Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Cemburu


__ADS_3

Zayn menoleh ke belakang dan melihat Carissa yang memegang tangannya. Kemudian Zayn kembali melihat Faza dengan rasa khawatir jika Faza akan berfikir yang tidak-tidak akan hubungannya dengan Carissa.


Seperti yang di fikirkan Zayn, Faza begitu merasa sakit hati melihat tangan Carissa yang masih bergelayut di lengan Zayn. Tanpa mau melihat lebih lama lagi, Faza langsung berlari meninggalkan Mereka.


"Ning Faza..." Mbak Anna berlari mengejar Faza, Lalu di ikuti oleh Ustadz Adnan sambil memandang Zayn dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Ning Faza!" Zayn mencoba berlari. Namun Carissa kembali menariknya.


"Carissa! Lepaskan Aku, Kenapa Kamu masih saja menggangguku!"


"Aku sudah mengatakannya, Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja!"


"Carissa jangan membuatku marah, Atau Kau tidak akan pernah bisa kembali ke Jakarta!" dengan kasar Zayn mendorong tubuh Carissa menjauh darinya.


Tidak jadi memburu pernak-pernik khas kampung Arab, Faza langsung masuk kedalam Bus. Faza benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya melihat Wanita lain di dekat Zayn.


"Apakah ini artinya Ning Faza benar-bebar mencintai Zayn?" tanya Mbak Anna yang melihat perubahan Ning Faza. Namun belum sempat Faza menjawab, Ustadz Adnan menyela pembicaraan mereka.


"Boleh jadi kamu membeci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal Ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, Sedang kamu tidak mengetahui."(QS Al-Baqarah:216)


"Apa yang coba Ustadz katakan?" tanya Mbak Anna.


"Mbak Anna, Boleh Aku bicara dengan Dek Faza?"


"Baiklah."


Ustadz Andan duduk di bangku sebelah menghadap Ning Faza yang masih tertunduk sedih


"Terkadang apa yang membuat kita tidak bahagia, Itu yang terbaik untuk kita menurut Allah, Begitu juga sebaliknya, Apa yang membuat kita bahagia belum tentu baik menurut Allah, Jangan lemah dan jangan mudah tertipu perasaan yang menyesatkan."

__ADS_1


Ning Faza mengangkat wajahnya menatap Ustadz Andan mencoba memahami kata-katanya dan perasaan yang Ia rasakan pada calon suaminya tersebut.


Ustadz Andan mengukir senyum tipisnya dan berusaha menyembunyikan rasa sakitnya melihat calon istrinya cemburu terhadap pria lain.


"Maafkan Faza Tadz, Tidak seharusnya Faza bersikap seperti ini."


"Tidak papa, Jika Dek Faza merasa sedih, Berzikir kepada Allah kemudian bersalawatlah, Maka kesedihan Insya Allah akan hilang. Selain itu, Salawat juga bisa memudahkan segala urusan dan dapat menenangkan hati."


Zia menganggukkan kepalanya.


Bersama Ustadz Adnan, Memang bisa membuatnya tentang, Tapi bersama Zayn selalu membuatnya senang.


Zayn yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka di samping pintu Bus, Merasa kesempatan untuk mendapatkan Ning Faza semakin sulit, Padahal sebelum kedatangan Carissa, Ning Faza telah menunjukkan tanda-tandanya jika Ia memiliki perasaan yang sama dengannya, Tapi melihat Ning Faza yang kini tersenyum dengan Ustadz Adnan, Membuat Zayn tidak yakin jika Ning Faza akan membalas cintanya apalagi mengatakan yang sebenarnya pada Abinya.


"Zayn, Kok gak naik?" tanya Pak Kiai yang baru datang.


"Ya Pak Kiai, Ini baru mau naik,"


Di susul dengan Pak Kiai dan Bu Nyai serta rombongan lainnya.


Setelah rombongan berkumpul, Bus meninggalkan Surabaya.


Melihat wajah murung Ning Faza, Zayn kembali menuliskan pesan di selembar kertas lalu menyodorkannya melalui celah kursi. Namun tidak seperti sebelumnya, Kali ini Ning Faza mengabaikannya dan tidak mau mengambil kertas tersebut.


Merasa terabaikan Zayn berdiri dan mencondongkan tubuhnya untuk memberikannya kedepan wajah Ning Faza, Hal itu menarik perhatian Ustadz yang duduk di samping Zayn, Tak terkecuali Pak Kiai yang berada di bangku sebelah.


"Zayn!"


Mendengar suara Abinya, Faza langsung mengambil kertas di tangan Zayn dan menyembunyikannya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


Zayn merasa gugup menatap Pak Kiai.


Begitupun dengan Ustadz Andan yang penasaran dengan apa yang Zayn lakukan sehingga membuat Pak Kiai berteriak.


"Ya Pak Kiai,"


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"A-e.. Mohon maaf Pak Kiai, Saya sedang melihat-lihat jalan, Kira-kira ada Masjid atau pom bensin tidak, Soalnya saya kebelet, hehehehe."


"Ya ampun Zayn, Saya pikir..." Pak Kiai tidak melanjutkan ucapannya.


dan menyuruh Supir berhenti jika ada toilet umum. Namun berbeda dengan Ustadz Adnan yang tidak mempercayainya begitu saja, Ustadz Adnan merasa bukanlah itu alasan Zayn yang sebenarnya.


Zayn bernafas lega dan kembali duduk di bangkunya.


Sementara Faza yang melihat suasana telah aman membuka apa yang coba Zayn katakan padanya.


“Setengah dari cinta ialah percaya, Selebihnya curiga. Setengah dari rindu adalah ragu, Selebihnya cemburu, Jika Ning Faza tengah merasakan itu berarti Ning Faza benar-benar mencintaiku." Faza menarik nafas panjang membaca apa yang Zayn katakan.


Kemudian Faza kembali membaca baris berikutnya.


"Jujur Aku sudah tak tahu lagi tentang bagaimana caranya menghitung jumlah debar jantung ketika berhadapan denganmu, Andai kamu dapat mendengarnya, Tentu kamu tidak akan pernah meragukan cintaku meskipun seribu wanita menghampiriku."


Ning Faza memejamkan mata memahami perasaanya.


Zayn yang selalu membuatnya berdebar-debar bahagia atau Ustadz Adnan yang selalu menyejukkan hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


📌 mohon pengertiannya untuk BAB berikutnya, Karena Author tidak selamanya Sehat dan bisa berfikir encer 🙏


__ADS_2