
Dari dalam rumah, Malvin mendengar suara deru motor baru dihidupkan. Ia segera mendekati jendela untuk melihat siapa yang ada di luar. Tanpa melihat wajahnya Malvin melihat seseorang memakai helm dengan jaket hitam bersiap meninggalkan rumahnya.
Dengan segera Malvin berlari keluar. Namun ia terlambat karena sakinah sudah meninggalkan Malvin dengan cepat.
"Ada apa Pah?" tanya Carissa menyusul Malvin keluar.
"Seperti ada yang mengintai rumah kita Sayang."
"Mungkinkah itu orang suruhan Zayn?"
"Entahlah, Tapi siapapun dia, Papah tidak lagi peduli, Kamu benar Sayang, Papah sudah tua tidak ada gunanya terus menyimpan dendam pada Faraz, Sekarang Papah hanya akan fokus menantikan kehadiran bayi kita, Papah tidak ingin kehilangan kalian berdua."
Carissa mengusap air matanya dan memeluk Papah tirinya tersebut.
•••
Sakinah menghentikan motornya di depan gerbang rumah Zayn. Ia segera mengambil benda pipih dari saku celananya dan menghubungi sahabatnya tersebut.
"Zayn Aku sudah di depan rumah mu." ucapnya tanpa basa-basi.
"Benarkah? Kamu sudah mendapatkan buktinya?"
"Jangan banyak tanya Zayn cepatlah keluar sebelum Aku merasa bosan di bawah terik matahari seperti ini."
"Ya baiklah tunggu, Aku akan segera keluar." Zayn melompat dari ranjangnya dan berlari dengan cepat. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera mendapatkan bukti dan menyerahkan pada wanita pujaannya.
"Mana, Kamu mendapatkan buktinya?" tanya Zayn begitu sampai di depan Sakinah.
"Tarik nafas dulu Zayn, Aku tidak ingin kamu tiada dihadapan ku!"
"Dasar! Gadis tidak punya perasaan!" Zayn mentoyor kepala Sakinah dengan kesal.
Sakinah hanya terkekeh melihat Zayn kesal.
"Cepat! Kabar apa yang akan kamu berikan pada ku?"
"Lihat saja ponsel mu, Aku sudah mengirim ke nomer mu."
__ADS_1
"Oh ya ampun Saki, Kamu mempermainkan ku?"
"Tidak, Sebelum kamu sampai sini Aku sudah mengirim semua buktinya kepada mu."
"Tadi Aku di dalam, Kamu memintaku keluar, Sekarang Aku di luar kamu mengirimkannya di nomerku, Kau..."
"Hey! Mantan model Playboy, Jika kamu sudah melihat bukti yang ku bawa, Kamu akan mencium ku untuk mengucapkan terimakasih."
"Ciiihh, Gak sudi sama cowok dengan casing wanita seperti mu." ejek Zayn.
"Sembarangan!" Sakinah langsung menendang perut Zayn dengan kesal. Namun Zayn hanya terkekeh geli dengan apa yang Sakinah lakukan padanya. Karena sejak dulu pertemanan mereka memang selalu di warnai saling ejek dan tak jarang saling serang fisik jika merasa tidak terima dengan ejekan masing-masing.
"Biar begini, Aku masih normal tau."
"Mana buktinya, Nyatanya sampai sekarang kamu masih jomblo kan? Gak ada satupun Pria yang dekat dengan mu, Eummm... Apa jangan-jangan kamu beneran suka sesama jenis."
"Zayn! Aku menyesal karena telah membantu mu!" Sakinah menyalakan motornya dengan kesal dan bersiap meninggalkan rumah Zayn.
"Mau kemana Saki, Kita belum selesai bicara?"
Zayn hanya tertawa melihat kepergian Sakinah dan segera berlari menuju kamarnya. Ia membuka pesan dari Sakinah dan begitu terperanjat melihat video yang Sakinah kirimkan. Ia segera berlari kebawah mencari Papanya untuk menunjukan bukti tersebut.
"Papa... Papa..."
"Ada apa Zayn, Kenapa berteriak?"
Alia dan Zayd yang mendengar teriakan Zayn ikut mendekat melihat apa yang ingin Zayn tunjukkan.
"Lihat ini Pa," Zayn memberikan ponselnya dan seluruh keluarga menyaksikan bukti yang Sakinah kirimkan.
"Oh ya ampun Malvin, Ini menjijikkan sekali, Dia yang menghamili putri angkatnya tapi memfitnah Zayn yang melakukannya." gumam Zayn.
"Sudahlah Pa, Tidak penting siapa yang menghamili Carissa, Yang terpenting sekarang kita sudah mendapatkan buktinya."
"Ya kamu benar."
"Pa, Malam ini juga Zayn ingin langsung ke pesantren, Zayn tidak sabar lagi ingin memperlihatkan bukti ini pada Ning Faza, Zayn sangat merindukannya Pa,"
__ADS_1
"Baiklah, Kita bersiap."
Zayn tersenyum bahagia dan segera berlari ke kamar untuk bersiap.
•••
Sampai rumah Sakinah masih kesal mengingat apa yang Zayn katakan padanya. Sambil melepaskan seluruh kelengkapan bermotor nya, Sakinah terus ngedumel sendiri "Enak saja ngatain Aku Pria dan penyuka sesama jenis, Apakah rambut panjang ku ini tidak cukup untuk membuktikan jika Aku ini adalah wanita." gerutunya.
"Bahkan seorang Pria juga ada yang memelihara rambut panjang dan menyerupai wanita."
Sakinah terkejut mendengar suara Ustadz Adnan yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ustadz, Ustadz sudah datang?"
"Lima belas menit, Sepuluh detik."
"Hehe... Maafkan Saki Tadz, Saki Ada urusan dengan Zayn."
"Zayn?"
"Ya,"
"Apakah di setiap tempat yang ia tinggali harus ada satu wanita yang berada di sisinya?"
Sakinah terhenyak mendengar pertanyaan Ustadz Adnan.
"Kenapa para wanita lebih menyukai Pria dari parasnya, Bukan mendahulukan akhlak nya?"
Sakinah mengernyitkan keningnya. Ia semakin merasa bingung dengan pertanyaan dan mimik wajah Adnan yang ia tunjukkan.
"Taukah kamu Syariat Islam telah memberi tuntunan bagi umatnya dalam memilih pasangan. Salah satunya melalui hadist riwayat al-Bukhari, Disebutkan di dalamnya bahwa kriteria pasangan ideal adalah hartawan, Rupawan, Keturunan mulia, dan kuat agamanya, Maka dari empat kriteria tersebut maka utamakanlah yang kuat agamanya." jelas Adnan dengan nada yang menggebu sehingga membuat Sakinah semakin penasaran ada masalah apa Ustadz Adnan dan Zayn.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ustadz, Zayn dan wanita yang bernama Faza itu?"
Pertanyaan Sakinah membuat Ustadz Adnan seolah baru tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh curiga Sakinah.
Bersambung...
__ADS_1