
Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Zayn membersihkan diri dan beritikaf di masjid.
Meskipun Ustadz Saifullah sudah membujuk Zayn dan akan menemaninya ke pesantren. Namun Zayn menolak dan memilih menghabiskan malamnya di masjid dan membaca Do'a patah hati sesuai apa yang ia pelajari selama di pesantren.
"Allahuma ajurni fi mushibati wa akhlifli khaira minha."
Artinya : Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.”
Hingga magrib berganti Isyak, Zayn tidak juga meninggalkan masjid.
Bahkan hingga sepertiga malam saat Ustadz Saifullah ke masjid, Zayn masih duduk di atas sajadahnya dengan khusuk. Hal ini membuat Ustadz Saifullah merasa kasian sekaligus kagum dengan apa yang dilakukan Zayn.
"Banyak orang yang patah hati meninggalkan Allah, Tapi kamu malah menghadapnya tanpa mau meninggalkan NYA," ucap Ustadz Saifullah mengagetkan kekhusyuk'an Zayn.
"Sesungguhnya Aku berlindung kepada Allah dari hal yang menyedihkan dan menyusahkan, Sifat lemah dan malas, Bakhil dan penakut."
"Orang tua mu akan bangga padamu Zayn."
Zayn terseyum tipis dan kembali melanjutkan Zikir sesuai Firman Allah SWT dalam Al-Quran : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah.
Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” [Ar-Ra’du:28]
•••
Keesokan harinya.
Zayn yang bersiap melakukan aktivitas seperti biasanya di hentikan oleh Ustadz Saifullah yang merasa apa yang Zayn lakukan selama lebih dari satu bulan ini sudah cukup.
__ADS_1
"Kamu sudah tidak perlu capek-capek disini Zayn, Jika kamu ingin meninggalkan tempat ini dan kembali ke Jakarta, Pak Kiai sudah tidak bisa lagi melarang mu."
"Tidak Tadz, Pak Kiai sendiri yang menyuruh ku kemari, Jika Aku harus meninggalkan tempat ini maka Pak Kiai juga yang harus memintanya langsung padaku."
"Tapi bagaimana jika Pak Kiai tidak peduli lagi pada mu? Zayn, Untuk apa lagi kamu disini, Kamu sudah tidak memiliki harapan apapun disini, Yang kamu harapkan sudah menikah dengan orang lain."
"Masih ada Allah yang bisa ku harapkan."
Ustadz Saifullah terenyuh melihat keikhlasan Zayn yang tidak lagi mengharapkan apapun kecuali ridho Allah SWT.
•••
Seminggu Berlalu Zayn masih melakukan aktivitasnya seperti biasanya tanpa lagi mengharapkan apapun yang ada di dunia ini. Dengan senang hati Zayn melakukan pekerjaannya karena merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hingga pekerjaannya terhenti saat suara yang tidak asing di telinganya memanggil namanya.
"Zayn..."
Suara berat penuh ciri khas membuat Zayn yang tengah bercocok tanam berbagai macam sayuran berdiri menatap ke arah suara.
"Pak Kiai..." ucap Zayn yang langsung berlari ke arah Pak Kiai dan mengelap tangannya sebelum menjabat tangan Pak Kiai dan menciumnya penuh hormat.
"Bagaimana kabar mu Zayn?"
"Seperti yang Pak Kiai lihat,"
"Kamu tidak marah pada ku?" selidik Pak Kiai.
"Marah untuk apa Pak Kiai, Sebelum Pak Kiai mengirim ku kemari, Pak Kiai juga sudah bilang agar Aku tidak berharap pada Ning Faza karena Pak Kiai bisa sewaktu-waktu menikahkan mereka." Zayn menundukkan kepalanya menahan rasa perih di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku sadar, Aku bukanlah apa-apa di bandingkan Ustadz Adnan, Apalagi Aku datang ketika hubungan mereka telah terencana. Jadi sangat adil jika pada akhirnya Ning Faza menikah dengan Ustadz Adnan." lanjut Zayn.
"Lalu apa menurutmu itu adil untuk mu?"
"Seperti Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah : 216, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, Sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Begitupun dengan ku yang tidak mengetahui rencana baik apa yang tengah Allah siapkan untuk ku."
"Dan inilah rencana Allah yang menanti mu."
Zayn mengangkat kepalanya melihat ke arah yang Pak Kiai tunjuk.
Seketika senyum di bibirnya mengembang melihat gadis pujaannya muncul di depannya.
"Ning Faza?" tanya Zayn bingung.
Dengan senyum malu-malu, Faza menatap Zayn sekilas kemudian menundukkan kepalanya.
"Pak Kiai?" Zayn masih menunggu jawaban dari Pak Kiai yang hanya tersenyum menatapnya.
"Seperti kamu yang berhasil menjalani kehidupan mu di sini dengan ikhlas, Maka dengan ikhlas, Aku serarahkan putri ku kepada mu."
"Hah! Maksud Pak Kiai?" tanya Zayn yang masih bingung.
"Pak Kiai sudah merestui hubungan kalian Zayn, Pernikahan Ning Faza dan Ustadz Adnan hanya sebatas ujian untuk mu," saut Ustadz Saifullah.
"Hah!" Zayn seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengan.
__ADS_1
Hampir saja ia meraih tubuh Faza dan memeluknya. Namun Pak Kiai segera menghalanginya dan membuat Zayn malu sambil enggaruk-garuk kepalanya.
Bersambung...