Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 20: Hidup memang begitu bukan?


__ADS_3

...🍬 Soundtrack # time machine-chloe adams🍬...


...💌 Pilihannya Hanya  ada dua, kita yang membuat cerita atau kita yang berperan dalam cerita💌...


         Lanang menaiki tangga dengan pelan dan hati-hati karena sedang membawa nampan berisi makanan juga teh dan air putih hangat untuk Yara. Walaupun belum tentu Yara mau memakannya tetap saja Lanang akan berusaha untuk berguna bagi Yara.


Pintu dibuka dan ditutup kembali oleh Lanang kemudian dia berjalan pelan menuju tempat tidur dimana Yara sudah terlihat merasa lebih baik dilihat dari wajahnya yang sudah tidak menahan nyeri seperti tadi.


"Sudah bagaimana nyonya? Apakah sedikit lebih baik?" Tanya Lanang pelan seperti biasa dengan wajah sendunya itu.


Yara hanya diam mengangguk saja, ia sudah terlanjur malu protes sejak tadi padahal Lanang sudah sangat membantunya. Mengingat rasa sakit tadi yang berangsur menghilang Yara benar-benar bersyukur ada Lanang disana.


"Terima kasih banyak!" Ucap Yara dengan wajah datar dan Lanang langsung tersenyum melihat itu.


"Benar-benar gadis yang menarik,"ucap Lanang pelan tanpa terdengar oleh Yara.


"Baiklah sekarang nyonya makan dahulu, pasti tenaga makan siang tadi sudah habis."


Yara menggeleng dengan cepat karena ia sama sekali tidak ingin makan saat ini, apalagi ia tidak ingin bertambah berat badannya jika terus-terusan makan.


"Aku tidak biasa makan di jam seperti ini,"ucap Yara pelan dan dengan wajah yang datar.


"Ayolah nyonya, tadi siang saja nyonya hanya makan sedikit saja. Belum lagi sejak tadi nyonya sedang kesakitan pasti tenaga nyonya sudah habis."


"Kamu bisa kan tidak usah terlalu lebay dalam menghadapi semua hal? Aku benar-benar tidak ingin makan,"ucap Yara mencoba untuk tetap tenang menghadapi keras nya kepala Lanang yang tak pernah sekalipun mengerti apapun yang ia ucapkan.


"Nyonya juga bisa kan sesekali menurut dulu? Saya tidak akan pernah berniat mencelakai nyonya. Jadi makanan ini higenis tidak ada racun sama sekali jadi nyonya tidak usah sampai Taku untuk memakannya,"Tutur Lanang.


"Aku sedang diet," ucap Yara singkat dan berharap Lanang bisa mengerti.


"Nyonya sudah kurus begitu masih saja ingin diet? Kenapa perempuan selalu saja ingin diet padahal Sudah sangat kurus. Awas nanti tinggal tulang," ucap Lanang tak habis pikir bisa-bisanya Yara mengaku diet saat ia sudah sangat kurus begitu.


"Aku benar-benar sedang diet, aku tidak terbiasa makan di jam segini. Dan asal kamu tahu diumur ku yang sudah tidak tergolong muda ini menurunkan berat badan adalah suatu hal yang sangat sulit dilakukan. Jadi, sebelum itu terjadi lebih baik aku mencegahnya."


Lanang tersenyum karena mendengar penjelasan Yara hingga gadis itu kebingungan. Apa? Dan dimana? Bagian yang lucu dalam penuturannya itu?.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Aku sedang tidak melucu jadi singkirkan semua makanan itu dari sa,, ummb."

__ADS_1


Lanang langsung memasukkan satu sendok nasi kedalam mulut Yara saat gadis itu sedang mangap karena ingin mengatakan sesuatu.


"Wahhh sendoknya bisa jalan sendiri nyonya, sendok ajaib wahhh." Lanang langsung melihat kearah lain karena Yara sungguh pasti akan marah padanya.


Yara masih saja terdiam dengan nasi masih dimulutnya, ia melihat kearah Lanang yang benar-benar tidak pernah patuh sekalipun kepadanya. Ia tarik nafas dalam-dalam mencoba menahan amarahnya karena sikap keterlaluan Lanang.


Karena tidak merasa dan mendengarkan kemarahan Yara Lanang langsung melihat kearah Yara dan ia malah dikagetkan karena gadis itu malah mengunyah dengan santai.


"Baiklah aku malas berdebat saat ini, hanya tiga sendok saja cukup bukan?" Yara benar-benar berhasil menahan amarahnya karena mengingat beberapa hal yang sedang ia rencanakan beberapa hari terakhir.


Ia tidak ingin memperlihatkan sisi buruknya lagi kepada Lanang, bisa-bisa laki-laki itu akan membencinya dan semua rencana itu akan sirna.


