
Faraz membawa Zayn ke tempat yang sepi, Hanya berdua tanpa siapapun boleh mengikutinya, Faraz ingin mengintrogasi putranya yang memiliki masa lalu penuh dengan kemaksiatan. Oleh sebab itu Faraz tidak menyalahkan sikap Faza jika karena masa lalu putranya Faza jadi ragu akan pernikahannya.
"Sekarang katakan pada Papa dengan jujur, Apa kamu pernah melakukan hubungan badan?"
"Tidak pernah Pa, Kan Opa sendiri yang mergokin Zayn dengan Carissa sebelum kami melakukannya."
"Papa hanya tanya apa kamu pernah melakukan hubungan badan?! Bukan hanya dengan Carissa saja, Tapi dengan wanita-wanita yang pernah kamu kencani! Apa kamu pernah melakukannya?"
Zayn menundukkan kepala tak menjawab apa yang Papanya tanyakan kepadanya.
"Jawab Zayn!"
"Tapi tidak dengan Carissa Pa."
Pengakuan itu sungguh mengejutkan mengingat sebelum ia di masukan ke Pesantren Zayn tidak mengakuinya.
"Zayn?" Faraz menatap putranya dengan tatapan kekecewaan dan rasa tak percaya, Ia tidak pernah menyangka putranya yang mengikuti jejaknya sebagai model remaja memiliki pergaulan hingga kelewat batas.
"Maafkan Zayn Pa, Zayn sudah bohongin Papa dan Mama, Zayn fikir dengan tidak mengakui jika pernah melakukannya, Papa akan meringankan hukuman ku tapi Papa tetap mengirim ku ke penjara suci ini."
"Seharusnya Papa mengirim mu ke penjara Zayn!"
Zayn menunduk sedih, Ia sungguh menyesali perbuatannya. Dulu ia memang terpaksa berada di penjara suci itu, Namun setelah mengenal Ning Faza dan sudah terbiasa beribadah kini ia benar-benar menyesali akan dosa-dosa masa lalunya.
"Berapa banyak wanita yang sudah pernah kamu tiduri?"
"Please Pa, Itu masa lalu, Kali ini Zayn sudah benar-benar berubah, Zayn hanya ingin menikah dengan Ning Faza dan beribadah kepada Allah."
"Apa setelah ini kamu masih merasa pantas untuk Ning Faza?" tanya Faraz dengan nada meremehkan.
"Setiap orang memiliki masa lalu, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk bertaubat, Jika Allah SWT bisa menerima taubat ku maka tidak ada manusia yang bisa menentukan pantas tidaknya jodoh yang sudah Allah SWT gariskan."
"Tidak semudah itu Zayn, Kini Carissa mengandung dan foto-foto panas kalian menjadi bukti kalian pernah menjalin hubungan, Lalu apa yang akan kamu lakukan Zayn?"
"Zayn akan melakukan tes DNA, Zayn akan membuktikan jika itu bukanlah Anak ku."
"Lalu bagaimana jika di kemudian hari wanita-wanita yang pernah kamu tiduri melakukan hal yang sama seperti Carissa?"
"Jika mereka mau melakukannya, Seharusnya mereka lakukan sejak dulu. Tapi mereka tidak melakukannya dan memilih menikah dengan orang lain. Lagi pula tidak mungkin juga mereka memiliki Anak dariku karena Aku selalu menggunakan pengaman saat melakukannya."
"Kamu benar-benar menjijikkan Zayn!"
__ADS_1
Kemudian Faraz terdiam ia merasa sangat marah dengan kenyataan yang ia dengar. Namun melihat Zayn yang kini sudah benar-benar bertaubat tidak mungkin ia marah dan tidak mendukungnya.
"Kita akan ungkap kebohongan Carissa dan Malvin bersama-sama," ucap Faraz yang berusaha menerima kenyataan masa lalu putranya.
"Terimakasih Pa, Terimakasih sudah mendukung ku."
Faraz menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi.
"Pa..." Zayn kembali menghentikan langkah Papanya untuk meminta satu hal kepadanya.
