
...🍬 Soundtrack this part #Love me like that-sam kim🍬...
...💌Luka yang terlalu lama kamu timbun tak akan selamanya tenang, akan ada saatnya kamu benar-benar tidak bisa lagi menahan nya💌...
Yara memasuki mobil tanpa menunggu Lanang membukakan pintu untuknya, ia benar-benar merasa sangat kacau saat ini. Ia ingin sendirian dan ingin semua orang menghilang dari pandangan nya saat ini.
Lanang memasuki mobil sambil melihat kearah Yara yang membuang muka dari arah Lanang dan lebih memilih untuk melihat kearah luar.
"Nyonya," panggil Lanang.
Ia tidak akan bertanya apakah gadis itu baik-baik saja, karena sudah sangat jelas bahwa Yara sedang tidak baik-baik saja saat ini. Gadis itu terlihat sangat lemas dan juga seolah ia benar-benar tidak memiliki semangat lagi.
"Apakah kita langsung berangkat ke rumah?" Tanya Lanang pelan.
Yara masih terdiam, ia sangat malu karena diperlukan seperti itu dihadapan Lanang. Dari semua hal memalukan yang ia perlihatkan kepada Lanang kejadian di dalam tadi adalah kejadian yang benar-benar menjatuhkan mentalnya.
Ia tidak akan merasa sakit hati dan malu dengan perlakuan mereka kalau saja saat itu tidak ada Lanang disana, namun ia benar-benar merasa terjatuh kedalam dasar penderitaan saat Lanang menyaksikan semua kejadian di dalam tadi. Yara disudutkan,diejek dan bahkan dihina.
Lanang bahkan sampai ikut campur dan itu membuat Yara semakin minder bahwa Lanang sedang mengasihaninya.
"Kamu!" Yara melhat kearah Lanang dengan mata memerah menahan tangis namun ia tetap mencoba untuk terlihat tegar.
Lanang yang sempat melamun itu langsung kaget dan melihat kearah Yara, ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Yara karena saat ini wajah gadis itu benar-benar sangat terpukul matanya memerah dengan air mata yang benar-benar tertahan disana.
"Kenapa dia menahan nya? Itu akan terasa lebih sakit jika ditahan." Batin Lanang memandangi Yara dengan sendu.
"A,,ada apa nyonya?" Tanya Lanang menunggu kata yang akan Yara sampai kan.
"Kenapa kamu ikut campur dengan masalah ku?"
Yara memandangi Lanang dengan tatapan tidak terima karena dengan ikut campur nya Lanang ia semakin merasa menyedihkan.
__ADS_1
Lanang memasang wajah tidak mengerti karena Yara tiba-tiba menanyakan hal itu, ia benar-benar tidak ingin Yara diperlukan seperti itu dan ia tidak akan tinggal diam. Namun, satu hal yang Lanang sadari kenapa tiba-tiba Yara menyalahkan nya . Gadis itu hanya ingin terlihat tegar dengan menyalahkan nya, Lanang pun memilih untuk diam tanpa menjawab.
"Kamu pikir aku akan senang jika kamu ikut campur? Kamu pikir aku akan senang jika kamu datang dan mengaku sebagai suamiku disana?" Teriak Yara meluapkan emosinya.
Ia tahu ia salah karena melampiaskan emosi nya kepada Lanang, ia tahu kalau ia salah karena sudah menyalahkan Lanang yang jelas sudah membantunya tadi.
"Apa? Suami? Kamu jangan membohongi dirimu sendiri! Pernikahan kita hanya sebatas perjanjian bukan? Kenapa kamu harus repot-repot mengatakan itu dihadapan semua orang?" Kesal Yara masih dengan air mata tertahan.
Ia benar-benar bisa mengontrol air matanya agar tidak jatuh . Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Lanang.
"Sa,,saya hanya tidak ingin nyonya diperlukan seperti itu? Mereka menyudutkan nyonya dan saya tidak suka melihat nya."
Yara tersenyum sinis mendengar itu dari Lanang, ia tidak ingin berharap lebih setelah mendengar itu. Sudah jelas Lanang mengasihaninya karena ia benar-benar terlihat menyedihkan tadi.
