
Adnan turun dari taksi yang mengantarnya.
Dengan menghelai nafas dalam-dalam Adnan masuk gerbang yang sudah di sambut oleh penjaga keamanan rumahnya.
"Selamat datang Den..."
"Assalamualaikum," saut Adnan terseyum ramah.
"Wa'alaikumsalam, Maaf Den, Silahkan..."
Adnan mengangguk dan berdiri menatap rumah megah yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.
Meskipun ia bisa pulang kapan saja. Namun Adnan hanya pulang beberapa tahun sekali jika kedua orang tuanya terus mendesaknya pulang.
Kini ia sendiri yang memutuskan untuk pulang. Tanpa ada paksakan dari siapapun.
"Adnan!" pekik Nisa yang melihat sang putra telah berdiri di depan pintu.
"Ibu..." Adnan berlari memeluk Ibunya dengan haru.
"Adnan..." sambung Rudi yang juga ikut keluar.
"Ayah."
Rudi yang telah mengetahui permasalahan putranya mengusap punggung Adnan untuk menguatkannya. Kemudian menitahnya masuk dan membiarkan putranya istirahat tanpa menyinggung tentang kegagalan pernikahannya.
•••
Zayn mengemasi barang-barangnya sesuai permintaan Pak Kiai yang memintanya kembali ke pesantren, Kali ini Pak kiai memintanya kembali bukan sebagai santrinya melainkan sebagai calon mertuanya.
Zayn terus mengukir senyum bahagianya kemudian mendekati Ustadz Saifullah yang sedari tadi berdiri menunggunya.
"Terimakasih banyak Tadz, Terimakasih sudah membantu ku selama Aku disini."
__ADS_1
"Sama-sama Zayn, Maaf jika Aku membohongi mu tentang pernikahan Ning Faza."
"Tidak masalah Tadz, Jika tidak begitu Aku jadi tidak belajar tentang ilmu ikhlas."
"Ya, Kamu pantas mendapatkan cinta mu, Selamat Zayn."
"Jangan lupa datang ke pernikahan ku." saut Zayn.
"Pasti."
Zayn terseyum dan meninggalkan rumah Ustadz Saifullah.
Kemudian Zayn masuk ke mobil dimana Faza dan Pak Kiai sudah menunggunya.
Zayn duduk di depan samping Supir, Sementara Pak Kiai dan Faza di kursi belakang dengan posisi Faza tepat di belakang kursi Zayn.
Meskipun ada perasaan canggung pada Pak Kiai yang kini akan menjadi Ayah mertuanya, Zayn berusaha mencairkan suasana dengan menanyakan rencana kedepannya.
"Mohon maaf Pak Kiai, Setelah dari sini apa Saya harus pulang ke Jakarta untuk memberi tahu orang tua Saya atau ada hal lain lagi yang harus Saya kerjakan di pondok?"
"Baik Pak Kiai." Zayn melirik Faza dari kaca spion dalam mobil hingga jantungnya begitu berdebar saat Faza tiba-tiba menggenggam pundaknya saat Mobil tiba-tiba berhenti mendadak.
"Astaghfirullahhaladzim," ucap Pak Kiai yang kepalanya juga terbentur kursi Supir.
"Ning Faza tidak apa-apa?" tanya Zayn menoleh ke belakang.
"T-tidak." Faza menarik tangannya dan menggengam erat gamis panjangnya.
"Pak Kiai?"
"Tidak papa."
"Maaf Pak Kiai tadi tiba-tiba ada motor yang mendahului."
__ADS_1
"Baiklah, Lebih hati-hati lagi," saut Pak Kiai.
Zayn kembali mencuri pandang terhadap Faza, Meskipun sudah banyak wanita yang menyentuhnya lebih dari itu. Namun perasaan berbeda begitu ia rasakan saat Faza yang menyentuhnya.
•••
Setelah menuruni bukit yang cukup curam selama kurang lebih 2 jam, Mereka tiba di pesantren pada malam hari.
