
Zayn masih duduk tak bergerak mendengar terikan Pak Kiai yang mengusirnya.
Entah kenapa tubuhnya seketika membantu tak ingin meninggalkan penjara suci itu.
"Zayn!" triak Pak Kiai.
"Abiii, Bersabarlah."
Zayn menatap Faza yang menenangkan Pak Kiai yang tengah melotot kepadanya.
"Zayn! Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Ustadz Adnan.
"Ya, Tapi Aku berubah fikiran."
"Apa maksudmu?"
"Pak Kiai tolong berikan Aku kesempatan untuk mengaji di sini?"
"Sejak kapan Kamu ingin mengaji, Bukankah selama di sini Kamu selalu membolos dan membuat onar?"
"Ya, Maka dari itu tolong beri Aku kesempatan untuk memperbaiki diri."
"Jika Kamu ingin memperbaiki diri sudah dari dulu kamu lakukan, Tapi Kamu tidak melakukannya, Sekarang kesempatan mu sudah habis."
"Pak Kiai mohon maafkan Aku, Ampuni Aku, Beri Aku kesempatan untuk menebus dosa-dosa ku dan belajar agama dengan giat, Aku janji tidak akan berbuat onar lagi dan akan membuat Pak Kiai bangga padaku." rengek Zayn yang meminta belas kasihan di kaki Pak Kiai.
"Abiii... Memaafkan merupakan salah satu sifat Rasulullah SAW.
Beliau selalu memaafkan orang yang membenci dan menyakiti perasaannya. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tetap berbuat baik kepada orang lain meskipun orang tersebut membalasnya dengan kejahatan."
__ADS_1
"Faza, Ini peraturan pesantren, Dia sudah seringkali membuat kesalahan dengan sengaja."
"Tapi sepertinya sekarang Dia ingin berubah,"
Zayn menatap Faza yang seakan sedang membelanya.
"Bukankah misi pesantren Kita ingin membina remaja yang jauh dari agama?"
Pak Kiai menatap putrinya yang dirasa semakin bijak dan dewasa.
“Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya, Beliau tidak pernah kasar, Berbuat keji, Berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan,” (HR Ibnu Hibban) ucapan Zayn membuat Pak Kiai, Ustadz Adnan dan Faza tercengang mendengarnya.
"Kamu hafal tentang hadits?" tanya Pak Kiai seakan tak percaya.
"Ya, Meskipun Aku selalu bikin onar dan membolos, Tapi saat Aku masuk kelas, Aku belajar dengan benar."
Pak Kiai terdiam dan memikirkan perkataan Faza.
"Baiklah, Saya Beri kesempatan satu kali lagi, Jika Kamu kembali berbuat onar, Saya tidak akan pernah mentolerir kamu lagi."
"Terimakasih Pak Kiai, Terimakasih, Aku janji akan giat belajar dan tidak membuat onar lagi." Zayn mencium tangan Pak Kiai berkali-kali kemudian berdiri menatap Faza.
Faza terseyum menganggukkan kepalanya.
Senyuman itu seperti panah asmara yang menghujam hatinya yang semakin jatuh cinta padanya.
"Kalau begitu sekarang kembalilah ke asrama," ucap Ustadz Adnan.
Zayn mengangguk dan meninggalkan rumah Pak Kiai dengan sesekali terus menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Abi tinggal dulu, Silahkan ngobrol Abi akan panggilan Mbak Anna untuk menemani kalian."
Faza mengangguk dan masih berdiri berjauhan dengan Ustadz Adnan menunggu Mbak Anna datang.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam." saut Faza dan Adnan bebarengan.
"Silahkan Ning Faza," ucap Mbak Anna yang tidak lain adalah pengurus santriwati.
Faza terseyum menganggukkan kepala.
Kemudian Ustadz Adnan dan Faza sama-sama melangkah dan berhenti saat jarak Mereka sudah sekitar satu meter.
"Bagaimana kabar Dek Faza?"
"Alhamdulillah baik Ustadz Adnan."
"Jadi Ning Faza tinggal menyelesaikan semester terakhir?"
"Alhamdulillah Tadz, Mohon Do'anya biar lancar."
"Pasti."
Perbincangan Mereka hanya sebatas tanya jawab seputar kuliah yang tengah Faza jalani dan kesibukan Ustadz Adnan yang membantu Abi mengelola pesantrennya.
Sedangkan di asrama putri, Bu Nyai baru saja memberi sedikit Tausiyah nya kepada Carissa yang baru menjalani hukumannya.
Carissa yang di anggap masih membuat kesalahan satu kali masih di maafkan dan di beri kesempatan untuk belajar di pesantren tersebut.
__ADS_1
Bersambung...
Baca juga Babang Zayn di "Perjalanan Cinta Sang Duda" 🤗♥️