
Faza melepaskan kepergian Zayn yang akan menemui orang tuanya untuk membicarakan tentang pernikahan mereka.
Meskipun Zayn meminta izin hanya tiga hari, Namun hal itu membuat Faza sedih karena harus kembali berjauhan dengan Zayn.
Zayn terseyum melambaikan tangannya dan menuliskan sesuatu di kertas kemudian menitipkannya pada santri yang lewat di depannya.
Faza menerima kertas itu dan terus menatap mobil yang membawa Zayn hingga menghilang dari pandangannya.
Setelah itu Faza membuka lipatan kertas yang Zayn berikan.
"Syakhsun muhimm fie hayaatika laisasy syakhsul ladzi tasyuru biwujudihi. Walaakinnahu as syakhsul ladzi tasyuru bi giyabihi."
(Sosok penting dalam kehidupanmu bukanlah sosok yang dapat kamu rasakan keberadaannya. Namun sosok penting dalam hidupmu adalah sosok yang kamu dapat rasakan kepergiannya)
"Apakah Ning Faza merasakan kepergian ku?"
Faza meletakkan kertas itu di dadanya, Kemudian memejamkan mata merasakan kepergian Zayn.
"Bahkan Aku sudah merindukan mu Zayn." batin Faza.
•••
__ADS_1
Adnan yang kini sudah aktif di masjid dekat rumah, Sedang mengisi khutbah Jum'at sesuai permintaan Imam Masjid.
Para jamaah pun dengan khusuk mendengar isi khutbah yang Adnan jelaskan tentang kewajiban orang tua menurut islam. Tak terkecuali dengan beberapa orang yang baru datang dari mobil mewah yang mampir untuk melaksanakan shalat Jum'at.
"Anak adalah tabungan Akhirat bagi orang tua, Oleh karena itu memberi nama yang bagus dengan makna yang baik merupakan suatu Do'a yang terus mengalir sejak anak lahir hingga akhir hayat.
Selanjutnya, Seorang Ayah punya kewajiban untuk mengajar anak ilmu pengetahuan. Terutama ilmu agama, Seperti tata cara sholat lima waktu, Ilmu tauhid, membaca Al Quran dan akhlak yang baik.
Bila orang tua merasa tak memiliki waktu dan kemampuan yang baik maka berhak membayar orang lain untuk mengajarkan ilmu Islam pada Anak-anak mereka.
Tanggung jawab terakhir, Menikahkan anak dengan orang yang tepat sesuai HR. Bukhari Muslim, Yaitu karena keturunannya, Karena parasnya, Karena kekayaannya, dan karena agama nya, Maka nikahkan lah Anak-anak kalian karena agamanya niscaya kalian akan beruntung.
Meski anak laki-laki tidak wajib didampingi seorang Ayah, Tapi peran sertanya begitu berarti. Sedangkan anak perempuan, Tetap harus didampingi Ayah kandung sebagai wali, Apabila masih ada."
Para jama'ah mulai meninggalkan masjid satu persatu. Namun ada tiga orang yang masih duduk di masjid dengan stelan jas berwarna hitam yang terlihat sedang nenunggu situasi sepi.
Ustadz Andan yang sudah menyelesaikan dzikir nya bangkit dari duduknya dan melewati tiga orang tersebut dengan sedikit membungkukkan badannya. Namun salah seorang laki-laki yang terlihat begitu karismatik berusia sekitar 45th menghentikan langkah Adnan.
"Mohon maaf Pak Ustadz, Boleh kita berbincang sebentar?"
"Oh ya, Silahkan." Adnan duduk bersila di depan laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Ada bisa saya bantu?"
"Begini Pak Ustadz...."
"Adnan, Panggil saja Adnan."
"Baiklah, Begini Nak Adnan, E... Saya panggil Nak saja gak papa kan, Saya lihat usiamu masih sangat muda."
"Itu lebih baik," ucap Adnan terseyum ramah.
"Begini Nak Adnan, Tadi Saya telah mendengar semua penjelasan tentang tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dan Alhamdulillah saya juga telah memberikan nama yang mengandung arti yang baik menurut Islam, Yaitu Sakinah Humaira, Tapi karena kesibukan Saya dan istri, Membuat kami hanya mempercayakannya pada sekolah dan guru agama yang kami panggil ke rumah, Tapi tidak ada satupun ilmu agama yang di serap oleh putri kami, Hingga semakin hari putri kami semakin liar dan selalu membuat masalah, Beberapa kali dia juga berurusan dengan polisi karena kenakalannya dengan teman tongkrongannya, Jujur kami sebagai orang tua sudah merasa putus asa dengan sikapnya, Jadi maksud Saya mengatakan ini kepada Nak Adnan, Menurut Nak Adnan apa yang harus kami lakukan?"
"Masukan ke pesantren, Kebetulan Saya pernah mengajar di pesantren khusus menangani Anak-anak bermasalah, Saya bisa berikan alamatnya pada Anda."
"Jadi Nak Adnan pernah menangani Anak-anak bermasalah?"
"Hanya membantu, Banyak pengajar lain yang berhasil membina Anak-anak bermasalah menjadi lebih baik dari sebelumnya."
"Nak Adnan terlalu merendah. E... Kalau Saya memasukan putriku kesana, Apa Nak Adnan yang akan mengajarnya?"
"Tidak, Saya hanya mengajar santri putra tapi itu tidak lagi, Karena Saya sudah tidak lagi di pesantren tersebut." Adnan menjadi diam mengingat kegagalan pernikahannya dengan Faza.
__ADS_1
Bersambung...