Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 33: Apa aku terlalu tidak tahu malu?


__ADS_3

...🍬 Soundtrack #just a friend to you-meghan Trainor🍬...


...💌 Dari awal kita memang sudah salah, selalu saja berusaha mencari kesamaan tanpa pernah mencoba menyatukan perbedaan💌...


     Setelah mengatakan untuk ia berpura-pura tidak mendengar ucapan Yara Lanang langsung memasuki kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Sementara Yara masih terdiam duduk diposisi semula, ia benar-benar kehabisan kata-kata dan menahan malu yang teramat sangat.


Overthingking yang kian menjadi-jadi dalam dirinya, banyak hal yang memenuhi pikirannya . Hatinya menuntut alasan Lanang menolak ajakan nya itu, setidaknya ia harus tahu alasannya untuk ia jadikan tolak ukur apakah masih ada harapan untuk nya terus berusaha atau ia urungkan saja ?.


"Hahahaha kenapa tiba-tiba hatiku sedikit tersentil?" Tawa hambar yang lolos dari bibir Yara.


"Alasan yah? Sepertinya aku tahu alasannya menolak ku, tapi tetap saja aku ingin kejelasan dari alasan itu."


Lagi-lagi ia teringat Hana gadis muda yang berkeliaran disekeliling Lanang. Jelas-jelas jika dibandingkan para lelaki akan lebih memilih Hana dengan sikap lugu,polos dan juga cerianya sangat berbeda dengan Yara yang bahkan semua orang di pusat perbelanjaan miliknya terlihat sangat segan atau bahkan membenci sikapnya itu. Belum lagi usia yang terpaut jauh dari Lanang pasti membuat laki-laki itu lebih memilih Hana yang lebih muda dibandingkan Yara.


Lanang sendiri menatap dirinya dipantulan kaca kamar mandi, masih ia ingat dengan jelas kata-kata Yara saat mengatakan untuk mereka membuat anak. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana jalan pikiran gadis itu hingga mengatakan hal yang begitu sakral seolah itu adalah sebuah candaan.


07.45Am


Pagi sudah tiba dan Lanang sudah selesai berkemas begitu juga dengan Yara yang sejak bangun tadi tidak pernah mengeluarkan kata-kata apapun. Mereka saling mendiamkan dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Lanang benar-benar merasa situasi saat ini sungguh tidak nyaman, seolah ia sedang berjalan diatas lapisan es yang sangat tipis karena rasa tidak nyaman itu.


"Apakah nyonya tidak sarapan lebih dulu?" Tanya Lanang langsung saat melihat Yara hendak berangkat dengan tas ditangannya.


Yara menoleh kearah Lanang "Wahh, dia benar-benar berpura-pura seolah tidak mendengarkan apa yang aku katakan tadi malam? Dia bersikap biasa saja setelah situasi canggung itu?"batin Yara sedikit kesal.


"Baiklah aku juga akan melakukan hal yang sama,"ucapnya lagi dalam hati.


"Hmm tidak sempat, kamu antarkan saja aku ke kantor."


"Bagaimana kalau nanti nyonya sakit jika tidak sarapan lebih dulu?"


"Aku sarapan dikantor saja dengan Lean,"ucap Yara pelan.


Lanang langsung mengangguk faham karena ucapan Yara. Memang mereka seringkali ditangkap oleh mata Lanang sedang sarapan berdua.


Mereka berangkat dan meninggalkan pekarangan rumah, suasana di dalam mobil sangat hening karena tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Baik itu Lanang dan begitu juga dengan Yara yang sedang berpikir keras bagaimana cara membuat Lanang mau menerima tawarannya.


"Apa aku tanyakan saja dia mau dibayar berapa? Akhh kesannya seperti seorang gig*lo saja."


"Bagaimana kalau saya belikan sarapan untuk nyonya?"tawar Lanang.


Yara buru-buru menggeleng "Tidak usah, nanti juga Lean pasti beliin makanan."


