
Setelah menempuh perjalanan seharian penuh, Seluruh rombongan tiba di Jakarta.
Para pekerja dan orang-orang kepercayaan Faraz yang sebelumnya sudah mendapat intruksi, Menyambut rombongan dan mempersilahkan mereka masuk.
Setelah berbincang-bincang cukup lama sambil menikmati teh hangat dan makanan ringan. Kemudian mereka menikmati makan malam yang sudah dihidangkan sebelum akhirnya mereka di persilahkan istirahat karena malam yang sudah semakin larut.
Para asisten rumah tangga pun mengantar Pak Kiai dan Bu Nyai untuk menempati kamar tamu yang bersebelahan dengan Hasan dan Husain yang telah lebih dulu beristirahat.
Setelah semua orang sudah pergi ke kamar masing-masing, Zayn yang sejak tadi sudah merasa tidak sabar, Tanpa membuang waktu lagi Zayn menggandeng tangan Faza dan mengajaknya ke kamar.
Zayn mempersilahkan Faza masuk ke kamar yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kamarnya yang di kebumen hingga membuat Faza terperangah dan merasa semakin deg-degan dari malam pertama mereka.
Zayn yang melihat Faza hanya berdiri mematung, Tersenyum dan bersiap mengangkat tubuhnya hingga membuat Faza terperanjat kaget.
"Mau ngapain?" tanya Faza yang langsung menjauh dari Zayn.
"Mau menggendong mu," ucap Zayn tersenyum.
"T-tidak, A-aku bisa jalan sendiri."
"Aku tau kamu bisa jalan sendiri, Tapi Aku ingin menggendong istriku."
"Tapi kita harus shalat sunah dua rakaat dulu kan?"
"Ya tentu saja, Ayo biar ku gendong kamu ke kamar mandi untuk ambil air wudhu."
"T-tidak! A-aku ingin mandi terlebih dahulu, Biar Aku sendiri saja."
"Baiklah Aku tidak akan memaksa."
Dengan sabar Zayn menahan hasratnya dan mempersilahkan Faza masuk ke kamar mandi. Sementara ia menunggu Faza selesai, Zayn pergi ke kamar Zayd untuk mandi di sana agar mempersingkat waktu.
Ckleekkk...
Zayd yang baru saja memejamkan mata terlonjak dan mengangkat kepalanya melihat siapa yang datang. Melihat Zayn yang datang membawa handuk membuat Zayd bangkit dan menggoda saudara kembarnya tersebut.
__ADS_1
"Apakah mantan Casanova ini tidak bisa menaklukkan hati istrinya untuk mandi bersama?" goda Zayd.
"Tutup mulut mu Zayd!" ucapnya kesal.
Zayd hanya tertawa melihat kekesalan saudara kembarnya.
"Dia beda dari wanita yang pernah ku kenal, Jadi Aku tidak ingin memaksa dan membuatnya takut." Zayn langsung masuk ke kamar mandi tanpa memperpanjang perbincangannya.
Melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat, Zayd kembali menarik selimutnya untuk melanjutkan tidurnya.
Setelah lima belas menit kemudian, Zayn keluar dari kamar mandi dan melihat Zayd sudah tidur nyenyak. Tidak mau mengganggu saudara kembarnya karena ia ingin segera menemui istrinya, Zayn segera meninggalkan kamar Zayd dan kembali ke kamarnya.
Ckleekkk...
Faza dan Zayn saling memandang ketika mereka sama-sama melihat kearah berlawanan saat pintu kamar terbuka. Zayn menutup pintu dan melangkah ke arah Faza yang sudah berdiri di atas sajadah dengan mengemakan mukenanya.
"Bentar ya," ucap Zayn melangkah ke arah lemari untuk mengambil Koko dan sarungnya. Kemudian mereka melaksanakan shalat sunah dua rakaat seperti yang dianjurkan sebelum melakukan malam pertama.
