Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Uhibuki


__ADS_3

Malam Hari 🌙


Faza yang sudah berbaring di sebelah Mbak Anna masih belum bisa tidur, Hatinya terus merasa gelisah, Ia mencoba merubah posisinya ke kanan dan ke kiri. Namun tidak bisa membuat Zayn pergi dari pikirannya. Bayangan Zayn terus melintas dalam pikirannya seperti yang Zayn ucapkan padanya.


"Ning..." tegur Mbak Anna yang merasa terganggu dengan pergerakannya.


"Ya Mbak,"


"Apakah Zayn yang membuat Ning Faza gelisah?"


"Mbak Anna, Aku sudah berusaha melupakannya, Tapi Dia terus muncul dalam ingatanku."


"Bagaimana nanti jika Ning Faza jadi menikah dengan Ustadz Adnan jika hati Ning Faza untuk Pria lain? Bukankah itu akan mendzalimi Ustadz Adnan?"


"Lalu apa yang harus ku lakukan Mbak, Aku tidak tau bagaimana memberitahu pada Abi, Aku takut Abi kecewa padaku dan tidak bisa menerima Zayn."


"Bicarakan pada Ummi terlebih dahulu dan lihat bagaimana reaksi Ummi setelah mengetahuinya, Setelah itu baru bicara pada Abi."


"Bagaimana kalau Ummi tidak mendukung ku?"


"Coba dulu Ning, Mencoba lebih baik daripada berdiam diri. Pernikahan Ning semakin dekat jika Ning Faza hanya diam seperti ini, Yang ada Ning Faza kehilangan kesempatan untuk bersama Zayn."


Faza menatap Mbak Anna dan mencerna kata-katanya.


"Sekarang tidurlah, Jangan sampai terlambat bangun untuk melakukan Istikharah dan minta pertolongan Allah agar Ning Faza diberi keberanian untuk mengatakan perasaan Ning Faza."


Faza mengangguk dan kembali berbaring.


•••


Setelah sarapan pagi rombongan berkumpul di pelataran parkir.


Pak Kiai memberikan tausiyah nya tentang Musafir buntuk menutup ziarah terakhir yang akan berakhir hari ini.

__ADS_1


"Ketika kita sedang bepergian jauh atau menjadi musafir, Inilah momen di mana doa kita mendapat waktu mustajab atau mudah dikabulkan. Seperti yang diriwayatkan oleh hadist seperti berikut :


ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ


Artinya: "Tiga waktu yang diijabah (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) doa orang yang terdzolimi, (2) doa seorang musafir, (3) doa orangtua pada anaknya" (HR. Ahmad, At Tirmidzi).


Jadi di hari terakhir kita sebagai Musafir, Yang mau berdoa, Yang mempunyai hajat atau keinginan, Silahkan manfaatkan waktu yang mustajab ini."


Mendengar hal itu membuat Zayn begitu bersemangat, Ia menoleh ke arah Ning Faza seolah ingin mengatakan untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang akan Ia lakukan.


Ning Faza yang melihat Zayn terus menatapnya menundukkan kepalanya dan mengikuti rombongan yang mulai menaiki Bus.


Zayn segera menyusulnya dan telah memiliki ide untuk mengatakan apa yang ingin Ia katakan.


Setelah Bus meninggalkan hotel, Zayn mulai menulis dalam lembaran buku dan memberikan pada Ning Faza dari celah kursi.


"Hsst..." lirih Zayn menarik sedikit hijab Ning Faza yang terjuntai ke celah kursi.


"Seperti yang Abi katakan, Ini kesempatan yang baik untuk kita berdoa. Aku telah berdoa agar nafas ku menyatu dengan nafasmu, Maka kini giliran mu agar raga kita menjadi satu dalam halalnya pernikahan." Ning Faza memejamkan mata merasakan desiran aneh yang mengalir dalam tubuhnya. Belum sempat Faza membuka mata, Zayn kembali menarik hijabnya dan memberikan selembar kertas berikutnya.


"Aku menghabiskan waktu merayu Allah atas keingian yang tak mampu kupenuhi sendiri. Karena untuk menyatukan dua hati harus ada usaha dari kedua belah pihak, Maka dari itu bantu Aku merayu Allah Ning."


Baru selesai Faza membaca, Kertas ketiga kembali Ia dapatkan.


Faza kembali membukanya tanpa tau jika di bangku sebelah, Calon suaminya tengah memperhatikannya.


