Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Naleni


__ADS_3

Setelah pulang dari Yogyakarta dan di lanjutkan ke Jakarta, Kini Zayn kembali ke pondok pesantren.


Zayn yang di temani Papa Faraz, Berniat menemui Pak Kiai untuk mengatakan keseriusannya untuk menghalalkan Ning Faza menjadi istrinya. Namun Mereka begitu terkejut melihat ramai orang berada di ruang tamu. Dan yang lebih membuat Zayn terkejut, Ustad Adnan berada di tengah-tengah Wanita dan Pria paruh baya yang mengapitnya. Serta berbagai macam parsel terletak di meja.


"Apakah ini lamaran?" batin Zayn.


"Zayn sepertinya Pak Kiai sedang ada acara," bisik Faraz.


"Ini seperti bukan acara biasa tapi lamaran," saut Zayn.


"Benarkah, Jadi kita terlambat?"


"Tentu tidak, Ning Faza masih di Jogja Mereka hanya bertemu Abi dan Ummi, Mereka tidak bisa menerima lamaran ini begitu saja tanpa bertanya pada Ning Faza."


Faraz dan Zayn terus berbisik-bisik di depan pintu hingga Bu Nyai menyadari kedatangan Mereka.


"Eh Pak Faraz," ucap Bu Nyai yang langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Assalamualaikum, Maaf kalau menganggu," ucap Faraz.


"Wa'alaikumsalam, Tidak papa, Masuklah biar sekalian ngormatin." ucap Bu Nyai yang memang logat bicaranya masih kental dengan bahasa kebumen.


Faraz bersalaman dengan Rudi dan Adnan, Serta beberapa orang yang mendampingi Mereka, Begitu pun dengan Zayn yang menjabat tangan Ustadz Adnan dengan tatapan tajam penuh arti.


"Baiklah silahkan duduk." suara Pak Kiai mengagetkan kedua pemuda yang tengah memperebutkan satu gadis yang sama.

__ADS_1


Zayn duduk di depan Ustad Adnan dan terus menatapnya dengan tajam.


Sedangkan Rudi dan Nisa sedang membicarakan niat kedatangan Mereka yang tidak lain ingin mengikat Ning Faza untuk menjadi menantunya yang tidak lama lagi akan menyelesaikan kuliahnya.


"Begini Pak Kiai, Karena Ning Faza sebentar lagi menyelesaikan kuliahnya, Kami sebagai pihak laki-laki ingin menunjukkan keseriusan kami dengan istilah "Naleni" biar tidak ada yang masuk untuk melamar Ning Faza." ucap Rudi yang bicara sesuai keinginan putranya.


"Sesuai keinginan Saya, Saya juga menginginkan Suatu saat bisa menjadikan Adnan menantu sejak Faza duduk di bangku SMA dan akhirnya hari ini tiba juga." ucap Pak Kiai yang terlihat begitu bahagia.


"Lalu bagaimana dengan keinginan Ning Faza?" saut Zayn yang membuat semua orang tercengang menatapnya.


"Zayn apa yang kamu katakan." bisik Faraz.


"Apa maksudmu Zayn, Faza bukanlah Anak yang neko-neko, Dia sangat berbakti kepada orang tua dan aturan agamanya, Dia tidak akan menolak apa yang sudah kami tentukan." tegas Pak Kiai.


"Pada dasarnya, Di jodohkan atau perjodohan dalam Islam itu tidak ada larangan dalam syariat islam. Bahkan ada dalam salah satu riwayat yang disebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah menjodohkan anak perempuannya, Hafshah radhiyallahu 'anha yang ketika itu baru saja menjadi janda kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka dalam hal ini, Apabila orangtua ingin menjodohkan atau memilihkan jodoh untuk anaknya dan kemudian anak menerima dan merasa cocok tentu ini adalah hal yang sangat baik." Zayn menjeda ucapanya.


Sebagaimana hadist yang telah disampaikan  oleh Abdullah bin Abbas RA berkata, Rasulullah bersabda:  


"Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya dan perempuan yang masih perawan diminta izin dari dirinya dan izinnya ialah diamnya." (HR Tirmidzi, Ahmad, Muslim) bukankah ini yang Pak Kiai ajarkan kepada Saya?"


"Ya itu benar, Tapi saya rasa Faza tidak keberatan dengan perjodohan ini."


"Pak Kiai harus bertanya terlebih dahulu padanya sebelum mengambil keputusan."


Pak Kiai terdiam mendengar ucapan Zayn.

__ADS_1


"Zayn, Kamu sudah terlalu ikut campur diamlah." bisik Faraz.


"Pak Kiai, Maafkan Anak saya karena sudah terlalu ikut campur, Kalau begitu biar kami keluar saja dan silahkan di lanjutkan acaranya, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab semua orang.


Faraz menarik Zayn keluar bersamnya.


Semua orang melihat Zayn keluar hingga menghilang di balik pintu.


"Siapa Dia kenapa berani bicara seperti itu pada Pak Kiai?" tanya Nisa.


"Mohon ketidak nyamannya Bu Nisa, Dia memang santri yang terkenal paling terrr segalanya di sini." saut Bu Nyai.


"Baiklah, Kalau begitu bagaimana keputusan pak Kiai?" tanya Rudi.


"Yang di katakan Zayn ada benarnya, Biar saya tanyakan pada Faza terlebih dahulu, Saya akan menelfon Faza terlebih dahulu." Pak Kiai beranjak duduk dan pergi ke dalam.


Pak Kiai menghubungi sang putri untuk menanyakan pendapatnya.


Faza yang menganggap setiap perkataan Abinya adalah perintah.


Tanpa berfikir lagi Faza menerimanya.


"Apapun yang menurut Abi baik, Maka Faza akan menerimanya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2