Setelah selesai Faza menjabat tangan Zayn dan menciumnya dengan ta'dzim. Sementara Zayn mengusap kepala sang istri dan membacakan Do'a di ubun-ubun nya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Zayn langsung menggendong tubuh Faza yang masih mengenakan mukena dan menurunkannya di tepi ranjang.
"B-biar Aku melipat mukena ku dulu," ucap Faza gugup.
Zayn hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya. Zayn yang berharap akan melihat Faza berpenampilan berbeda di balik mukenanya itu, Harus menelan kekecewaan karena setelah mukena terlepas Faza masih mengenakan gamis panjang lengkap dengan jilbabnya.
Zayn menarik nafas dalam-dalam dan harus lebih bersabar lagi karena istrinya memang seperti berlian langka yang tidak mudah di dapatkan.
Setelah itu Zayn mengambil mukena dari tangan Faza dan menyinggahkannya ke nakas. Kemudian Zayn merapatkan duduknya mendekati sang istri. Faza yang merasa begitu gugup terus beringsut mundur hingga mentok di sandaran ranjang. Tatapan lekat Zayn padanya membuat jantung Faza terasa seakan mau copot. Namun ia tidak bisa lagi menghindarinya karena Zayn telah mengungkung dirinya di bawah tubuhnya yang kekar.
Glek...
Faza menelan salivanya dengan susah payah saat Zayn terus mendekatkan wajahnya.
Sementara otaknya terus mencari cara agar bisa mengulur waktu karena ia merasa benar-benar gugup setengah mati.
__ADS_1
"Kamar mandi!" ucap Faza mengagetkan Zayn yang hampir menyatukan bibirnya.
"What?"
"Kamar mandi, A-aku ingin ke kamar mandi,"
"Lagi?" tanya Zayn memastikan.
"Ya." tanpa menunggu persetujuan dari Zayn, Faza mendorong tubuh Zayn dan berlari ke kamar mandi. Dengan jantungnya yang berdetak kencang Faza berdiri di depan cermin wastafel.
Faza meletakkan tangan di dadanya merasakan debaran jantungnya yang berdetak begitu kencangnya. Kemudian Faza menempelkan telapak tangannya di mulut untuk mencium nafasnya sendiri, Kemudian ia mencium aroma tubuhnya untuk memastikan jika tidak ada aroma tidak sedap dalam tubuhnya. Di saat Faza masih berada dalam rasa ketidak percayaan dirinya, Tiba-tiba ia dikagetkan oleh tangan yang melingkar di perutnya.
"Hagh!" Faza menoleh ke belakang dan begitu terkejut melihat Zayn.
"B-bagaimana Mas masuk?"
"Kamu tidak mengunci pintunya."
"Hagh!" Faza melangkah mencoba melangkah mundur namun ia tidak bisa kemanapun karena ada wastafel di belakangnya.
"Kamu begitu gugup sampai kamu lupa mengunci pintu," Zayn merapatkan tubuhnya dan mencari peniti untuk melepas jilbab sang istri.
Kedua tangan Faza hanya bisa memegang tepian wastafel saat Zayn benar-benar melepas jilbabnya. Tidak hanya jilbabnya, Zayn juga membuka ciput yang menahan rambut panjangnya agar tidak terurai. Kemudian Zayn melepas ikat rambut dan membuat rambut panjang Faza terurai dengan begitu indah.
Faza menundukkan wajahnya, Ia merasa benar-benar malu karen untuk kedua kalinya ia tidak mengenakan jilbabnya di depan Zayn yang baru menjadi suaminya.
"Ini baru rambut Sayang, Bagaimana jika yang lain Aku buka?"
"Hagh! Faza langsung mengangkat wajahnya dengan mata yang membulat.
Zayn tertawa melihat ekspresi sang istri yang masih saja malu padanya meskipun telah menjadi istrinya.
Bersambung...
š Sabarkanlah Hatimu... Menunggu Update terbaruku...
__ADS_1
Nada bacanya pake lagu kangen band ya wkwkwk š¤£