
"Kalau begitu kenapa tidak Nak Adnan saja yang mengajar putriku, Secara Nak Adnan yang sudah berpengalaman membimbing para santri bermasalah?"
Mendengar hal itu Adnan tersentak mengalihkan pandangannya.
"Itu tidak mungkin Pak...?"
"Arsyad Sanusi." saut laki-laki berjas hitam itu.
"E... Itu tidak mungkin Pak Arsyad. Saya hanya mengajar santri putri pada saat salah satu Ustadzah tidak datang dan itu sangat tidak nyaman, Apalagi jika Saya harus mengajar secara pribadi itu sangat tidak mungkin."
"Tolonglah Nak Adnan, Selama ini Saya telah memanggil banyak Ustadzah untuk membimbingnya, Tapi mereka menyerah dengan putriku, Mungkin jika Nak Adnan yang mengajarinya dengan tegas putri Saya bisa menurut."
"Tidak harus Saya Pak, Banyak Ustadz lain yang bisa Anda hubungi untuk membimbing putri Anda."
"Saya tidak memiliki kenalan Ustadz lain Nak Adnan, Saya sering kali bekerja di berbagai kota karena itu Saya selalu berpindah-pindah masjid untuk melaksanakan shalat Jum'at dan selama ini tidak ada khutbah satupun yang menggerakkan hati Saya untuk menceritakan masalah Saya kepada siapapun, Tapi entah kenapa saat mendengar khutbah Nak Adnan Saya ingin sekali menceritakan masalah ini kepada Nak Adnan, Sekiranya Nak Adnan sudi, Tolonglah Saya, Barangkali ini jalan untuk membuat Putri Saya kembali ke jalan yang benar."
"Pak Arsyad...."
"Bukankah mengajak seseorang kembali ke jalan Allah SWT salah satu dari jihad?" sambungnya lagi.
Adnan terdiam dan menarik nafas dalam-dalam.
"Nak Adnan?"
"Baiklah, Beri Saya waktu, Saya akan memikirkannya."
"Terimakasih Nak Adnan, Kalau begitu ini kartu nama saya."
Adnan mengangguk dan mengambil kartu nama tersebut.
•••
Pada malam hari saat Adnan keluar dari toko buku, Tiba-tiba segerombolan geng motor dari dua arah berlawanan saling melemparkan batu dan botol kaca hingga membuat susana sekitar terasa mencekam.
__ADS_1
Adnan yang akan masuk ke mobilnya menutupi wajahnya dari lemparan botol yang hampir mengenainya.
Melihat suasana yang semakin tidak kondusif karena kedua kelompok itu turun dari motor dan saling serang Adnan bergegas ingin masuk ke mobilnya. Namun baru saja Adnan membuka pintu, Sebuah botol melayang mengenai pelipisnya.
Adnan memegangi pelipisnya dengan membungkukkan badan menahan rasa sakitnya.
"Pergilah dari sini!"
Adnan mengangkat wajahnya menatap ke arah suara.
Adnan sedikit terkejut melihat gadis di depannya yang tak lain adalah gadis yang hampir menyerempet mobilnya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya gadis itu. Namun belum sempat Adnan menjawab sebuah botol kembali terlempar ke arah mereka.
PRANKKKK...!!!
Adnan dan gadis itu sedikit membungkuk memegangi kepalanya. Kemudian gadis itu memegang tangan Adnan dan memintanya lari bersamanya.
"Lepaskan Aku, Kita bukan muhrim" ucap Adnan di sela-sela pelariannya.
"Masih adakah laki-laki seperti mu di jaman sekarang?"
"Masih banyak, Tapi sepertinya pergaulan mu yang membuat dirimu tidak menemukan laki-laki seperti itu, Lihat lah penampilan mu, Bahkan kamu terlihat seperti preman laki-laki."
Gadis itu hanya menyeringai, Kemudian ia terdiam menatap Adnan, Ntah kenapa saat Adnan bicara hatinya begitu tertarik untuk terus mendengarnya.
Ini kali pertama ia bertemu laki-laki sepertinya, Karena selama ini ia bercampur baur dengan laki-laki yang tidak memiliki batasan dalam bersentuhan. Berpegangan, Peluk, Cium biasa mereka lakukan tanpa adanya ikatan maupun status hubungan. Mereka menganggap teman laki-laki dan perempuan sama sehingga melakukan hal itu hal biasa di mata mereka.
Darah di pelipisnya menetes ke pipinya hingga mengagetkan Adnan dan langsung mengusapnya dengan telapak tangannya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Adnan melangkah meninggalkan gadis itu untuk kembali ke mobilnya. Namun baru saja Adnan memutar tubuhnya para geng motor itu berlarian saling kejar-kejaran ke arahnya.
"Ikutlah denganku ini tidak aman."
__ADS_1
"Apa kamu bagian dari mereka?"
"Akan ku katakan, Tapi sebelum itu selamatkan dulu dirimu." Gadis itu memaksa menarik tangan Adnan yang terus menolak permintaannya.
Mau tidak mau Adnan ikut berlari menghindari kerusuhan.
Setelah berlari cukup jauh mereka bersembunyi di salah satu mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Apa yang kalian lakukan, Kenapa membuat kerusuhan di tempat umum?" tanya Adnan yang terlihat kesal.
"Ini hanya masalah kekuasan wilayah," gadis itu tersenyum santai menanggapi pertanyaan Adnan.
"Lalu apa hebatnya jika kalian menguasai wilayah yang kalian perebutkan?"
Wanita itu kembali terdiam menatap Adnan.
"Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan yang jelas yaitu agar ia menjadi khalifah di bumi ini. Manusia diberi tanggung jawab agar memelihara, Menjaga serta mengelola bumi ini beserta isinya. Artinya demi kelangsungan dan kepentingan kita sebagai manusia, Allah sebagai pemilik tunggal bumi (dan seluruh alam semesta) mengizinkan kita mendayagunakan bumi dan seluruh isinya secara maksimal. Bahkan dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman :
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, Sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik". (QS Al-A'raf: 56)
Setelah mengatakan itu Adnan melangkah pergi meninggalkan wanita itu.
Seolah terusik dengan nasehat yang Adnan berikan padanya, Gadis itu hanya diam menatap punggung Adnan yang semakin jauh melangkah meninggalkannya.
Adnan sampai di depan toko buku dan melihat kaca mobilnya yang pecah berantakan. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengambil ponsel di sakunya. Namun belum sempat Adnan menghubungi seseorang. Gadis itu berhenti di depannya dengan motor gedenya.
"Aku bisa mengantarmu."
"Tidak, Terimakasih." Adnan mencoba menghubungi seseorang tanpa mau melihat gadis itu.
"Terserah kamu saja." gadis itu langsung pergi dan bergabung dengan geng motornya.
Adnan menoleh kearah gadis itu dan mengingat permintaan Pak Arsyad Sanusi yang memintanya untuk mengajar putrinya.
__ADS_1
"Apakah yang di maksud Pak Arsyad, Putrinya bergaul bebas seperti gadis itu?" batin Adnan.
Bersambung..