"Berhentilah membuat ku berharap! Aku tahu aku terlihat sangat menyedihkan,"ucap Yara kemudian melihat kearah lain.
Lanang hendak berbicara namun Yara langsung memotong nya.
"Kita berangkat kerumah sekarang! Aku lelah,"ucap Yara hingga Lanang langsung terdiam.
Setelah sampai di depan rumah Yara langsung berjalan dengan cepat memasuki rumah tanpa menunggu Lanang, gadis itu bahkan mengabaikan sapaan Atun dan juga Sinen yang langsung saja memandang satu sama lain karena menemukan kejanggalan dengan keadaan Yara.
Ia meraih handuk dan mengambil pakaian ganti setelah membuang tasnya dengan asal. Ia benar-benar ingin sendiri saat ini dan kamar mandi adalah tempat yang bisa ia jadikan sebagai tempat untuk menyendiri.
Karena sudah malam ia tidak ingin menempatkan Lanang dalam masalah dengan pergi ke suatu tempat hingga kewalahan mencarinya dan papah akan menyalahkan Lanang jika Yara tidak kembali.
Knop,
Yara langsung terduduk di kamar mandi setelah menggantungkan handuk dan piyamanya. Ia langsung menangis meluapkan rasa sakit hatinya, hari ini benar-benar membuat ia sangat lelah.
Karena takut suara tangisannya akan terdengar Yara menghidupkan kran dengan kecepatan tinggi hingga suara air terdengar sang keras.
__ADS_1
Ia meluapkan rasa sakit hatinya dengan perbuatan dan segala perkataan teman-teman nya yang menyudutkan nya.
Ia memukul dadanya keras karena terasa sangat sesak disana, ia benar-benar merasa hidupnya sungguh sangat berbeda dengan orang lain. Ia menyalahkan dirinya yang begitu gila kerja hingga kini ia benar-benar terlihat seperti seseorang yang tidak pantas lagi dicintai apalagi mengingat bahwa ia yang mulai mencintai Lanang yang sudah pasti tidak akan mau dengan perawan tua seperti nya.
Ia ingat kembali saat-saat dimana semua perbuatan gilanya, Usaha nya yang berkali-kali mempermalukan dirinya dihadapan Lanang dan semua itu sia-sia belaka.
"Hiks,," Yara semakin memukul dadanya karena sangat terasa sesak.
Senyuman Lanang saat sedang bersama nya membuat ia semakin merasa sakit karena mereka sudah pasti tidak akan bersatu karena laki-laki itu tidak akan pernah mencintai nya melainkan hanya mengasihaninya saja.
"A,,aku benci diriku!" Teriak Yara tertahan.
Ia benar-benar sangat ingin berteriak lebih kencang lagi namun ia tidak ingin mereka semua tahu kalau Yara adalah seorang gadis yang sedang terpuruk saat ini.
Biarlah hanya dia sendiri yang tahu saat-saat dimana ia sangat ingin menghilang dari dunia ini, ia malu pada dirinya sendiri karena tidak sanggup untuk tetap kuat sampai akhir. Topeng senyuman dan juga ketegaran yang selama ini ia pakai ternyata kurang kuat.
"A,, aku lelah! Aku ingin menghilang saja dari dunia ini,"ucap Yara pelan sambil mengusap kasar air matanya.
"Mah, hiks,,, maafkan aku karena tidak bisa kuat saat ini. Biarkan aku menangis hari ini saja, besok aku akan kembali seperti Yara yang selama ini mamah banggakan."
Yara menangis lagi dan lagi seolah ia akan mencoba untuk menghabiskan air matanya agar tidak tersisa untuk hari hari selanjutnya.
Lanang sendiri hanya diam saja berpikir dan terus berpikir, sejak tadi ia tak hentinya berpikir.
Ia mendengar dengan samar suara tangisan Yara dari kamar mandi, walaupun suara air terdengar sangat keras Lanang tahu kalau gadis itu sedang menangis disana.
Lanang semakin merasa khawatir dengan keadaan Yara karena baru kali ini gadis itu menangis setelah sekian lama mereka bertemu.
...🍄Bersambung🍄...
Aaaa nangis banget ngetik part ini, gak kebayang jadi Yara.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