
...🍬 Soundtrack #Promise you-nct 127🍬...
...💌 Banyak hal yang membuat kita terasa jauh, bahkan aku tak bisa menyebutkan nya satu persatu💌...
Yara tak hentinya mendengus dan mendesah dalam karena hari ini ia menangani banyak sekali hal dan pekerjaan. Mulai dari laporan beberapa konsumen yang komplain pada produk mereka,dan bahkan sampai pada produk yang gagal produksi. Akhir-akhir ini ia terlalu lalai atau bagaimana hingga beberapa pekerja begitu ogah-ogahan dalam melakukan tugas mereka.
"Secepatnya kumpulkan semuanya ditempat perkumpulan kecuali mereka yang bertugas menjaga pusat perbelanjaan!" Perintah Yara dengan wajah sudah tidak bisa ia kondisikan lagi.
Gadis yang tengah mengalami sedikit rasa sakit di kakinya itu benar-benar sangat kecewa dengan sikap para karyawannya. Apa ia kurang dalam mengarahkan? Bahkan setiap hari ia menyempatkan diri untuk memantau juga memberikan pengarahan agar mereka tidak salah dan keliru namun,tak satupun diantara mereka yang mengindahkan usahanya itu.
"Bawa saya ketempat perkumpulan!" Ketus Yara kearah Lanang yang hanya diam saja karena saat ini gadis itu terlihat sedang tidak ingin berdebat ataupun dilawan.
"Siap nyonya."
Lanang membawa Yara dengan pelan menunju ruangan yang Yara tunjukkan padanya. Sedangkan Lean sejak tadi kembali ke kantornya setelah berkunjung ketempat Yara untuk mendiskusikan beberapa hal yang sangat urgent dalam kerjasama yang sedang mereka lakukan itu.
Yara duduk di kursi nya sedangkan Lanang sendiri langsung keluar tidak ingin ikut campur dalam urusan itu,dan ia takut menggangu jalannya rapat mereka.
"Apa akhir-akhir ini saya terlalu baik atau kalian yang tidak tahu tugasnya masing-masing?" Yara mencoba untuk tetap kalem dan merendahkan nada bicaranya sebisa mungkin.
Para karyawan hanya bisa menunduk dan terdiam karena diliputi rasa takut .
"Saya bertanya dan tak ada satupun diantara kalian yang berniat untuk menjawab?"
Mereka lagi-lagi terdiam dan menundukkan kepala, bahkan untuk menatap wajah Yara saja mereka tak kuasa bagaimana bisa mereka menjawab pertanyaan nya .
"Baiklah! Kita akhiri saja rapat ini dan kalian sudah boleh pulang sekarang, kalian mungkin sangat lelah hingga berbicara saja sudah tidak sanggup lagi. "Yara benar-benar sudah melebihi batas kesabaran nya. Ia harus tetap terlihat tenang walaupun sebenarnya ia sangat ingin berteriak dan menjelaskan letak kesalahan setiap karyawan nya itu.
"Maafkan kami buk, kami sudah melakukan banyak kesalahan karena tidak becus dalam bekerja." Ucap Dion selaku ketua dari bagian pengembangan.
Yara yang hendak bangkit dengan susah payah itu langsung terduduk kembali dan melihat kearah seluruh karyawan nya yang menunduk penuh rasa bersalah.
"Saya sangat kesal dan tidak menyukai orang yang sangat mudah meminta maaf namun kembali mengulangi kesalahannya. Bukankah kamu sudah pernah berjanji akan bekerja lebih baik lagi? " Yara melihat kearah Dion yang sudah terlihat gemetar itu.
"Bagaimana yang lain? Apakah tidak ada yang merasa melakukan kesalahan lagi? Apa hanya bagian pengembangan saja yang melakukan kesalahan?"
Dan seketika seluruh karyawan meminta maaf dan melakukan hal yang sama dengan Dion. Mereka benar-benar merasa bersalah namun tak berani untuk menunjukkan diri.
__ADS_1
"Pak Hamid! Tolong jelaskan semuanya dari awal hingga akhir apa yang sudah saya arahkan tadi saat diruangan saya. Beritahu apa saja kesalahan mereka dan jelaskan bagaimana sikap yang sebenarnya dilakukan."
"Siap buk."
Yara mencoba bangkit dengan susah payah, jujur saja ia benar-benar merasa sangat tidak nyaman dengan kakinya. Semalam dan pagi tadi ia belum merasakan apa-apa namun saat ini kakinya benar-benar sakit saat dipaksakan untuk berjalan.
Yara meninggalkan ruangan itu dan membuka pintu disana Lanang sudah berdiri dan langsung kaget menghampiri Yara yang susah payah berjalan.
