Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Persaingan Sengit


__ADS_3

Pak Kiai dan Bu Nyai langsung ke dalam untuk istirahat.


Sedangkan Ustadz Andan duduk bersama Ning Faza dengan di temani Mbak Anna sesuai perintah Abi di setiap kali Mereka bersama.


"Bagaimana kabar Ning Faza?" tanya Ustadz Adnan untuk membuka pembicaraan seperti biasanya.


"Baik, Bagaimana dengan Ustadz?"


"Saya juga baik."


"Bagaimana kemarin skripsinya?"


"Alhamdulillah, Semua di lancarkan."


Ustadz Adnan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kemudian Mereka kembali terdiam.


Ustadz Andan bingung ingin bicara apa lagi, Sedangkan Ning Faza malah terus memikirkan Zayn.


"Jangan jadikan Ustadz Adnan seperti Nun Mati diantara Idghom Bilaghunnah, Terlihat tapi di anggap tidak ada." ucapan itu membuat Ning Faza, Ustadz Adnan dan Mbak Anna menoleh ke pintu.


Dengan penuh pesona Zayn duduk di antara Mereka.


Zayn yang memiliki kulit putih bersih dengan bola mata berwarna hazel serta bulu-bulu halus di wajah dan anggota tubuh lainnya, Membuat dirinya berbeda dari santri yang lain.



Ning Faza yang duduk tepat di depannya menjadi gugup dan mengalihkan pandangannya kesana kemari.


"Apa yang coba ingin kamu katakan Zayn?" tanya Ustadz Adnan.

__ADS_1


"Mohon maaf Pak Ustadz, Kelihatannya Ning Faza merasa bosan dengan obrolan Anda yang hanya sekedar bertanya bagaimana kabarnya, Bagaimana skripsinya apalagi hanya duduk diam.


Apakah Ustadz tidak memperhatikan Ning Faza, Meskipun Ning Faza berada di dekat Ustadz tapi hati dan pikirannya berada di tempat lain?"


Seketika Ning Faza merasa berdebar sekaligus tidak enak hati kepada Ustadz Adnan atas ucapan Zayn.


Ustadz Adnan menoleh ke arah Ning Faza dan memperhatikan setiap gerak-geriknya.


"Bukan begitu Ning Faza?" tanya Zayn terseyum penuh percaya diri.


"Hah!" Ning Faza begitu terkejut mendengar namanya keluar dari bibir Zayn.


Zayn menaik turunkan kedua alisnya, Ia tau betul bagaimana menguasai hati para gadis yang Ia sukai.


Ning Faza seakan ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya tidak bisa terbuka.


"Zayn jaga sikap mu dan jaga pandangan mu!" tegas Ustadz Adnan.


"Selamat untuk kelulusannya Ning Faza."


"Terimakasih." lirih Ning Faza yang terus menundukkan pandangannya.


"Pikirkan kembali keputusan mu Ning, Dan satu hal yang harus Ning Faza ingat, Meski perhatianku tidak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti aliflam Qomariah, Terbaca dengan jelas." ucap Zayn sembari melirik Ustadz Adnan dan berlalu pergi.


Mendengar hal itu membuat hati Ning Faza bergetar.


Ning Faza seakan tidak bisa lagi menepis perasaannya pada Zayn,


Hatinya selalu berbunga dan bahagia setiap kali mendengar Zayn bicara, Ini sangat berbanding terbalik saat Ia berdekatan dengan Ustadz Adnan yang cenderung membuatnya bosan.


"Apa Dek Faza tertarik dengan Zayn?"

__ADS_1


"Hah!" Ning Faza tersentak mendapat pertanyaan dari Ustadz Adnan.


"Nabi Yusuf dalam firman Allah berkata:


وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ


Dan Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Yusuf [12]: 53)


Seperti Nabi Yusuf yang mengakui bahwa dalam ketertarikannya dengan Siti Zulaikha ada nafsu jahat yang mendorongnya melakukan kemaksiatan. Apa lagi kita yang hanya manusia biasa.


Ning Faza terdiam mencoba memahami apa yang Ustadz Andan sampaikan.


"KH.Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa mencintai adalah perbuatan hati yang tak dapat dihukumi, Tapi bila Ia diaplikasikan dalam sebuah perbuatan, Maka jatuhlah konsekuensi hukum halal haramnya.


Rasulullah ﷺ bersabda:


وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ


“Sementara lisan, Zinanya adalah dengan perkataan.” (HR. Muslim no. 2658)


"Jangan tertarik kepadanya karena perkataanya, Karena jika rasa cinta yang datangnya dari Allah tapi pada saat yang sama menjauhkan diri kita dari Allah. Maka, Apakah cara mencintainya yang salah atau rasa cinta itu yang salah?"


Ning Faza terhenyak mendengar ucapan Ustadz Adnan.


"Jangan sampai terlena dengan godaan syaitan yang menyesatkan, Assalamualaikum." Ustadz Andan beranjak bangun dan meninggalkan rumah Pak Kiai.


"Wa'alaikumsalam." lirih Ning Faza.


"Ning Faza, Ini persaingan yang sangat sengit," ucap Mbak Anna yang sejak tadi mengamati setiap perkataan Zayn dan Ustadz Andan.


Ning Faza menarik nafas dalam-dalam, Hatinya semakin bimbang memutuskan siapakah yang harus Ia jadikan pendamping dalam hidupnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2