
...🍬 Soundtrack #Tabu-brisia jodie🍬...
...💌Aku tahu namun berpura-pura tidak tahu,aku tahu bahwa tidak ada yang mencintai ku💌...
Yara benar-benar hilang mood hari ini karena Lanang yang menolak ajakannya tanpa sepatah alasan apapun, dan belum lagi tanpa alasan ia juga membenci ada gadis lain yang berada disekitar Lanang.
"Akhh aku benar-benar tidak mood hari ini, aku kesal dan badmood tanpa alasan,"ucap Yara dengan kesal.
Ia meletakkan berkas yang ada ditangannya itu dengan kasar karena untuk mengerjakannya saja ia sudah enggan.
"Kenapa dia menolak ajakan ku? Akhh apa karena Hana? Apa mereka beneran pacaran?"
Yara bertanya-tanya sejak tadi karena Lanang yang membuat ia overthingking setengah mati.
"Aku tidak akan semudah itu untuk menyerah, aku sudah sampai sejauh ini tidak mungkin aku mundur sekarang!"
Yara berjalan menuju lift dan berjalan menuju balkon yang ada di lantai dua karena hanya dari sana ia bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang lebih jelas dari pada di balkon paling atas di kantor nya.
Awalnya ia hanya ingin melihat kearah studio Lanang namun ia tak melihat sosok Lanang dari balik kaca juga ia tidak melihat sosok laki-laki itu.
"Kemana dia jam segini? Apa kegiatan nya yah?" Yara benar-benar penasaran.
Namun, matanya tiba-tiba melihat kearah taman yang tidak terlalu jauh dari kantor nya . Disana Hana dan Lean sedang duduk disebuah kursi taman sambil memakan bekal yang dibawakan oleh Lean tadi.
"Sejak kapan mereka begitu dekat?" Yara mengeryit kebingungan dengan situasi saat ini.
"Kenapa Hana sangat mudah sekali dekat dengan orang lain? Siapapun yang ada disekitarnya akan selalu menjadi dekat dengan nya. Dia begitu ramah dan juga ceria dan tentunya laki-laki menyukai itu darinya."
Yara melihat dirinya dari pantulan kaca yang ada disekitarnya, meskipun samar namun ia bisa melihat wajahnya yang begitu tidak ramah , tidak ceria dan juga sudah tidak muda lagi.
"Hahahah bagaimana bisa laki-laki menyukai ku? Dan dengan tidak tahu dirinya aku memaksa Lanang?"
Yara memilih masuk kedalam lagi dan berjalan menuju ruangannya, ia sungguh tidak ingin berlama-lama disana karena ia akan semakin insecure kepada Hana yang begitu supel pada semua orang.
"Aku benar-benar tidak bisa dicintai!"
Yara mencoba untuk tidak mengakui itu tapi tetap saja itulah fakta yang ada, ia benar-benar gadis yang tidak bisa dicintai dan tidak ada yang mencintai nya.
"Apa aku akan tetap seperti ini sampai akhir? Apa aku tetap sendiri tanpa seorang yang kusayangi?"
__ADS_1
"Akhh bisa gila aku, kenapa aku benar-benar bodoh sih?"
Sedangkan Lanang masih saja memikirkan dan kepikiran dengan ajakan Yara tadi malam. Ia mencoba untuk memahami situasi Yara namun ia sama sekali tidak bisa memahami itu semua.
Gadis hebat sepertinya benar-benar diluar dugaan, mau bagaimana pun Lanang coba memahami ia sungguh tidak bisa mengerti kemana jalan pikiran gadis itu.
"Kenapa dengan nya? Aku sungguh tidak mengerti!"
"Hana?"
Lanang memanggil Hana untuk membawakan beberapa kertas yang sudah disiapkan diatas nakas tepat di dekat pintu masuk studio namun sama sekali tidak ada sahutan.
"Kemana yah dia?" Bingung Lanang saat ia keluar dari ruangannya namun tidak ada Hana di dalam studio.
"Ahh mungkin sedang berjalan-jalan yah? " Gumam Lanang kembali masuk kedalam ruangannya setelah mengambil kertas itu.
"Kenapa kamu tidak mau makan hmm? Aku yang memasaknya sendiri loh setelah belajar dari YouTube,"ucap Lean dengan kepedean tiada Tara dan merasa sangat bangga dengan hasil tangannya itu.
Hana menggeleng dengan cepat dan tersenyum kearah Lean "Maaf pak, saya sudah sarapan dan belum merasa lapar sama sekali,"ucap Hana dengan sopan.