Pak Kiai menyuruh Zayn tidur di rumah dinas Ustadz Adnan karena rumah itu kini telah kosong. Namun Zayn menolaknya dengan penuh sopan santun dan mengatakan ingin tidur di asrama bersama teman-temannya yang sudah lama ia tinggalkan.
Tanpa mempermasalahkan lagi, Pak Kiai mengizinkan Zayn untuk tidur di asramanya.
Zayn memasuki kawasan asrama, Ia kembali mengingat saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, Betapa marahnya Ia saat itu. Namun seiring berjalannya waktu asrama itu menjadi rumah keduanya setelah hatinya jatuh cinta pada Ning Faza, Hingga pada hari terakhir kalinya ia meninggalkan asrama untuk menjalani hukumannya karena dengan sengaja menyentuh Ning Faza yang di pergoki langsung oleh Pak Kiai, Zayn fikir itu adalah hari terakhirnya ia berada di pesantren, Tapi ternyata Allah memiliki rencana lain yang lebih indah dari apa yang ia pikirkan. Kini ia kembali bukan hanya karena cinta Ning Faza yang telah ia dapatkan, Melainkan restu dari Pak Kiai yang juga telah ia kantongi.
Zayn terseyum memejamkan mata mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga, Meskipun ada hati yang terluka karena cintanya, Tapi begitulah hidup, Bahkan jika Dia yang terluka pun Ia telah ikhlas menjalani, Tapi takdir telah berpihak kepadanya, Zayn tidak bisa melakukan apapun selain mengucap syukur kepada Allah SWT yang Maha membolak-balikkan hati.
"Zayn!" pekik Bimo yang langsung berlari memeluknya.
"Hey!" Zayn menahan tubuh Bimo yang bergelantung di pundaknya.
"Zayn Aku sangat merindukanmu, Lihatlah saat dirimu jauh dariku, Kamu jadi begitu hitam dan kurus."
"Bimo! Kenapa ucapan mu selalu menggelikan telingaku, Aku fikir setelah kepergian ku kamu akan berubah, Tapi tetap saja!" Zayn melangkah meninggalkan Bimo yang terus menguntitnya.
"Zayn! Kamu tidak tau kan bagaimana perasaan ku saat berada jauh darimu, Asrama ini terasa sepi seperti ruang mayat Zayn, Tidak ada yang bisa di ajak kerjasama untuk menjaili santri lain dan itu sangat membosankan Zayn."
"Tutup mulutmu! Sekarang ceritakan bagaimana Ning Faza selama Aku pergi dari sini." Zayn melempar ranselnya dan mulai berbaring di ranjangnya.
"Hem, Faza." Bimo ikut berbaring dengan kedua tangan di jadikan bantalan.
"Pemandangan yang sangat menyayat hati seperti Shahrukh Khan dan Aishwarya Rai di film Devdas."
"Aku tidak pernah melihat film itu, Katakan dengan jelas tanpa mendramatisir cerita!"
__ADS_1
"Begitu Ning Faza melihat mobil yang membawamu, Dia berlari tanpa menghiraukan apapun untuk mengejar mu, Sambil terus bertriak Mas Zayn... Mas Zayn... Dia terus berlari hingga menuju gerbang, Tapi sebelum Dia berhasil keluar gerbang, Sreeetttt.... Pak Kiai langsung menyuruh Satpam menutup gerbang itu, Merosotlah tubuh Ning Faza di balik gerbang yang tertutup itu sambil terus menangis tersedu-sedu, Ini sama persis seperti kisah Parvati yang menangisi Devdas Zayn." Bimo yang terlalu menghayati cerita sampai meneteskan air matanya. Namun Zayn tidak lagi mempedulikannya. Ntah kenapa mendengar Faza menangis seperti yang di ceritakan Bimo bukan membuatnya sedih, Melainkan membuatnya tersenyum senang. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin menggoda gadis pujaannya itu dan membuat pipinya merona karena malu.
Bersambung...