"Ya ampun nyonya! Kenapa tidak memanggil saya?" Lanang langsung menggandeng tangan Yara.
Langsung ditepis oleh Yara karena malu atau ia hanya merasa tak ingin digandeng saja.
"Akhh,," seketika ia langsung terjatuh dan merasa kakinya benar-benar ngilu.
Lanang langsung menggeleng dengan pelan karena gadis itu benar-benar keras kepala padahal sangat butuh bantuan nya.
"Kenapa nyonya keras kepala sekali sih? Lembutin dikit dong perasaan nya." Mata Yara langsung menatap sinis kearah Lanang yang seolah sedang menceramahi sekaligus mengejeknya.
"Mulutmu semakin lupa aturan dan posisi yah?"kesal Yara yang saat ini sudah digandeng sempurna oleh Lanang.
"Kenapa kamu datang lagi? Kenapa seorang CEO sangat suka berkeliaran di kantor orang lain?" Sindir Yara yang benar-benar tidak habis pikir dengan Lean yang tidak pernah bosan berkunjung kesana padahal ia sudah bosan melihat wajah laki-laki aneh itu.
"Caramu menunjukkan rasa rindu sangat berbeda dan unik yah?" Goda Lean hingga Yara memilih untuk mengabaikan nya saja .
"Yuk makan siang di cafe biasa, sudah masuk jam makan siang nih ." Ajak Lean dan memang ia tidak pernah melewatkan makan siang dengan Yara disana. Dan tentunya dengan segala macam bujuk rayuan hingga berhasil menarik paksa Yara ikut makan siang dengan nya .
"Aku tidak selera, lagian kenapa sih kamu selalu saja memaksaku untuk makan siang dengan mu? Kamu carilah pacar untuk kau ajak makan siang. Merepotkan sekali!" Kesal Yara dan Lean langsung saja cemberut ala-ala ngambek.
Lanang sendiri sedikit tersenyum karena Yara benar-benar blak-blakan saat berbicara kepada Lean.
"Yaudah kamu aja deh yang jadi pacar aku ,temenin aku makan siang yah sayang hmmm."
Lanang yang awalnya tersenyum langsung melihat kearah Lean. Memang ia melontarkan nya dengan cara bercanda namun Lanang menyadari bahwa ada surat keseriusan disana. Matanya mengharapkan bahwa Yara bisa merasakan hatinya.
"Hati-hati Lean saat sedang tidak mood aku benar-benar bisa membunuhmu."
"Ahhh pokoknya ayok ikut aku makan siang, kamu juga yuk!"
__ADS_1
Lean menggandeng Yara dan memaksanya memasuki lift sedangkan Lanang hanya mengikuti dari belakang .
"CK, laki-laki sialan ini!" Umpat Yara dan Lean langsung tersenyum.
" Sialan sampai kamu jatuh cinta bukan?"
Yara langsung bereaksi seolah ia hampir muntah dan Lean langsung ngakak melihat itu . Lanang kembali seolah tak terlihat diantara mereka berdua.
"Mereka benar-benar bersinar dan cocok saat bersama,"gumam Lanang pelan dan Yara sedikit samar mendengarnya.
"Apa? Kamu mengatakan apa?"
"Tidak nyonya heheh, saya hanya tidak sabar saja ingin makan siang dengan nyonya juga pak Lean."
"Lihatlah dia bahkan tidak sabar makan siang dengan ku, jadi jangan sembunyikan lagi kamu jujurlah."
"Diam atau ku botaki kepala mu!"
"Jadi tipe ideal kamu yang botak yah? Apa aku harus botak dulu?".
"LEAN!"
Laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa karena berhasil menggoda gadis itu. Melihatnya kesal saja sudah membahagiakan apalagi saat ia tersenyum dan tertawa.
Lanang menyadari betapa jauhnya jarak antara dia dengan Yara. Bukan jarak mereka berdiri saat ini, namun jarak dalam berbagai aspek baik itu umur,kasta juga kehidupan. Mereka memang berada dalam jarak yang sangat dekat satu sama lain namun kenapa terasa sangat jauh?.
Lanang memang tidak pernah berharap lebih, mengetahui jaraknya dengan Yara akan membantu nya untuk tetap sadar diri juga posisinya.
"Dia terlalu bersinar untuk aku yang memiliki cahaya yang redup." Batin Lanang mengalihkan pandangannya kearah lain dan memilih untuk diam saja mendengarkan kedua manusia itu masih saja berseteru tentang hal-hal yang bahkan tidak penting karena Lean memang hoby membahas sesuatu yang kurang penting.
...🍄 Bersambung🍄...
Tolong donggggg dipaksa sadar diri tuh sakit banget. Pengen bermimpi buat ngegapai doi ehh sadar diri tak pantas 🥺
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1