Beri Aku Anak Suamiku.

Beri Aku Anak Suamiku.
Episode 31: Aku yang tidak profesional.


__ADS_3

...🍬 Soundtrack this part  #Beautiful mistakes-maroon 5 ft Megan thee stallion🍬...


...💌 Semakin dewasa,kamu tidak akan lagi bermain-main. Karena pemikiran mu akan lebih mendetail da selebihnya lagi kamu akan semakin waspada💌...


     Yara langsung melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah karena ia benar-benar ingin jauh dari Lanang tanpa sebab. Belum juga hilang rasa malunya soal ciuman tiba-tiba yang ia berikan pada Lanang eh malah datang lagi insiden kamar mandi.


"Sudah gila kamu Yar, berapa kali lagi kamu akan mempermalukan dirimu sendiri?"


Yara benar-benar kesal dengan dirinya yang sangat ceroboh dan juga sering kali melakukan hal-hal yang ia sendiri tidak sadari.


Gadis itu melajukan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi, belum lagi jalanan sedikit ramai jika ia salah dalam menjalankan nya saja pasti ia akan terkena masalah.


"Bodohnya kenapa aku harus menghindar? Kenapa aku harus malu? Dan kenapa dia membuat ku seperti ini?" Teriak Yara kesal karena baru kali ini ia merasakan hal yang merepotkan seperti ini dalam hidupnya.


Selama ini ia tidak pernah ambil pusing masalah lelaki dan bahkan sampai malu seperti ini ia tidak pernah mengalaminya. Oleh karena itu ia sangat kebingungan harus bagaimana bersikap.


"Kenapa kamu bisa seperti ini? Apa gunanya semua sertifikat prestasi dan piagam penghargaan mu ? Kamu malah lebih bodoh dari semua orang di dunia."


Yara benar-benar mengakui kalau saat dia berada di dekat Lanang ia terlihat sangat bodoh,hilang akal bahkan harga dirinya sendiri. Laki-laki itu seolah menghipnotis nya perlahan.


Mobil berhenti didepan swalayan miliknya sendiri, belum juga ia mematikan mesin mobil tiba-tiba saja ada yang melompat dikaca tepat disamping Yara hingga ia terlonjak kaget.


"OMAYA!"


Yara berteriak pelan karena tiba-tiba saja Lean sudah menempel dikaca mobilnya dengan wajah khawatirnya Belum lagi ia terlihat sedikit berantakan dibandingkan penampilannya selama ini saat datang ke kantor.


Yara mematikan mesin mobil lalu turun dari mobil dengan penuh keheranan karena Lean yang tiba-tiba datang itu, bukankah ia baru saja terbangun?.


"Kenapa dengan mu? Mengagetkan saja ." Ketus Yara.


"Kamu sih buru-buru matiin sambungan,mana marah-marah lagi . Aku panik dan khawatir jadi langsung datang kesini."


Yara mengeryit bingung mendengar jawaban dari Lean, ia hanya melampiaskan rasa kesalnya kesalnya pada Lean. Kenapa laki-laki itu malah menganggap nya serius? Bukankah Yara sering melakukan hal yang sama padanya? Kenapa dia masih belum faham juga bagaimana sikap Yara.


"Kamu datang dengan keadaan seperti ini hanya karena aku mematikan sambungan tiba-tiba?"


Lean mengangguk dengan cepat"Kamu tiba-tiba marah karena aku belum juga siap-siap, aku pikir kamu sedang berencana ke kantor dengan ku hari ini. Bukankah begitu?"


"Si,,siapa juga yang mau ke kantor dengan mu? Cepat kembali pulang ke rumah sebelum orang-orang melihat penampilan berantakan mu ini. Wahh aku penasaran bagaimana reaksi para gadis yang kamu rayu melihat mu dengan keadaan seperti ini." Yara melihat kearah Lean dari ujung kaki sampai kepala, dan ia mengeluarkan ekspresi seolah mengejek Lean.


Lean melihat kearah mata Yara dan langsung menyadari bahwa ia sedang dalam keadaan berantakan saat ini.

__ADS_1


"Sial, "ucap Lean tanpa ba-bi-bu langsung berbalik melihat dirinya dikaca mobilnya dan langsung ia memasuki mobil meninggalkan Yara yang tertawa pelan karena merasa lucu dengan Lean.


"Sial, kenapa harus Yara yang melihat penampilan ku tadi? Akhh hilang sudah image handsome ku dihadapan Yara."


Lean melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya dan saat ia melihat kearah taman di dekat kantor Yara ia melihat Hana yang sedang sibuk membantu seorang nenek menyeberang dengan membawa sebuah tas berisi beberapa bahan makanan.


Wajah gadis muda itu begitu berseri, tersenyum ramah dan sesekali berbicara dengan nenek itu. Gigi putih dan juga kuliat halusnya sangat bersinar di bawah terik mentari yang mulai muncul dipermukaan.


"Kenapa seolah seluruh cahaya mengelilingi nya?"gumam Lean yang tidak sadar masih terus memperhatikan Hana.


Tiba-tiba saja lamunan Lean buyar saat dering telepon nya berbunyi sangat kencang.


"Halo,"sapa Lean.


"Baiklah saya akan secepatnya kesana,"ucapnya meninggalkan area taman menuju rumah untuk berkemas lalu berangkat ke kantor.