"Laa uriedu syaian minad dunnya, Fa anaa asyuru annanie akhotztu nashibie minanl farahi hiena uhibbuki."


(Aku tidak mau sesuatu dari dunia ini, Karena Aku sudah merasa mengambil semua jatah kebahagiaanku saat Aku mencintaimu)


Faza tidak bisa lagi menahan senyumnya, Ia meletakkan ketiga lembar surat itu di dadanya sambil memejamkan mata merasakan rasa cintanya yang tidak bisa lagi Ia sembunyikan.


Zayn terseyum bahagia karena dapat melihat reaksi Ning Faza yang terpantul dari kaca di sebelahnya.

__ADS_1


Sedangkan Ustadz Adnan yang ada di bangku sebelah, Dapat melihat dengan jelas senyum dari keduanya yang menunjukkan layaknya dua insan yang tengah di mabuk cinta.


"Haruskah Aku mengikhlaskan Ning Faza untuk nya?" batin Ustadz Adnan yang tidak bisa lagi memungkiri rasa cinta dari calon istrinya begitu terlihat untuk pria yang tak lain adalah Santrinya sendiri.


Masih terus memperhatikan Faza, Ustadz Andan melihat Faza terseyum begitu bahagia sambil bergelayut di tangan Mbak Anna dan menyandarkan kepalanya di pundaknya.


Perjalanan yang begitu menyenangkan bagi Zayn dan Faza dan menyesakkan untuk Ustadz Andan akhirnya berakhir di Makam Sunan Ampel yang terletak di Kampung Ampel, Kota Surabaya. Tepatnya di Jalan Petukangan, Ampel, Kecamatan Semampir.



Sunan Ampel adalah putra dari Syekh Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy dengan Dyah Candrawulan. Ibrahim As-Samarqandy merupakan putra Jamaluddin Akbar al-Husaini. Sunan Ampel juga merupakan keponakan Dyah Dwarawati, istri Bhre Kertabhumi raja Majapahit.


Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Muhammad Ali Rahmatullah. Sejak kecil ia sering dipanggil Raden Rahmat. Namun, setelah menyebarkan agama Islam dan menjadi tokoh masyarakat dulu ia dipanggil Sunan Ampel.


Nama Sunan Ampel yang disandangnya berasal dari nama tempat, Yakni Ampel Denta. Kini tempat tersebut berganti nama menjadi Wonokromo, bagian dari Surabaya.


Sunan Ampel diperkirakan wafat pada 1467 Masehi ketika tengah bersujud di Masjid dan di makamkan di Masjid Ampel Surabaya.


Setelah berziarah, Rombongan mampir ke Masjid Agung Sunan Ampel yang terletak tepat di depan Makam. Bangunannya dipenuhi kayu-kayu jati yang kokoh dan megah dengan mengakulturasikan budaya Arab dan Jawa.



Masjid ini dipercaya memiliki keberkahan tersendiri, Karena tidak pernah mengalami kerusakan meski sempat diserang penjajah.


Setelah berkunjung ke Wisata Religi Sunan Ampel, Rasanya tak lengkap kalau tidak mampir ke Kampung Arab untuk berbelanja banyak pernak-pernik menarik. Mulai dari gamis, peralatan salat, Parfum dan lain-lain.


Sepanjang lorong kampung Arab, Zayn selalu berjalan tidak jauh dari Ning Faza dan Mbak Anna yang asik melihat-lihat souvernir dari kios satu ke kios lainnya, Tapi kali tidak ada kesempatan untuknya mendekatinya, Selain waktunya yang masih siang Ustadz Adnan juga telah mendahului untuk mendekati Ning Faza.


Zayn hanya bisa melihat wanita pujaannya di dekati oleh Ustadz Adnan yang tak lain adalah calon suami yang dipilihkan oleh Pak Kiai untuk Ning Faza, Wanita yang begitu Ia cintai yang membuat dirinya melupakan gemerlapnya ibu kota. Ingin Ia melangkahkan kakinya mendekati mereka dan tidak memberi kesempatan pada Ustadz Andan untuk bicara pada Ning Faza. Namun belum sempat kaki itu melangkah seseorang menarik tangannya dari belakang.


"Zayn..." Suara wanita dengan nada manja itu bukan mengagetkan Zayn, Tetapi mengagetkan Ustadz Andan, Faza dan juga Mbak Anna yang memang berada di kios yang tidak jauh dari Zayn berdiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2