Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Bersaing Cinta Dengan Ustadz


__ADS_3

Faza menutup ponselnya dan terdiam dengan apa yang sudah Ia jawab pada Abinya. Kemudian Ia kembali mengingat semua kata-kata yang sudah Zayn katakan padanya.


"Tidak-tidak, Keputusan ku menerima lamaran Ustadz Adnan sudah benar, Abi pasti lebih tau mana yang terbaik untuk ku." Faza terus meyakinkan hatinya dan menepis perasaannya pada Zayn.


•••


Faraz mencoba menenangkan Zayn yang terlihat begitu gusar.


Niatnya untuk meminta izin pada Pak Kiai dengan membawa Papanya malah di dahului oleh Ustadz Adnan dan keluarganya.


"Zayn, Tenangkan diri mu, Kamu tidak bisa menunjukan kemarahan mu di depan Mereka, Mereka adalah Ustadz dan Pak Kiai, Jadi semarah apapun Kita, Kita harus merendah dan bicara sopan pada Mereka.


"Tapi Aku tidak bisa kehilangannya Pa."


"Tapi sepertinya Dia bukan jodohmu Zayn, Kamu lihat orang tua Ning Faza, Orang Tua Ning Faza adalah Pemilik sekaligus pengasuh pondok pesantren ini, Sedangkan orang tua Ustadz Adnan Mereka terlihat begitu religius, Dan Ustadz Adnan sendiri adalah seorang Ustadz muda tampan yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang jauh lebih tinggi di bandingkan keluarga kita, Kita tidak akan sepadan dengan Mereka Zayn."


"Apakah itu penting? Bukankah pernikahan harus di dasari dengan rasa cinta dari kedua belah pihak?"


"Tidak semuanya Zayn, Papa dan Mama mu juga tidak menikah karena cinta, Apa lagi Mereka yang mengerti tentang ilmu agama, Pasti tujuan mereka menikah adalah beribadah kepada Allah SWT."


Zayn menundukkan kepalanya. Rasanya hatinya begitu sakit menerima kenyataan jika gadis pujaannya sudah di lamar oleh Pria lain.


"Zayn, Kamu benar-benar mencintainya?" tanya Faraz yang selama ini tidak pernah melihat Zayn sedih karena wanita.

__ADS_1


"Sangat Pa, Selama ini Zayn memang selalu dekat dengan banyak gadis, Tapi tidak ada yang bisa mencuri hati Zayn seperti Ning Faza, Jika selama ini para gadis langsung memandang Zayn dengan tatapan menggoda, Maka Ning Faza akan menundukkan pandangannya, Jika gadis lain berlomba menampilkan keseksiannya maka Ning Faza menyembunyikannya dengan gamis syar'i nya, Jika yang lain langsung memeluk Zayn, Maka Ning Faza akan langsung membelakangi Zayn.


Dia begitu menjaga diri dari yang bukan mahramnya bahkan saat Ia jauh dari pesantren, Jauh dari pantauan Abi dan Umminya."


"Papa tidak tau banyak tentang agama, Tapi papa tau betul jika rezeki, jodoh dan maut sudah di tulis sebelum kita lahir, Jadi Papa hanya bisa bilang, Kalau Ning Faza jodoh mu, Maka Allah akan menyatukan kalian bagaimana pun caranya."


Zayn mengangguk dan memeluk Papanya.


•••


Selepas shalat magrib seperti biasa para santri makan malam bersama dengan antrian yang teratur. Tidak seperti biasanya kali ini Ustadz Adnan juga ikut mengantri dengan santri yang lain.


Setelah itu Ustadz Adnan melihat-lihat tempat duduk yang kosong dan hanya melihat tempat duduk di depan Zayn yang kosong.


Zayn mengangkat pandangannya dan melihat pesaing cintanya duduk tepat di depannya.


"Hay Zayn," sapa Ustadz Adnan.


Zayn bersikap sinis dan terus melahap makanannya. Makanan yang dulu selalu Zayn hina, Namun kini sudah terbiasa di lidahnya.


"Kamu marah pada ku?"


"Apa ada alasan untuk ku marah dengan Ustadz?" Zayn balik bertanya dengan dingin.

__ADS_1


"Tentu, Kamu marah karena saya melamar Ning Faza kan?"


Zayn masih mengabaikan ucapan Ustadz Adnan dengan terus melahap makanannya.


"Ini sudah di rencanakan begitu lama, Dan memang waktunya baru sekarang, Jika Kamu menganggap Saya yang mendahului mu maka kamu salah besar, Karena Pak Kiai sendiri menginginkan ini sejak Ning Faza duduk di bangku SMA."


"Tapi Ustadz jangan percaya diri dulu, Kita lihat bagaimana jawaban dari Ning Faza." Zayn beranjak bangun dan bersiap meninggalkan Ustadz Adnan. Namun Zayn kembali di hentikan oleh ucapan Ustadz Adnan.


"Bahkan Ning Faza melalui telefon sudah menyetujui lamaran ini."


Deg! Seketika Zayn merasa hatinya tertusuk seribu duri mendengar pengakuan Ustadz Adnan.


"Zayn Aku tau kamu orang yang pemberani, Yang nekat dan tidak akan tinggal diam begitu saja, Tapi perlu kamu ingat satu hal.


Sesungguhnya tidak boleh melamar atas lamaran orang lain sebelum Ia menikahi atau meninggalkannya, Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam An-Nasa'i yang bersumber dari Abu Hurairah."


Zayn yang masih berdiri membelakangi Ustadz Adnan berbalik badan menatapnya.


"Saya tidak akan melamar Ning Faza karena Ustadz sudah melamarnya, Tapi jangan salahkan saya jika pada saat Ning Faza pulang, Ning Faza merasa ragu dengan keputusannya dan lebih cenderung ke saya daripada Ustadz." Zayn terseyum penuh percaya diri dan meninggalkan Ustadz Andan.


Ustadz Andan terdiam dan merasa khawatir dengan apa yang Zayn ucapkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2