
Di sisi lain Simba yang juga telah sampai di rumahnya langsung melempar tas pakaiannya kepada penjaga rumah yang berdiri menyambut kedatangannya. Membuat penjaga rumah kaget dan hampir kehilangan keseimbangannya.
"Payah! Gitu aja gak kuat, Makanya olahraga, Lihat tuh perut udah membuncit." ejek Simba yang kemudian berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Seperti orang yang tengah di mabuk cinta, Simba bersiul-siul sambil melepaskan satu persatu sepatu yang ia kenakan lalu meninggalkannya begitu saja di sembarang tempat. Begitupun dengan jaketnya, Simba melepaskan jaketnya dan melemparkan ke sembarang arah.
"Zaidan Faaiq Shaikh!"
Mendengar teriakkan dari Ayahnya, Simba mengerutkan semua panca indera di wajahnya dan menoleh ke belakang. Ia menjadi sangat terkejut ketika jaket yang ia lempar menutupi wajah Ayahnya.
"E-mm... Papa...."
"Berapa kali Papa bilang, Jangan melempar barang-barang mu di sembarang tempat!"
"Dan berapa kali Aku mengatakan, Jangan memanggil ku Zaidan Faaiq Shaikh, Panggil Aku Simba, Simba si pria tampan, Kuat dan pemberani." dengan membusungkan dada Simba memperlihatkan otot tangannya.
"Seberani-beraninya kamu, Kamu belum bisa sebanding dengan Papa yang memenangkan hati Mama mu dari persaingan cinta dengan ustadz kesayangan Kakek mu."
"Ya ya ya ya ya... Zayn Athallah Faraz Shaikh si pemenang cinta Faza Aishaqila, Putri dari pemangku pondok pesantren yang cukup besar di Jawa tengah. Aku sudah sering mendengar itu dari Opa Faraz dan juga Om Zayd, Harus ku akui, Papa memang luar biasa tapi akan ku buktikan jika Aku juga akan menemukan wanita yang mampu membuat ku menangis karena merindukannya."
__ADS_1
"Apa!? Apa Papa tidak salah dengar? Kamu mencari seorang wanita yang bisa membuat mu menangis karena merindukannya?" tanya Zayn tak percaya.
"Ya, Apa ada yang salah?"
"E-tidak, Tapi.... Apakah itu mungkin, Kamu terus saja singgah dari wanita satu ke wanita lainnya, Kamu ini cepat bosan, Bagaimana kamu bisa menangis untuk seorang wanita?"
"Bisa Pa, Dan itu akan segera terjadi." Simba tersenyum mengingat pertemuannya dengan Mawar. Namun seketika senyumannya terhenti saat mendengar suara ibunya.
"Zaidan, Berapa kali Mama bilang berhenti mempermainkan hati perempuan, Apa kamu benar-benar ingin di kirim ke pesantren Kakek?"
"Oh Mama ku sayang, Apa Mama yakin akan mengirim ku ke sana, Sementara Aku putra Mama satu-satunya." dengan manja, Simba meletakkan kepalanya di pundak ibunya sambil mengalungkan kedua tangannya.
"Coba saja kalau bisa." saut Simba tertawa.
"Hey... Apa kamu mengejek Papa lagi?"
"Maafkan Aku Papa, Tapi Papa sudah mencobanya hampir 20th dan Papa tidak berhasil memberikan ku Adik," ejek Simba lagi.
"Zaidan Faaiq Shaikh!" Zayn memasang wajah tegasnya. Namun hubungan mereka yang selama ini seperti sahabat tidak membuat Simba takut dan justru membuat Simba semakin senang meledek Ayahnya.
__ADS_1
"Papa payah, Masa kalah sama Tente Zia."
"Zaidan kau..."
Tak menghiraukan Ayahnya yang masih belum selesai bicara, Simba tertawa lepas dan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Hey istriku, Apa Aku terlalu memperlakukan putra kita seperti teman, Atau kamu yang terlalu memanjakannya?" dengan gerakan mendorong, Zayn menggigit hidung Faza dengan gemas.
Dengan pipi yang memerah, Faza memekik kecil dan memukul lengan Zayn.
"Putra kita sudah dewasa, Masih saja bersikap seperti remaja," ucap Faza sambil mendorong pelan tubuh Zayn.
"Usia boleh menua, Anak boleh remaja, Tetapi cinta ku padamu masih sama seperti ketika pertama kali Aku melihatmu."
Faza menjadi sangat berbunga, Ia menatap wajah sang suami yang tidak pernah berubah meskipun pernikahan mereka sudah lebih dari 20th.
π BERSAING CINTA DENGAN USTADZ Lanjut Di novel LAYUNYA BUNGA DESA ya guys, Buruan di favorit dan tunggu kisah anak Babang Zayn dan Ning Faza yang super ganteng ini βΊοΈ
__ADS_1