
Ning Faza sampai di depan pintu, Ia terdiam melihat Ustadz Adnan dan keluarganya berada di rumahnya.
Jangankan mengatakan membatalkan pernikahan, Mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Ustadz Andan saja Dia tidak bisa.
"Nah itu Ning Faza." ucap Nisa yang melihat Ning Faza hanya berdiam diri di pintu.
"Ngapain di situ Nak, Masuk sini beri salam sama calon mertua," ucap Ummi yang di iringi tawa dari semuanya.
Ning Faza menganggukkan kepalanya dan melangkah mendekati Mereka. Kemudian Ning Faza menyalami tangan mereka satu persatu dengan penuh rasa hormat.
"Ning Faza dari mana?" tanya Nisa.
"Dari mini market Bu."
Kedua keluarga kembali berbincang membicarakan tentang pernikahan Anak-anak mereka yang akan di selenggarakan kurang dari satu bulan sesuai kesepakatan dari ke-dua belah pihak.
Namun bukannya bahagia, Ning Faza malah semakin merasa resah dengan perasaannya.
Ustadz Andan yang duduk di depannya memperhatikan calon istrinya yang tidak berhenti meremad-remad Jari-jemarinya dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
Ustadz Andan menghelai nafas dan beranjak dari duduknya.
"Permisi Pak Kiai, Boleh saya berbicara dengan Ning Faza?"
"Ya silahkan, Faza..." Pak Kiai memberi isyarat pada Faza untuk menemani Ustadz Adnan.
Faza menganggukkan kepalanya dan mengikuti Ustadz Adnan yang membawanya ke teras. Tidak kurang dari satu meter Mereka berdiri sejajar dengan tatapan masing-masing menghadap lurus ke depan.
"Terdapat dua jenis penyakit dalam diri seorang manusia. Pertama adalah penyakit hati dan kedua adalah penyakit badan. Keduanya disebutkan dalam Al-Qur’an. Adapun penyakit hati, Terbagi lagi dua jenis, yaitu (1) penyakit syubhat (pemahaman dan pemikiran yang menyimpang) dan keragu-raguan, (2) penyakit syahwat (keinginan-keinginan yang terlarang) Apakah Dek Faza tengah mengalami salah satu penyakit tersebut?"
"Faza tidak sepandai dan se ta'at Ustadz, Semua yang terjadi di luar keinginan Faza, Jika Ustadz keberatan dengan sikap Faza, Ustadz bisa membatalkan pernikahan ini sebelum persiapan di mulai, Assalamualaikum." Ning Faza langsung pergi meninggalkan Ustadz Adnan.
•••
Di kamarnya Zayn tengah merenungi apa yang sudah Ia lakukan pada Ning Faza. Andai saja Ia tidak memikirkan kehormatan Ning Faza yang tidak ingin di sentuh oleh mahramnya, Pasti Ia akan memeluknya dengan erat untuk sedikit mengurangi beban di hatinya.
"Apa Aku harus melakukan rencana berikutnya? Sepertinya kalau hanya diam menunggu Ning Faza, Dia tidak akan melakukan apapun." batin Zayn.
Di rumah dinasnya Ustadz Andan juga tengah termenung memikirkan sikap Ning Faza yang semakin terlihat jika Ning Faza tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Namun perasaan cintanya pada Ning Faza tidak mengizinkan untuk melepaskannya begitu saja.
__ADS_1
"Ya Allah, Berdosa kah Aku menginginkannya sebagai istri ku." batin Ustadz Andan yang tak bisa menguasai perasaannya.
Di sepertiga malam Ning Faza melaksanakan shalat tahajud dan di lanjutkan dengan shalat istikharah dua reka'at sesuai anjuran Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Jabir Ibn Abdillah ra bersabda:
"Jika diantara kalian hendak melakukan perkara/urusan, Maka rukuklah (shalatlah) dua rakaat dari selain fardhu.
Kemudian berdoa : 'Ya Allah, Sesungguhnya Aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalan) dengan kekuasaan-Mu. Aku mohon kepadamu sesuatu dari anugerahMu yang maha agung." (HR. Bukhari)
Sambil sedikit menengadahkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya untuk meminta kemantapan hati, Ning Faza melanjutkan Do'a dengan mengungkapkan keresahan hatinya kepada Allah SWT.
"Ya Allah Engkau mengetahui segala urusan ku, Dengan itu Aku meminta kemantapan hati untuk menentukan pilihanku."
Jika Zayn baik untukku, Untuk agamaku, Kehidupanku, Serta baik di dunia atau di akhirat, Maka takdirkanlah Zayn untukku, Serta mudahkanlah bagiku dan berilah berkah kepadaku.
Sebaliknya jikalau Zayn buruk untukku, Maka jauhkanlah Aku daripadanya, Serta takdirkanlah Ustadz Adnan untukku dan condongkan lah hatiku dengannya."
Malam yang sepi penuh dengan ketenangan, Membuat Ning Faza lebih khusyuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bersambung...
__ADS_1