Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Kerinduan Ning Faza


__ADS_3

Keesokan Harinya, Ning Faza merasa resah karena tidak melihat Zayn seperti biasanya. Padahal Ning Faza sudah menyuruh salah satu santri putra untuk mencarinya di asrama, Di kelas hingga ke lapangan.


Karena tidak bisa menahan lagi perasaannya, Ning Faza pergi ke perkebunan untuk mencarinya. Namun Ia juga tidak menemukan Zayn di sana, Tak terasa kesedihan tak melihat Zayn bersemayam di hatinya.


Dan itu di lihat oleh Ustadz Andan yang sejak tadi memperhatikan calon istrinya itu.


"Apakah pantas bagi seorang perempuan merindukan laki-laki lain sedangkan calon suaminya berada di dekatnya?"


Ning Faza terkejut dan menoleh ke belakang.


Kemudian Ning Faza menundukkan kepalanya melihat Ustadz Andan yang sudah berdiri di depannya.


"Ada apa dengan Dek Faza, Kenapa sejak mengenal Zayn, Dek Faza seolah melupakan batasan antara laki-laki dan perempuan?"


"Rindu bukanlah seperti shalat subuh yang bisa memilih di antara dua pilihan, Kita ingin tetap tidur atau bangun melaksanakan shalat, Kita ingin dosa atau pahala. Berapa kali Faza tidak ingin rindu tapi hati tetap merindukannya."


"Dek Faza sadar dengan apa yang Dek Faza katakan?" tanya Ustadz Adnan tak percaya.


Faza kembali menjawab dengan sikap dinginnya,


الميت ا لو لمن لم العفة النظر لو اختلى لم اوز الشرع الكتمان اشية الباجوري لى ابن اسم الغزي 1 244


“Dan orang yang mati karena rindu, meski terhadap orang yang tidak boleh dia rindukan (bukan mahram) seperti (lelaki) rindu kepada (perempuan), atau sebaliknya, dengan syarat 'iffah (menjaga diri dari maksiat) bahkan sampai menjaga diri pandangan sekiranya dia berduaan dengan orang yang dicintainya maka ia tidak melewati batasan syariat & dengan kebahagiaan yang tersembunyi bahkan terhadap yang dirindukan sekalipun.” ( Al-Bajuri dalam Ibn Qasim Al-Ghazali)"

__ADS_1


Ustadz Andan terhenyak mendengar ucapan Ning Faza, Hatinya terasa tertusuk-tusuk seribu belati mendengar calon istrinya membicarakan rasa rindu kepada laki-laki lain.


Faza meninggalkan Ustadz Adnan dan kembali ke rumahnya.


Sampai depan pintu langkahnya terhenti melihat Abi sedang duduk di ruan tamu.


"Faza..." sapa Abi sambil melepas kacamatanya.


Dengan hati gundah gulana dengan setengah berlari Faza menghampiri Abinya dan duduk di bawah kakinya.


Kemudian Faza meletakkan kepalanya di pangkuan sang Abi dengan perasaan yang Ia sendiri tidak bisa mengendalikannya.


"Ada apa Faza, Kenapa bersedih?"


"Abiii... Berdosakah jika kita merindukan seseorang?"


"Jawab saja Abi."


"Ketika seseorang yang bukan mahram dan belum pernah bertemu dengannya maka sama saja dengan jihad dan mendapatkan pahala. Dan mencintai, Rasa cinta bukanlah dosa. Yang dosa adalah jika melakukan kemaksiatan di balik cinta itu."


"Bagaimana kalau Faza..."


"Assalamualaikum Pak Kiai."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Ucapan Faza terhenti saat seseorang santri tiba-tiba datang.


"Ya," saut Pak Kiai.


"Ada Habib Umar dan keluarganya."


"Masya Allah, Benarkah, Dimana Mereka?"


"Mereka baru sampai di pelataran pesantren, Saya kesini agar Pak Kiai bersiap menyambutnya."


"Ya baiklah, Saya akan ke sana."


Faza merasa sedih karena niatnya memberitahu Abi tentang kebimbangan hatinya gagal Ia ungkapkan.


"Faza, Panggil Ummi suruh dampingi Abi sambut Habib Umar."


Faza mengangguk dan masuk memanggil Umminya.


Kemudian Faza membaringkan tubuhnya di ranjang.


Hatinya benar-benar merasa resah memikirkan keberadaan Zayn yang seharian ini tidak Ia lihat.

__ADS_1


"Astaghfirullahhaladzim, Baru sehari Aku tidak melihatnya, Tapi perasaan ku seperti ini, Bagaimana jika Aku benar-benar menikah dengan Ustadz Adnan, Akankah Aku bisa melupakannya dan mencintai Ustadz Adnan?"


Bersambung...


__ADS_2