Lanang mengangguk pelan dan kembali terdiam sembari fokus menyetir melihat kedepan, ia tahu kalau saat ini Yara sedang tidak ingin berbicara dengan nya tapi ia harus tetap mengajak Yara mengobrol agar tidak semakin canggung.


"Apa nyonya ada urusan mendadak sampai berangkat sepagi ini?"


"Hmm aku selalu memiliki banyak kesibukan di kantor."


Yara menjawab seadanya saja, Lanang sudah mulai kehabisan ide untuk mengajak Yara mengobrol.

__ADS_1


Yara sendiri benar-benar sedang berpikir keras bagaimana lagi ia akan membujuk laki-laki itu? Ia bahkan sudah pernah memakai lingerie namun Lanang tidak tergoda sama sekali dan ia bahkan nekad mengajaknya langsung namun laki-laki itu menolak. Ia sudah bukan pertama kalinya mempermalukan diri dihadapan Lanang.


Setelah sampai di kantor Yara langsung turun begitu saja dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Lanang ia langsung berlalu begitu saja.


"Apa dia marah?" Batin Lanang.


"Hai mas, Kenapa tumben pagi sekali datangnya?" Hana langsung menyapa Lanang yang hendak berjalan menuju studio.


Yara yang belum sepenuhnya jauh dari Lanang langsung terhenti dan berbalik melihat kearah Lanang dan Hana yang berinteraksi begitu hangat itu.


"Kamu sudah di sini pagi-pagi begini?" Tanya balik Lanang dan dianggukan oleh Hana dengan senyuman ramah.


"Iya mas, kebetulan ada beberapa peralatan yang diperlukan oleh pak Danu tadi."


Lanang tersenyum lalu mengelus pelan Surai hitam Hana seolah saat ini adiknya lah yang ada dihadapannya. Tingkah Hana begitu mirip dengan adiknya hingga ia seringkali tersihir dan salah mengira Hana adalah adiknya.


"Bagus,kamu sangat hebat ." Lanang berlalu memasuki studio.


Hana Yang mendapatkan perlakuan manis dari Lanang langsung tersenyum kegirangan hingga ia melompat-lompat karena senangnya.


"Aku,,aku hebat. Kata mas Lanang aku hebat,"ucap Hana merasa bangga mendapatkan pujian itu langsung dari Lanang.


Yara tersenyum masam saat melihat itu, benar-benar sudah sangat jauh harapannya untuk bisa mendapatkan Lanang eh untuk membujuk Lanang. Gadis itu bahkan diperlakukan lembut oleh Lanang.


"Hei cantik, kenapa kamu berdiri disini? Turun jabatan jadi kang pintu?" Tanya Lean yang baru saja datang dengan sebuah Tote bag ditangannya.


Yara yang sedang melihat kearah Hana langsung berpaling melihat kearah Lean "Kang pintu matamu!"


"Kenapa dia begitu menggemaskan?" Gumam Lean pelan.


Yara yang mendengar itu langsung melihat kesal kearah Lean. Lean bahkan mengatakan kalau Hana sangat menggemaskan,dan mendengar itu tiba-tiba saja Yara merasa sangat jengkel tanpa sebab. Ia kesal karena itu adalah kenyataan karena ia saja yang merupakan seorang perempuan mengakui Hana begitu polos dan juga imut.


"Menggemaskan? Menurut dia menggemaskan?" Tanya Yara pelan.


"Hana sangat lucu dan juga supel pada semua orang, kamu pasti tidak akan faham karena kalian sangat berbeda."


Ucapan Lean begitu menusuk hati Yara, ia tahu Lean adalah laki-laki yang sangat blak-blakan namun tetap saja ia sedikit tersinggung.


"Kenapa kamu selalu saja datang ke kantor orang lain? Tidak punya pekerjaan apa?" Ketus Yara mendorong Lean pelan lalu berlalu meninggalkan Lean yang masih melihat kearah Hana.


