Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Kasmaran


__ADS_3

Zayn kembali ke asrama dan langsung berbaring di tempat tidurnya.


Kemudian Zayn mencoba memejamkan mata, Namun bayangan Faza melintas dalam fikirannya.


Zayn kembali duduk merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Kemudian Zayn kembali memejamkan mata mencoba melihat Faza dalam mata yang terpejam.


Zayn terseyum mengingat saat Ia memegang kedua lengan Faza tanpa sengaja.


"Ning Faza." ucap Zayn dengan mata yang masih terpejam.


"Apa kamu bilang?" tanya Bimo yang langsung melompat dari ranjang dan mendekati Zayn.


"Apaan sih nyampur aja kaya garem!"


"Iiih Kamu sungguh berdosa, Apa lagi yang di bayangin putri Pak Kiai."


"Mana ada nyebut nama doang dosa."


"Nyebut nama doang nggak dosa, Tapi kalau nyebutnya sambil bayangin yang tidak-tidak itu berdosa."


"Sok tau Kamu." Zayn mengalihkan pandangannya dengan kesal.


"Emang Aku tau, Ustadz Adnan pernah mengakatakan, Dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari, Zina mata dengan melihat, Zina lisan dengan ucapan, Zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, Sedangkan kem*aluan membenarkan semua itu atau mendustakannya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Nah jadi kamu termasuk sedang melakukan Zina hati."


"Apa Kamu sedang menggurui ku?"


"Bukan begitu Zayn, Aku hanya mengingatkan mu, Lagi pula percuma saja Kamu menyukai Ning Faza, Ning Faza sudah ada pawangnya."


"Apa!"


"Apa lagi."


"Maksudmu Ning Faza sudah memilik calon suami?"


"Tepatnya Pak Kiai berencana ingin menikahkan Mereka setelah Ning Faza lulus kuliah."


"Jadi Mereka tidak pacaran?"


"Apa yang kamu katakan Zayn, Kamu fikir kehidupan Mereka sepertimu?"


Zayn terdiam senang "Itu artinya Ning Faza belum memiliki ikatan dengan siapapun dan itu berarti Aku masih memiliki kesempatan." batin Zayn.

__ADS_1


"A-e Bimo, Siapa Pria itu?"


"Siapa lagi? Ustadz tampan idola par santriwati."


"Ustadz Adnan?"


"Jadi Kamu mengakui ketampanannya?"


"Itu di bandingkan dengan Ustadz yang lain, Jika di bandingkan denganku, Jelas Aku lebih tampan darinya." dengan bangga Zayn membenarkan gaya rambutnya.


"Percuma saja Zayn, Pak Kiai tidak akan memilih calon menantu dari ketampanannya, Jelas Pak Kiai akan memilih menantu yang lebih tinggi ilmunya, Jadi kalau kamu belum bisa menandingi ilmu Ustadz Adnan, Lebih baik mundur dari sekarang." Bimo menepuk punggung Zayn dan kembali naik ke tempat tidurnya.


๐Ÿƒ Pagi Hari ๐ŸŒป


Sebuah mobil mewah berwarna putih masuk ke pelataran pesantren.


Seorang wanita paruh baya dan pria yang terlihat lebih tua darinya turun dari mobil tersebut.


Mereka melihat bangunan pesantren yang menjadi tempat pengabdiannya putranya bertahun-tahun lamanya.


"Ustadz Adnan... Ustadz Andan..." pekik salah seorang santri kepad Ustadz Adnan yang sedang berada di kantor.


"Ada apa, Kenapa berlarian?"


Ustadz Adnan keluar dan terkejut melihat Kedua orang tuanya datang menjenguknya.


"Ayah, Ibu..." Ustadz Andan berlari mencium tangan orang tuanya.


"Bagaimana kabar mu Nak?"


"Adnan baik, Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?"


"Kami juga baik."


"Baiklah kalau begitu biar Ayah sowan dulu pada Pak Kiai ya?"


"Silahkan Yah, Mari Adnan antar."


Mereka pun pergi ke rumah Pak Kiai dan di sambut oleh Ning Faza yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..."


"Ehh Pak Rudi, Bu Nisa." sambut Faza mencium tangan Mereka.


"Gimana kabarnya Ning Faza?"


"Alhamdulillah baik Bu, Silahkan duduk, Biar Saya panggil Abi dan Ummi,"


Mereka mengangguk dan melihat punggung Faza yang masuk ke dalam.


"Adnan, Ning Faza makin cantik ya,"


"Nggak tau Ibu,"


"Kok nggak tau, Kalian kan sering bertemu."


"Biar bertemu harus tetap menjaga pandangan, Lagi pula selama ini Dek Faza kuliah di Jogja, Sekarang saja lagi libur."


"Lalu kapan, Kamu meminta kami datang melamarnya?"


"Kalau Pak Kiai sudah mengizinkan."


"Kok nunggu Pak Kiai, Nanti kalau kelamaan ada yang mendahului gimana?"


"Itu namanya belum jodoh," saut Rudi.


"Iih, Ya nggak bisa begitu dong Mas, Yang namanya manusia itu harus berusaha, Nggak pasrah begitu saja."


"Apa Ibu sudah lupa, Dulu Ayah mau menikah sama Mbak Suraya terus akhirnya nikah sama Ibu?" tanya Rudi tertawa.


"Iih Ayah ngapain di ungkit lagi."


"Bukannya mau ngungkit, Tapi untuk contoh nyata saja.


Jadi sekeras apapun manusia berusaha, Jika Dia bukan jodoh kita, Meskipun sudah hari H, Allah bisa saja menggagalkannya."


Adnan terdiam mendengar perdebatan orang tuanya.


Meskipun Ia seorang muslim yang taat. Namun Ia tetap memiliki hawa nafsu yang menyukai lawan jenisnya, Tidak bisa di pungkiri, Dirinya juga sangat berharap bisa menjadikan Faza sebagai istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


๐Ÿ“Œ Yang belum baca kisah cinta orang tua Ustadz Andan, Bisa baca di novel religi "Menikahi Calon Suami Kakak'Ku" ๐Ÿค—


__ADS_2