Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Malam Pertama


__ADS_3

Faza keluar kamar mandi dan merasa gugup karena Zayn masih duduk bersandar menunggunya. Dengan senyum menggoda dan menepuk-nepuk sisi ranjang sebelahnya memberi isyarat pada sang istri agar segera naik ke sisinya.


Dengan langkah menunduk, Faza melangkah dan duduk di sisi kiri Zayn.


"Lihat sini," ucap Zayn yang melihat Faza masih duduk membelakanginya.


Perlahan Faza menaikkan kakinya dan menatap Zayn sekejap dan kembali menundukkan wajahnya.


"Apa Ning Faza akan tidur dengan menggunakan jilbab seperti ini?" tanpa menunggu jawaban darinya, Zayn melepaskan jilbab yang selalu menutup rapat auratnya.


"Sekarang Aku adalah suami mu, Dan tidak berdosa jika kamu membukanya di dapan ku."


Faza menundukkan wajahnya ketika jilbabnya benar-benar lepas dari kepalanya.


Tidak hanya melepas jilbabnya, Kini Zayn meraih ikat rambut yang mengikat rambut Faza kemudian mengurai rambutnya. Zayn menatap lekat wajah sang Istri yang untuk pertama kalinya ia lihat tanpa mengenakan jilbab lebarnya yang selalu menutupi sebagian tubuhnya.


Kemudian Zayn membelai lembut kepala istrinya dan perlahan mendekatkan bibirnya.


Susah payah Faza menelan salivanya dengan jantung yang begitu berdebar saat nafas hangat Zayn mulai terasa menyapu wajahnya.


Hanya tinggal beberapa centi bibir itu menyatu, Faza segera menunduk dan membuat bibir Zayn menempel di keningnya.


Zayn menjauhkan wajahnya dengan kecewa karena tidak mendapat apa yang ia inginkan.


"Apakah Mas tau kenapa yang harus dicium terlebih dahulu adalah bagian kening istri dan bukan bagian tubuh yang lain?"


Zayn menggeleng dengan wajahnya yang masih di lipat.


"Karena kening seorang istri memiliki keistimewaan yang lebih. Kening merupakan bagian tubuh yang sangat dekat dengan sajadah tempat kita solat yang menunjukkan ketaqwaan kepada Allah SWT.


Serta kening merupakan bagian tubuh yang akan menjadi saksi ketaqwaan seseorang dan mengaku bahwa Allah Maha Tinggi dan diri manusia sangat rendah. Kening juga merupakan bagian tubuh yang paling tinggi, Sehingga di kening seorang istri akan terhembuskan ketenangan yang diinginkan seorang suami." dengan mengukir senyum termanisnya Faza meraih tangan Zayn dan menciumnya.


"Dan di tangan suami terdapat ridho Allah SWT. Dengan mencium tangan suami maka diharapkan ridho Allah selalu menyertainya.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya dalam Islam tidak diwajibkan bagi seorang istri untuk mencium tangan suami. Namun jika hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kasih sayang, Maka sangat dianjurkan.


Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:


لَا يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا


“Tidak boleh manusia bersujud kepada manusia lainnya. Seandainya manusia diperbolehkan bersujud kepada manusia lainnya niscaya Aku akan memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suami pada istri”. (HR Ahmad : 12614 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 7725).


Mendengar hal itu Zayn tersenyum dan kembali mengecup kening istrinya. Kemudian membuatnya berbaring saling berhadapan.


Tidak ada aktivitas lainnya kecuali saling bergenggaman tangan dan tatapan penuh kasih sayang hingga keduanya terlelap tidur di malam pertamanya.


•••


Keesokan harinya, Seluruh keluarga bersiap meninggalkan pesantren dan berangkat ke Jakarta menggunakan Bus mewah yany mana bus ini bisa menampung 38 penumpang. Ada 2 kelas penumpang di dalam bus ini yaitu First Executive Class dan Elegant Class. Setiap kelas memiliki fasilitas yang berbeda-beda dan tidak kalah mewahnya dengan fasilitas di hotel bintang 5.


keluarga Zayn sengaja menyewa Bus itu demi memboyong sang istri dan keluarganya untuk mengadakan resepsi pernikahan di Jakarta yang rencananya akan di gelar berbarengan dengan pernikahan saudara kembarnya yang rencananya akan di langsungkan satu Minggu lagi.


Sementara di Jakarta Adnan yang sudah beristirahat satu hari, Kini kembali melakukan aktivitasnya untuk mengajar Sakinah. Tanpa memberitahu terlebih dahulu malam ini ia akan datang, Adnan langsung mendatangi rumah Sakinah. Ia memarkirkan mobilnya dan langsung di sambut oleh satpam penjaga rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, Sakinah ada?"


"Ada Tadz, Sejak beberapa hari Ustadz tidak datang, Non Sakinah tidak pernah sekalipun keluar rumah."


"Jadi dia menuruti perintah ku?" tanya Adnan dalam hati.


"Silahkan Tadz."


"Oh ya," Adnan melangkah masuk dan di sambut oleh salah satu asisten rumah tangganya.


"Silahkan masuk Pak Ustadz, Biar saya panggilkan Non Sakinah dulu."


Adnan mengangguk dan duduk menunggu Sakinah di ruang tamu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Adnan di kagetkan oleh Sakinah yang memanggilnya.


"Tadz..."


Adnan menoleh ke arah tangga dan begitu terkesima melihat penampilan Sakinah yang berbeda dari biasanya. Dengan balutan gamis polos berwarna beige dengan jilbab senada Sakinah melangkah anggun bagaikan muslimah sejati tanpa meninggalkan kesan tomboy dalam dirinya.


Sakinah menaik turunkan kedua alisnya saat melihat Adnan masih terdiam menatap dirinya.


"Apa Aku begitu cantik sampai Ustadz tidak berkedip menatap ku?"


Adnan yang mendengar pertanyaan itu tersentak dan langsung menurunkan pandangannya.


"Tidak masalah, Aku tidak keberatan jika Ustadz masih ingin memandangku." godanya lagi.


"Sakinah..." tegur Adnan.


"Ya ya ya, Aku hanya bercanda, Bagaimana perasaan Ustadz sekarang?"


"Maksud mu?"


"Perasaan Ustadz setelah melihat mantan tunangan menikah dengan mantan murid Ustadz, Masa perasaan Ustadz pada ku sih, Hehehe."


"Darimana kamu tau?"


"Kan Zayn temenku, Dan dia mengundangku untuk acara resepsinya. dan di situ tertulis Zayn Attallah Faraz Shaikh dan Faza Aishaqila Bin Kiai Hasyim Hasbullah, Jadi bisa ku simpulkan jika masalah Ustadz dan Zayn karena si Faza ini. Faza anak Pak Kiai, Ustadz pernah mengajar di sana dan Zayn mondok di sana, Logika yang cerdas, Benarkan?"


"Sudahlah, Aku kesini bukan untuk membicarakan masalah pribadi ku, Bisa kita mulai pelajarannya?"


"Ya baiklah, Aku juga sudah tidak tahan memakai pakaian seperti ini, Ini benar-benar terasa sangat panas." Sakinah mengibas-ngibaskan gamisnya tanpa merasa segan pada Adnan.


"Panas yang kamu rasakan belum ada satu lubang jarum pun dari panasnya api neraka jika kamu terus memperlihatkan aurat mu."


Sakinah mencebikan bibirnya. "Selalu saja ada jawaban untuk mengingatkan ku betapa mengerikannya neraka jahanam itu." gumam Sakinah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2