Hari sudah mulai menjelang sore, Lanang masih sibuk dengan proyek nya namun ia sangat tidak begitu bersemangat hari ini. Banyak hal yang mengganggu dunia fokusnya terutama mengenai Yara yang sama sekali membuat ia begitu bingung letak kesalahannya dimana?.


Apalagi mengingat reaksinya tadi pagi, menolak tawaran Lanang untuk mengantarkan nya ke kantor dan ia bahkan mengabaikan pertanyaan Lanang yang menanyakan apakah ia memiliki sebuah kesalahan hingga Yara begitu tidak ingin melihatnya.


"Apa sebenarnya kesalahan yang telah ku perbuat? Akhh membingungkan!"


Hana membuka pintu pelan dan memasukkan kepalanya mengintip kedalam ia langsung melihat wajah Lanang yang seolah sedang memikirkan jalan keluar untuk masalahnya.


"Apa mas sedang memiliki masalah?" Hana berjalan pelan kearah Lanang yang sedikit tersentak karena Hana tiba-tiba masuk dan bertanya.


Lanang tersenyum menggeleng" Ahh tidak Han, mas baik-baik saja."


Hana melirik curiga kearah Lanang dengan sedikit senyum karena ia tahu saat ini Lanang sedang berbohong "Mas boleh cerita kalau butuh seseorang untuk mendengarkan Hana akan bersedia mas, memang aku tidak bisa memberikan bantuan tapi setidaknya saat mas bercerita maka sedikit dari beban mas akan berkurang."


Lanang mengangguk tersenyum kearah Hana "Baiklah Hana, kamu ternyata sudah dewasa yah. Mas bangga!"


Jantung Hana jelas sudah tidak aman lagi, Jangan sampai ia mengalami kebocoran jantung gara-gara pujian Lanang yang membuat jantungnya memompa darah begitu kencang dan seolah tidak terkendali lagi.


"Ma,,mas bisa saja, ka,,kalau begitu aku lanjut kerja mas. Permisi!"


Hana langsung pergi dari ruangan Lanang dengan memegangi dadanya yang masih saja berdetak tak karuan itu. Laki-laki itu hanya mengatakan ia bangga kenapa rasanya Hana sedang ditembak saja saking melting nya.


"Ya tuhan, aku sungguh sangat menyukai laki-laki itu. Mas Lanang!" Batin Hana tersenyum pelan.


"Kenapa lagi dengan mu? Tersenyum sendiri dan ini bukanlah yang pertama kalinya,"selidik pak Danu tersenyum menggoda Hana.

__ADS_1


"Eh,, saya baik-baik saja pak heheh."


"Kamu seperti seseorang yang sedang kasmaran saja, apa kamu menyukai seseorang?" Tanya pak Danu pelan.


Hana langsung mengangguk malu-malu dan pak Danu langsung tersenyum, melihat Hana ia seperti melihat seorang putrinya saja . Ia ikut bahagia melihat gadis lugu itu tersenyum.


"Masa-masa ini adalah masa-masa terindah yah, hahaha kamu pasti sangat senang."


Pak Danu berlalu membawa beberapa klip untuk diberikan kepada Lanang sedangkan Hana langsung berhenti menghalu dan kembali fokus bekerja.


Lanang menerima klip itu dari pak Danu "Hana sepertinya menyukai seseorang, dia terus saja tersenyum beberapa hari terakhir ini ."


"Benarkah itu pak? "Lanang tersenyum mendengar cerita pak Danu yang menggeleng karena Lanang bahkan tidak tahu.


"Bukankah kalian hampir selalu bersama? Bagaimana bisa kamu tidak tahu kalau Hana sedang kasmaran?"


Lanang tersenyum kikuk, ia memang selalu bersama dengan Hana tapi untuk melihat detail seperti itu ia benar-benar tidak terniat. Cukup melihat keadaannya baik-baik saja sudah cukup.


Pak Danu keluar dengan gelengan karena ia benar-benar tidak habis dengan Lanang yang terlihat perduli ternyata melewatkan hal seperti itu.


Sebuah pesan masuk diponsel Lanang dan itu dari Yara, Lanang langsung buru-buru membukanya karena ia mengira gadis itu sudah tidak marah lagi padanya dengan mengirim pesan lebih dulu.


Namun,wajah Lanang langsung lesu karena membaca pesan dari Yara yang menyampaikan kalau ia tidak perlu menunggu nya pulang karena ia akan pulang dengan Lean nantinya setelah makan malam.


"Hmm beneran lagi marah nih kayaknya, gimana yah caranya biar nyonya Yara tidak marah."


Sementara Yara saat ini menunggu balasan dari Lanang, ia benar-benar merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Ia bingung karena sikap tidak profesional ini tiba-tiba muncul dan ia sendiri tidak bisa mengatasinya. Bukankah niat awalnya adalah untuk memiliki anak dari Lanang agar sang ayah tidak curiga.


Namun, saat ia tidak sengaja mencium Lanang ia malah bersikap kekanakan seperti ini . Menghindari dan bahkan mengabaikan Lanang. Bagaimana bisa dia bisa membujuk Lanang dan mendapatkan kesempatan untuk membuat anak dengan Lanang jika dia masih bersikap egois dan tidak jelas seperti ini.


"Akhh memusingkan!"


...🍄 Bersambung🍄...


Hmmm, makanya jangan galak-galak dong mbaj Yara.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2