
Setelah melakukan shalat istikharah, Adnan sudah memantapkan hati untuk menerima tawaran Pak Arsyad untuk menikahi Sakinah. Ia pun mengutarakan niatnya kepada Kedua orang tuanya untuk menyegerakan niat baik tersebut.
Nisa yang sudah begitu menginginkan putranya segera menikah tentu merasa senang dengan keputusan Adnan. Tak terkecuali dengan Rudi yang memang sejak dulu menganggap pernikahan adalah separuh dari ibadah, Sehingga ia tidak keberatan sama sekali dengan keputusan mendadak yang Adnan ambil.
"Jadi Ayah juga setuju?" tanya Adnan memastikan.
"Kenapa tidak, Seseorang yang menikah dianggap telah menyempurnakan ibadahnya. Menikah diibaratkan sebagai separuh ibadah. Ini sesuai dengan hadis yang berbunyi:
"Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian sisanya." (HR. Thabrani dan Hakim)
Tujuan menikah dalam Islam yang paling utama adalah menjalankan perintah Allah. Ini juga sesuai dengan ayat Al Qur'an yang berbunyi:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur Ayat 32)
Mendengar apa yang Ayah nya katakan Adnan tersenyum sumringah dan semakin yakin dengan keputusan yang ia ambil.
Setelah perbincangan dengan kedua orang tuanya. Adnan pun menelfon Pak Arsyad untuk memastikan keberadaannya. Pekerjaan Pak Arsyad yang selalu ke luar kota membuat Pak Arsyad jarang sekali di rumah sehingga Adnan harus membuat janji terlebih dahulu sebelum membawa kedua orang tuanya untuk mengutarakan niat baiknya.
"Selama tiga hari ini Aku berada di rumah, Jadi datanglah kapan pun kamu mau, Tidak perlu menunggu waktu les privat," ucap Pak Arsyad tanpa bertanya maksud mengapa Adnan menanyakan hal tersebut.
"Baiklah, Kalau begitu nanti malam saja biar suasananya lebih santai," ucap Adnan.
__ADS_1
"Baiklah, Kami tunggu."
"Terimakasih, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah sambungan telepon berakhir. Adnan mendekati Ayah dan ibunya untuk menanyakan apa saja yang perlu ia siapkan untuk melamar Sakinah.
"Aku sudah membuat janji dengan Pak Arsyad jika kita akan datang malam ini, Apa saja yang perlu ku siapkan dalam waktu beberapa jam ini?" tanya Adnan dengan sedikit malu-malu.
Nisa tersenyum tenang mendengar pertanyaan dan mimik wajah putranya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua, Serahkan semua pada ibu, Ibu akan mengurus semuanya dan akan selesai sebelum malam tiba. Kamu hanya cukup bersiap untuk menikah."
Mendengar hal itu Adnan mengangguk dan merasa tenang.
Malam Hari š
Adnan dan kedua orang tua serta beberapa tetangga terdekat sampai ke rumah Sakinah dengan membawa beberapa hantaran seperti Al-Qur'an dan seperangkat alat salat, Set perhiasan. Setelan pakaian,
Makeup, Tas, Alas kaki dan beberapa makanan tradisional dan maupun makanan modern.
Sakinah yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah bukan hanya sekali, Langsung berlari ke balkon untuk melihat siapa yang datang. Ia yang memang tidak tau sama sekali tentang lamaran ini mengernyitkan keningnya saat melihat semua orang turun dari mobil dengan membawa bingkisan di tangan masing-masing tanpa sempat melihat Adnan yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam.
__ADS_1
"Apa Papah akan menjodohkan ku?" batin Sakinah yang langsung berlari turun memastikan dugaannya tersebut. Namun baru sampai tangga, Langkah kakikinya terhenti saat melihat Adnan juga berada di tengah-tengah rombongan.
Sakinah yang belum mengenakan jilbab nya langsung berniat kembali keatas. Namun kehadirannya telah di sadari oleh Adnan dan rombongan hingga membuat Sakinah menjadi gugup dan salah tingkah saat semua mata tertuju padanya.
"E... M-maafkan Aku," ucap Sakinah menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal itu.
"Sakinah kenapa tidak memakai jilbab mu," bisik Pak Arsyad mendekati putrinya.
"Aku tidak tau jika ada Ustadz Adnan, Aku pikir Papah membawa rombongan lain untuk menjodohkan ku dengan teman Papah seperti yang sudah-sudah."
"Kamu membuat malu saja, Bagaimana jika Ustadz Adnan dan kedua orang tuanya merubah niatnya setelah melihat mu seperti ini?"
"Apa! Jadi Ustadz Adnan akan melamar ku?" tanya Sakinah kegirangan.
"Hsssttt! Diamlah, Jangan buat malu Papah, Sekarang cepat ganti pakaian mu dan pakai jilbab mu, Lagian dari tadi Papah suruh ganti pakaian gak mau nurut!"
"Lah Papah gak bilang kalau Saki mau di lamar Ustadz ganteng, Kalau bilang kan Saki langsung gercep." Sakinah menaik turunkan kedua alisnya menggoda Papahnya.
Pak Arsyad hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan konyol putrinya.
Sementara Adnan dan rombongan hanya memandang Ayah dan anak itu tanpa tau apa yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
Bersambung..