Lean cemberut karena jawaban Hana tersebut "Yahh padahal buatnya gak gampil loh Han, masa kamu nolak kerja keras aku sih?"
"Waktu itu masakan kamu aku habisin kok masa kamu nolak makanan yang aku buat sih? Iya aku tau kalau masakan aku gak seenak masakan mu!"
Hana benar-benar tidak bermaksud seperti itu, ia menolak bukan karena takut rasanya tidak enak hanya saja ia benar-benar sudah sarapan tadi.
"Bukan begitu pak ,tapi sa,,mphh." Hana belum juga selesai mengatakan nya namun Lean sudah memasukkan sepotong telor dadar yang ia bentuk menjadi gulungan itu.
Hana langsung terdiam dan mau tidak mau ia harus mengunyah makanan itu, Lean memang sangat susah untuk ditebak.
"Bagaimana? Apa rasanya tidak enak?" Lean menunggu Jawaban Hana yang masih mengunyah itu.
"Bagaimana? Apa tidak enak? Akhh aku sangat khawatir rasanya tidak enak."
"Enak kok pak, bapak berbakat dalam memasak rupanya!" Senyum Hana begitu bangga seolah Lean adalah muridnya.
"Benarkah? Wahh aku sampai takut rasanya tidak enak tadi, aku takut saat aku memberikan nya kepada Yara ia akan kecewa dengan rasanya. Lain kali aku akan memasakkan ia masakan seperti ini setelah mood nya kembali."
Hana mengangguk dengan pelan "Benar-benar enak pak, apalagi bapak mengatakan kalau ini masih permulaan bapak memasaknya. Untuk ukuran pemula bapak sudah sangat luar biasa sekali," ucap Hana.
__ADS_1
Lean benar-benar senang mendengar nya , gadis itu sangat pandai membuat siapapun yang ada disekitarnya menjadi nyaman. Dia adalah gadis yang sangat lihai dalam berbicara.
"Aku akan lebih meningkatkan kualitas masakan ku agar bisa memberikan makanan yang lebih lezat untuk Yara,"ucap Lean dengan senyuman senang.
"Bapak pasti sangat dekat dengan buk Yara, dan sangat terlihat kalau bapak sangat menyayangi beliau,"ucap Hana pelan.
Lean langsung melihat kearah Hana karena kaget mendengar itu "Apa terlihat jelas?" Tanya Lean.
Hana mengangguk dengan cepat "Sangat jelas sekali pak, siapapun pasti langsung tahu kalau melihat perhatian bapak . Bapak pasti sangat menyanyi nya."
"Benarkah? Kalau begitu kenapa dia tidak pernah sadar sama sekali?" Batin Lean dengan mengingat semua kebersamaan mereka.
Dia sudah banyak sekali menabur kasih untuk ia tunjukkan kepada Yara namun, gadis itu sama sekali tidak pernah menyadari bahwa ia begitu mengagumi dan juga menyukai nya.
"Kenapa bapak tidak menyatakan perasaan bapak saja kepada buk Yara?" Tanya Hana dengan kepo.
Lean mendengus pelan dan menyudahi acara makannya karena ia sebenarnya juga sudah mulai merasa kenyang.
"Tidak semudah yang terlihat Han, aku belum merasa pantas untuk nya. Dan ia juga tidak menunjukkan bahwa ia juga menyukai ku, aku tidak ingin persahabatan kami hancur karena perasaan sepihak ku."
Hana menarik kembali ucapan Lean tersebut kepada dirinya, bagaimana jika ia mengungkapkan perasaan nya kepada Lanang dan laki-laki itu malah menjauhinya?.
"Hmmm sangat susah kalau masalah perasaan yah pak,"ucap Hana dengan lesu.
"Hmm kamu nih masih muda jangan terlalu memikirkan masalah perasaan cinta dan hubungan dulu, masih banyak waktu."
Hana tersenyum kikuk karena mendapatkan nasehat dari Lean, belum lagi laki-laki itu sedikit mengelus rambutnya.
"Terima kasih yah sudah mau menemani ku makan, oh iya lain kali kalau kamu ada waktu bisa kan mengajari ku untuk lebih lihai dalam memasak seperti mu?" Tanya Lean dengan penuh harap.
Hana dengan cepat mengangguk dan tersenyum "Siap pak, kapan bapak bisa saya akan membantu bapak karena jadwal saya tidak terlalu padat kok pak. Tidak sesibuk bapak sih,"ucap Hana dengan lembut.
"Aku tunggu!" Lean tersenyum.
...🍄 Bersambung🍄 ...
Wahh ada apa ini? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan disini?.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
__ADS_1
See you guys 🧀