"Kenapa dia begitu cantik? Aku sampai tidak bosan melihat nya."


"Ha? Kenapa dengan ku? Aku hanya mencintai Yara seorang. Kenapa kamu jelalatan dengan Hana? Dasar lelaki hidung belang!" Lean menggelengkan kepalanya karena sempat terpikat oleh sosok Hana yang polos itu.


Ia melihat kesana-kemari namun tidak melihat sosok Yara "Kemana dia?" Gumam Lean memasuki kantor dan mencari Yara.


"Yar, tungguin abang ganteng dulu!" Lean  memasuki lift yang hendak tertutup itu.


"Kenapa kamu pergi lebih dulu? "


"Tau!"

__ADS_1


"Kamu marah? Kok tiba-tiba?"


"Bodo!"


"Yar, kenapa sikapmu aneh begini? Kamu gak lagi ngambek kan?"


Yara semakin kesal karena saat ia ngambek saja Lean tidak setuju, apa ia tidak pantas mendapatkan perhatian?.


"Kamu belum sarapan kan? Nih Abang ganteng bawain makanan biar kita sarapan bareng,"ucap Lean menyodorkan Tote bag itu kearah Yara namun langsung ditepis oleh Yara yang moodnya sudah terlanjur hancur pagi ini.


"Aku tidak lapar, kamu pergilah ke kantor mu! Jangan ganggu aku,"ucap Yara menunggu Lean didalam lift.


Yara sudah merasa pesimis dengan semua harapan nya, ia benar-benar merasa kalah dari seorang gadis muda itu. Ia kalah dalam banyak hal dari Hana karena gadis itu lebih memikat hati banyak orang.


"Kenapa dengan nya? Tiba-tiba badmood begitu?" Batin Lean yang langsung menurut pergi karena Yara saat sedang unmood sangat tidak baik untuk dibantah.


Lanang sendiri masih kepikiran dengan ajakan Yara yang begitu tiba-tiba itu. Bohong jika ia mengatakan kalau ia sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Yara. Tidak tahu kenapa gadis itu terlihat sangat frustasi hingga mengatakan hal itu kepadanya, banyak hal yang membuat Lanang tidak mengerti mulai dari ajakan Yara yang meminta untuk mereka menikah dan kini gadis itu bahkan mengajaknya untuk membuat anak. Gadis itu tidak gila namun ia seringkali meminta hal yang tidak masuk akal bagi Lanang.


"Akhh kalau terus dipikirkan aku akan semakin merasa pusing,"gumam Lanang kembali fokus bekerja.


Hana sibuk membersihkan kaca studio dan dikagetkan oleh Lean yang datang kesamping nya dengan senyuman ramah.


"Hai Hana, "sapa Lean dan Hana langsung tersenyum kearah Lean.


"Eh pak Lean, pagi pak!"


"Kenapa dia hanya tersenyum saja aku sudah merasa senang?"batin Lean.


"Kamu sudah sarapan belum?"


"Sudah pak hehe."


"Bagaimana kalau kamu menemaniku sarapan?" Tawar Lean pelan .


Hana sebenarnya segan untuk menolak ajakan Lean, melihat laki-laki itu sangat ingin ditemani sarapan membuat Hana tidak sampai hati untuk menolak belum lagi beberapa hari lalu Lean juga pernah memberikan tumpangan untuk nya.


"Ba, baiklah pak ."


Lean merasa sangat bahagia hanya karena Hana bersedia menemaninya sarapan. Ia pikir gadis itu akan menolak namun ternyata ia setuju dengan ajakan Lean.


"Baiklah bagaimana kalau kita kesana saja?" Tanya Lean dan Yara langsung mengangguk setuju.


Hana sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya , gadis itu sangat rajin dan juga cekatan dalam mengerjakan semua pekerjaan nya.


...🍄 Bersambung🍄...


Wahh cinta segi empat mah ini, kapal mana nih yang bakal berlayar?


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2