
Setelah menghubungi Zayd dan meminta maaf, Zayn melanjutkan meminta maaf kepada semua santri yang sudah Ia jailin.
Tanpa di suruh, Zayn juga pergi ke kebun untuk membantu santri lain menyirami dan memberi pupuk pada sayuran yang mulai tumbuh subur. Hal ini membuat santri lain terheran-heran. Tidak terkecuali Ustadz Azmi yang saat itu juga sedang berada di kebun.
"Jika seperti ini, Persaingan antara Ustadz dan Santrinya akan semakin sengit," batin Ustadz Azmi.
ā¢ā¢ā¢
Hari-hari terus berjalan tak terasa hari ini Ning Faza telah menyelesaikan kuliahnya.
Pak Kiai dan Bu Nyai juga sedang berada di Yogyakarta mendampingi putrinya Wisuda sekaligus menjemputnya pulang.
Zayn yang menantikan kedatangan Ning Zia semakin berdebar karena tidak lama lagi Ia akan melihat Ning Faza kembali ke pesantren.
Ia pun semakin banyak membaca pengetahuan ilmu agama agar bisa menyeimbangkan Ning Faza dan Ustadz Adnan jikalau nanti Mereka harus di hadapkan di depan Pak Kiai.
Di sepertiga malam seperti malam-malam yang selalu Zayn lakukan sejak mantap berhijrah, Kali ini Zayn juga baru menyelesaikan shalat hajat, Zayn yang semakin mendalami ilmu agama tidak semata-mata hanya ingin mengejar Ning Faza. Namun Zayn juga mengejar keutamaan shalat hajat yang lain seperti mendapatkan pahala dari Allah SWT, Mendekatkan diri kepada Allah SWT, Mendapatkan perasaan yang tenang dan Rasa tawakal yang lebih kuat.
"Siapa yang berwudu dan sempurna wudunya, kemudian sholat dua rakaat (sholat hajat) dan sempurna rakaatnya, maka Allah berikan apa yang dia pinta cepat atau lambat." (HR.Ahmad) jadi kalau di kasihnya lambat, Kamu yang sabar ya Zayn." ucap Bimo menepuk pundak Zayn.
__ADS_1
Zayn menoleh ke Bimo dengan dingin.
"Kamu harus bersiap dengan dua kemungkinan yang akan terjadi Zayn, Jika memang Ning Faza memilih Ustadz Adnan, Kamu harus berbesar hati."
"Sesungguhnya Allah maha membolak-balikkan hati setiap manusia, Kita lihat saja bagaimana reaksi Ning Faza kalau sudah melihat ku."
Seperti biasa Zayn bicara dengan penuh percaya diri.
š Pagi Hari š»
Pak Kiai dan keluarga telah sampai di pesantren.
para Ustadz dan orang-orang penting di pesantren menyambut kedatangan Mereka, Beda dengan para santriwan dan santriwati yang hanya bisa melihat mereka dari kejauhan.
Dari lantai tiga asrama, Zayn melihat Ning Faza dan keluarga yang tengah melangkah mendekati rumahnya. Rumah Pak Kiai yang memang sebelahan dengan asrama putra membuat Zayn bisa melihat dengan jelas pujaan hatinya telah kembali ke pesantren.
Ning Faza menghentikan langkahnya saat sampai di depan teras rumahnya. Ustadz Adnan yang berada di belakangnya ikut berhenti dan melihat Ning Faza yang menengadahkan kepalanya ke asrama putra.
Ustadz Andan juga melihat ke atas dimana Ning Faza juga melihatnya. Seketika Faza merasakan hatinya berdebar lebih cepat saat melihat Zayn melempar senyum yang begitu mempesona padanya. Di tambah dengan Zayn yang bertelanjang dada membuat Ning Faza menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Ustadz Andan mengamati keduanya, Terutama Ning Faza yang langsung berubah sikap saat melihat Zayn.
Ustadz Andan menarik nafas dalam-dalam menahan rasa cemburu di hatinya. Namun Ning Faza seolah lupa jika di sisinya masih ada Ustadz Adnan yang setia menunggunya masuk.
"Ning Faza..." sambutan dari Mbak Anna mengagetkan Ning Faza.
"Bagaimana kabarnya Ning, Gimana wisudanya?" dengan Hangat Mbak Anna memeluk Ning Faza dan mencium pipi kanan kirinya.
"Alhamdulillah Mbak."
"Baiklah masuk dulu yuk, Kita ngobrol lagi di dalam, Mari Ustadz Adnan.'
Ning Faza menoleh ke belakang seolah baru menyadari jika calon suaminya berdiri di belakangnya.
Ustadz Adnan mengangguk dan menitah Ning Faza masuk ke rumahnya. Ning Faza menatap Ustadz Adnan sejenak dan kembali melirik Zayn sekilas kemudian masuk ke rumahnya.
Zayn terseyum mengusap rambutnya penuh gaya,
"Kamu tidak akan bisa melupakan ku Ning, Kamu tunggu saja bagaimana Aku akan menunjukkan pesonaku pada mu."
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri. Zayn masuk ke kamarnya.
Bersambung...