"Tolong jangan katakan apapun pada Mama dan yang lainnya."
"Papa tidak bisa janji."
“Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, Kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, Padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, Yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, Tadi malam Aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, Tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).
"Selama ini Zayn telah menutupi aib ini seperti Allah SWT menutupi aib ku, Tapi karena masalah ini, Zayn harus mengungkap aib ini kepada Papa, Jadi mohon cukup Papa yang tau saja, Jangan buka aib ini kepada yang lainnya."
"Baiklah." Jawab Faraz singkat.
•••
Adnan sampai di rumah Pak Arsyad Sanusi.
"Assalamualaikum..." ucap Adnan menjabat tangan Pak Arsyad.
"Wa'alaikumsalam Nak Adnan, Alhamdulillah Saya benar-benar merasa lega akhirnya Nak Adnan mau datang memenuhi tawaran Saya,"
"Sama-sama Pak Arsyad, Ini sudah kewajiban Saya untuk mengamalkan ilmu yang Saya miliki agar bermanfaat bagi orang lain."
"Saya sangat kagum pada Nak Adnan. Nak Adnan masih muda tampan tapi memilih jalan dakwah tidak seperti kebanyakan pemuda di zaman sekarang."
"Setiap orang memiliki hobi dan pilihanya masing-masing, Jadi tidak perlu membandingkan satu dengan yang lainnya."
"Ya baiklah, Mari kita masuk dulu."
Adnan mengangguk dan mengikuti Pak Arsyad kedalam.
"Silahkan duduk Nak Adnan, Saya akan panggilkan Sakinah."
"Silahkan Pak."
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
Ceklekkk...
"Sakinah kamu belum mengganti pakaian mu?"
"Sebenarnya Saki mau di suruh ngapain Pah, Seharian gak boleh main, Gak boleh keluar kamar dan sekarang suruh pakai baju seperti ini." ujar Sakinah memegang gamis lebar yang seakan ia baru melihat pakaian seperti itu.
"Jangan membantah Sakinah, Cepat ganti pakaian mu dan keluarlah."
Dengan mengerucutkan bibirnya Sakinah langsung memakai gamis tersebut tanpa melepas kaos oblong dan celana pendek yang ia kenakan.
"Pakai ini juga." Pak Arsyad mengulurkan jilbab lebar yang senada dengan gamisnya.
"Jangan yang ini lah Pah, Ini terlalu panas, Saki pakai ini aja." Sakinah langsung mengambil pasmina tipis dan hanya menutupi sebagian rambutnya yang terurai berantakan dengan warna rambut yang sudah ia ubah. Kemudian Ia langsung keluar tanpa menunggu perintah dari apapahnya.
"Sakinah... Sakinah..." Pak Arsyad mencoba menghentikan Sakinah untuk mengganti jilbabnya. Namun Sakinah tidak mendengarkannya hingga langkah kakinya terhenti saat ia melihat Adnan ada di ruang tamunya.
"Kau!" ucap Sakinah.
Adnan menoleh dan begitu terkejut melihat Sakinah ada di hadapannya.
"Kau!" Adnan langsung berdiri dari duduknya.
Pak Arsyad merasa bingung kepada keduanya.
"E... Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Pak Arsyad yang melihat Adnan dan Sakinah saling memandang dengan keterkejutan.
Adnan segera menurunkan pandangannya.
"E.. Ya, Dia pernah ingin menabrak mobil ku."
"Tapi Aku pernah menyelamatkan mu." timpal Sakinah.
"Jika tidak ada dirimu, Aku juga bisa menyelamatkan diri dari kericuhan yang kalian lakukan."
"Sakinah, Nak Adnan, Ada apa ini, Ayo kita duduk, Bicarakan dengan baik-baik."
"Tidak! Saya mohon maaf Pak Arsyad, Saya tidak bisa mengajar putri Anda."
"Apa!" Pak Arsyad begitu terkejut dengan apa yang Adnan katakan.
__ADS_1
Bersambung...