangan suami istri sungguhan dihadapan semua orang dirumah.
Lanang langsung di dudukkan oleh Yara ditepi ranjang begitu juga dengan Yara yang ikut duduk disamping Lanang hingga mereka saling berhadapan.
"A,,ada apa nyonya? Kenapa buru-buru sekali? Apa nyonya baik-baik saja?" Lanang masih belum mengerti maksud Yara membawanya buru-buru kedalam kamar.
Yara menarik nafas dalam-dalam dan menutup mata pelan mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya ia inginkan kepada Lanang.
Lanang masih saja setia menunggu apa yang akan Yara katakan padanya.
Sudah hampir 5 menit berlalu Yara masih belum sanggup untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Apa ada masalah nyonya?" Tanya Lanang pelan menunggu jawaban Yara sungguh seperti menunggu rambut Upin dan Ipin tumbuh lebat.
"Hmmm dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini, tolong jangan lagi bertanya karena aku akan mengatakan nya dengan jelas."
Lanang langsung mengangguk dengan cepat "Baiklah nyonya, apa sebenarnya yang ingin nyonya sampaikan?"
"Mari kita buat anak,"ucapnya dengan wajah enteng walaupun sebenarnya dihatinya sudah merasa malu .
Lanang yang mencoba mendengarkan dengan seksama langsung kebingungan saat kata kata itu keluar dari bibir mungil Yara.
"A,,anak? Maksud nyonya apa?" Tanya Lanang langsung angkat suara Karena ia sungguh tidak mengerti atau ia hanya salah mendengar nya.
Sebenarnya melihat reaksi Lanang nyali Yara sudah sangat ciut, bagaimana bisa Yara meminta hal tidak masuk akal seperti itu kepada Lanang yang hanya seorang suami kontrak untuknya.
Dengan sekuat hati Yara mencoba untuk tetap bermuka tebal yang seolah ia tidak perduli dengan reaksi terkejut dari Lanang.
"Aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh bertanya, apa perkataan ku kurang jelas?"
Lanang masih belum juga faham karena ia sungguh merasa tak masuk akal Yara tiba-tiba meminta untuk mereka membuat anak.
"Membuat anak? Maksud nyonya bagaimana? Saya hanya salah mendengar nya bukan?" Lanang mencoba untuk memperjelas maksud dari Yara.
"Yahh membuat anak, kita menghasilkan anak ."
__ADS_1
Lanang masih mengeryit " Maksud nyonya kita berdua membuat anak?"
Yara memutar bola matanya karena merasa sangat malu namun ia berusaha stay cool.
"I,,iya, kita berdua membuat anak."
"Ba, bagaimana caranya nyonya? Saya sungguh tidak mengerti maksud dari membuat anak yang nyonya maksud."
"Yahh kita berdua harus melakukan nya untuk bisa membuat anak." Ucap Yara samar namun masih bisa di dengar oleh Lanang.
"Ma,, maksud nyonya kita berhubungan layaknya suami istri untuk menghasilkan anak? Kenapa tiba-tiba sekali?"
Yara benar-benar kehabisan kata-kata karena Lanang langsung menyudutkan dengan pertanyaan itu. Bagaimana ia bisa membujuk Lanang tanpa harus memberitahu yang sebenarnya.
"Iyh, akhirnya kamu faham juga,"ucap Yara tersenyum canggung.
Lanang menatap kearah Yara dengan seksama hingga Yara sedikit salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apapun.
"Apa saat ini nyonya sedang bercanda? Benar-benar diluar dugaan."
Yara menggeleng dengan cepat "Aku serius mengajak mu, aku tidak sedang bercanda!"
Lanang langsung terdiam dan tidak habis pikir dengan apa yang gadis itu minta malam-malam begini, setelah ia mencium Lanang dan bahkan mendiamkan nya ia kembali datang dengan permintaan yang tidak masuk akal bagi Lanang.
"Ba,, bagaimana?" Tanya Yara pelan namun tidak dijawab oleh Lanang.
Lanang terlihat berpikir keras dan terdiam sejenak " Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa dan saya akan mencoba melupakan permintaan nyonya tadi. Saya akan berpura-pura tidak pernah mendengar nya"
Lanang bangkit namun ditahan oleh Yara "Apa alasanmu menolak nya? Aku butuh alasan," ucap Yara.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa."
Lanang langsung berlalu meninggalkan Yara yang masih terdiam itu.
...🍄 bersambung🍄...
Waduhh main ngajak bikin anak aja haah.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys 🧀