"Kan kalau nyonya menurut begitu terlihat semakin cantik saja,"ucap Lanang dengan pelan hingga Yara tersedak mendengar itu.


"Uhuk,,,"


Lanang memberikan ia air putih dan menepuk punggungnya namun ditepis oleh Yara.


"Tolong jangan keluarkan kata-kata menggelikan seperti itu, benar-benar tidak nyaman untuk di dengar."


"Hmmm apa nyonya salah tingkah saat mendengar nya?" Goda Lanang hingga Yara tak habis pikir.


Lanang tidak hentinya membuat Yara jengkel,kesal,dan juga kebingungan dengan sikapnya yang benar-benar diluar kendali. Awalnya ia mengira laki-laki itu adalah sosok yang pendiam dan juga penurut ternyata ia salah besar dan ia telah salah dalam memilih partner kerjasama.


20.13pm.


Meja makan terlihat sangat ramai karena semua sudah berkumpul disana, dan tentunya Yara benar-benar terpaksa ikut bergabung dan malas berdebat dengan Lanang. Bagaimana bisa ia ikut makan malam saat ia sudah makan tiga sendok nasi sore tadi, benar-benar Lanang adalah seorang penghancur dietnya.


"Sayang kok kamu makannya dikit banget sih? Aku tambahin yah sayang. Aku gak mau kamu kurusan gitu,"ucap Lanang lagi-lagi berulah dihadapan papah.


"Sialan, anak ini selalu saja cari gara-gara saat dihadapan papah." Kesal Yara menginjak kaki Lanang hingga laki-laki itu menahan sakit.


Tidak sampai disitu Yara juga mencubit pelan pinggang Lanang hingga Lanang sedikit memekik kesakitan.


"Aku sudah kenyang mas, tadi Soreang mas bahkan memaksaku makan dan sekarang juga mas memaksaku? Aku sungguh tidak ingin makan banyak saat ini."


Papah tersenyum melihat kedua sejoli itu, walaupun ia masih saja sedikit curiga karena sampai kini mereka belum juga memberikan tanda-tanda akan memberinya cucu.

__ADS_1


"Suamimu tidak memaksamu sayang, dia hanya ingin kamu sehat agar mudah dan secepatnya mengandung anaknya. Masa kamu tidak faham sih?" Yuna yang merupakan mamah tiri Yara.


"Lagi-lagi dia membuat ku jengkel dihadapan papah, aku sungguh tidak tahan melihat wajah menyebalkan itu "


Yara diam saja tidak ingin memperkeruh keadaan dengan menanggapi ucapan bodoh gadis rubah itu.


"Bagaimana hmm? Sudah ada tanda-tanda kamu akan hamil?" Tanya nya lagi karena tidak diterima diabaikan oleh Yara.


"Dia pasti sengaja menanyakan itu didepan papah , ahhh siall aku sangat ingin mengusirnya dari rumah ini." Kesal Yara.


"Bagaimana mungkin, saat ini bahkan kamu sedang datang bulan. Benar-benar sudah tipis harapan!" Sambungnya lagi dan Yara sungguh tidak tahan lagi.


Hendak saja Yara ingin bangkit dan beranjak namun ditahan oleh Lanang dengan menegang tangannya mencoba untuk menenangkan Yara.


"Mamah kok ngomong gitu sih? Namanya juga lagi usaha mah. Kan gak semua yang kita inginkan bisa berjalan lancar," ucap Lanang dengan tenang mencoba untuk meluruskan suasana yang kian bengkok itu.


Yara sudah tidak mood dan belum lagi rasa nyeri diarea bawah perutnya kembali datang,ahhh malam ini ia sungguh tidak nyaman.


"Sudahlah kita makan saja, mamah kalau ngomong jangan gitu lagi. " Papah menegur Yuna dan Yuna langsung tersenyum kikuk.


Sampai dikamar Yara langsung memukuli bantal dengan keras melampiaskan rasa kesalnya karena wanita rubah itu sungguh sudah melewati batasnya.


"Kenapa dia sangat menjengkelkan? Akhh bisa gila aku!"


Lanang sedang keluar sebentar dengan papah sepertinya hanya berbincang-bincang bisa. Maklum lah mertua dengan menantu.


Yara kembali memutar otak bagaimana lagi caranya untuk menggoda Lanang, terakhir kali ia mencoba ia benar-benar gagal dan malah mendapatkan luka di kakinya sendiri.


"CK,, bagaimana yah caraku agar bisa mendapatkan apa yang kumau?" Yara benar-benar frustasi setengah mati.


Lagi-lagi ia mencari diberbagai artikel mengenai hal-hal yang bisa ia lakukan untuk membuat Lanang melakukan itu dengan nya.


...🍄 Bersambung🍄...


Jadi gimana nih? Yara berhasil gak yah .


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.

__ADS_1


See you guys 🧀


__ADS_2