Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Keputusan Untuk Zayn


__ADS_3

Keesokan harinya Pak Kiai memanggil Zayn untuk menemuinya di masjid agar Faza tidak mengetahui keputusan apa yang akan ia berikan untuk Zayn.


Dengan perasaan tegang Zayn menaiki tangga masjid dan berjalan membungkuk begitu melihat Pak Kiai yang sudah duduk bersila di lantai masjid.


"Assalamualaikum Pak Kiai."


"Wa'alaikumsalam..." jawab Pak Kiai tanpa ekspresi.


"Duduklah!"


Zayn mengangguk patuh dan duduk bersila di depan Pak Kiai.


"Kemarin kamu bilang dengan ada tidaknya Faza kamu sudah terbiasa beribadah?" tanya Pak Kiai mengulangi perkataan Zayn hari itu.


"Insya Allah Pak Kiai."


"Kalau begitu Saya akan mengirim mu ke pelosok desa yang jauh dari sini, Jauh dari kota maupun benda-benda elektronik lainnya, Kamu akan menjalani kehidupan menyatu dengan alam tanpa bantuan siapapun.


Zayn langsung mengangkat wajahnya memandang Pak Kiai.


Ia begitu terkejut dengan apa yang baru saja Pak Kiai ucapkan.


"Kenapa Zayn? Apa kamu merasa keberatan?"


"Tidak Pak Kiai, Saya tidak keberatan sama sekali, Jika itu sudah jadi keputusan Pak Kiai, Maka itu yang terbaik buat Saya."


"Bagus! Sekarang bersiaplah, Supir akan segera mengantar mu!"

__ADS_1


Zayn mengangguk dan melangkah mundur kemudian berbalik badan menuruni anak tangga masjid.


"Zayn! Satu hal lagi."


Zayn menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Pak Kiai.


"Jangan mengambil kesempatan untuk berbicara pada Faza atau kesempatan mu mendapatkannya akan hilang selamanya!"


"Baik Pak Kiai, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..."


Pak Kiai terdiam dan kembali berfikir, Apakah keputusannya sudah benar? Apakah keputusan ini adil untuk Ustadz Adnan? Pak Kiai sendiri pun merasa bingung menentukan siapa yang akan di jadikannya menantu.


•••


Meskipun Pak Kiai tidak mengatakannya secara gamblang, Namun Zayn tau betul ini salah satu ujian yang diberikan oleh Pak Kiai untuk menguji dirinya sebelum memutuskan apakah dia pantas untuk Faza atau tidak.


Bimo yang baru masuk kamar begitu terkejut melihat Zayn mengemasi semua pakaiannya. Ia segera duduk di sampingnya dan memegangi tangan sahabat karibnya tersebut.


"Zayn apa yang terjadi, Apa Pak Kiai mengusir mu?"


"Tidak, Pak Kiai mengirim ku ke plosok untuk menjalani ujian cinta ku pada Ning Faza."


"Apa! Kamu hidup di sini saja sudah ngeluh mulu, Gimana di plosok?"


Zayn hanya tersenyum tipis dan terus memasukkan barang-barang yang sekiranya di perlukan olehnya.

__ADS_1


"Zayn Aku jadi curiga, Jangan-jangan Pak Kiai sengaja melakukan ini untuk menjauhkan mu dari Ning Faza, Agar pernikahan Ning Faza dan Ustadz Adnan berjalan dengan lancar, Emang kamu gak curiga?"


"Hai orang-orang yang beriman, Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.


Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.


Surat Al Hujuroot Ayat 12." jelas Zayn dengan santai.


"Aku hanya merasa khawatir saja Zayn, Meskipun kita sering bertengkar tapi kalau untuk masalah ini Aku merasa tidak rela jika perjuangan mu mendapatkan Ning Faza menjadi sia-sia, Aku takut Pak Kiai akan menikahkan mereka saat kamu berada jauh dari sini."


Zayn menghelai nafas panjang dan menepuk punggung Bimo.


"Jika itu benar terjadi berarti kita tidak berjodoh."


"Jadi kamu menyerah?" Bimo memandang Zayn tak percaya.


"Menyerah dan berserah diri kepada Allah SWT itu berbeda, Menyerah hanya diam tanpa melakukan apapun, Sedangkan berserah diri menyerahkan keputusan atas segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT dengan perbuatan menyerahkan segala perkara, Ikhtiar dan usaha kita kepada Allah SWT."


"Zayn... Bolehkah Aku menangis di pelukan mu?" tanya Bimo yang begitu terharu mendengar apa yang Zayn ucapkan.


"Nggak! Emang Aku cowok apaan!"


"Ayolah Zayn peluk Aku sekali saja sebelum kamu pergi meninggalkan ku."


"Aku tidak mau ternodai oleh mu! Menyingkirlah!"


Bimo tidak peduli dengan apa yang Zayn katakan dan terus memaksa memeluk Zayn meskipun Zayn terus menepis tangannya hingga kejar-kejaran pun terjadi antara dua sahabat yang seringkali bertengkar namun tetap bersama dalam canda tawa dan aksi saling menjaili satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2