
Setelan kesalah fahaman selesai, Kedua keluarga tidak menunda-nunda waktu lagi untuk segera mempersiapkan pernikahan Zayn dan Faza. Mereka sepakat untuk melangsungkan akad di kediaman mempelai Wanita sementara untuk resepsi akan di adakan di Jakarta berbarengan dengan pernikahan Zayd dan Zahia yang juga akan segera di selenggarakan dalam waktu dekat.
Para warga setempat pun mulai bergotong royong pun memasang tarub atau tradisi dekorasi khas pernikahan Jawa, Yang digunakan saat akan melakukan hajat pernikahan sebelum malam midodareni atau siraman untuk calon mempelai.
Kedua kakak laki-laki Faza yaitu Hasan dan Husain yang selama ini menuntut ilmu di Kairo juga telah pulang ke tanah air untuk menyaksikan sang adik menikah.
Faza yang begitu bahagia melihat kedua kakaknya langsung berlari memeluk mereka tanpa mempedulikan pakaiannya yang basah kuyup karena baru menyelesaikan siraman.
"Faza! Baju Mas basah." protes Hasan.
"Biarkan saja Mas, Masa bertahun-tahun tidak bertemu Ade, Basah aja protes." ujar Husain.
"Mas Husain terbaik." puji Faza.
"Dan Ade tercantik," ucap Husain mencubit pipi Faza.
"Ya ya ya, Husain terbaik, Faza tercantik, Biarkan Aku menjadi Kakak kalian yang terjahat.” ujar Hasan mengerucutkan bibirnya.
Husain dan Faza tersenyum merangkul kakak sulungnya tersebut.
"Tentu Mas Hasan adalah Kakak tertampan," ucap Faza.
"Benarkah, Tampan mana sama calon suami mu?"
"Tentu saja lebih tampan calon suami ku," ucap Faza dengan bangganya.
__ADS_1
"Ciiihh, Pengin liat kaya apa tampangnya sampai bisa membuat mu jatuh cinta seperti itu."
Mereka terus berbincang hingga Abah memanggil mereka masuk. Kemudian Faza kembali ikut bergabung dengan seluruh keluarganya setelah Faza membersihkan diri. Mereka melepas rindu dan saling bertukar cerita setelah sekian lama tidak berkumpul bersama.
Sementara di hotel, Seluruh keluarga Zayn juga tengah mempersiapkan segalanya untuk akad yang akan di laksanakan besok.
Zayn yang berada di kamarnya tengah khusuk menghafalkan lafal ijab kabul agar tidak merasa gugup saat melafalkan di depan Pak Kiai.
"Ternyata seorang Zayn bisa gugup juga untuk menghadapi pernikahannya." ejek Zayd yang baru masuk ke kamarnya.
"Diamlah Zayd, Orang yang akan ku hadapi bukan orang sembarangan dan bukan hanya Pak Kiai saja, Pasti Pak Kiai akan mengundang banyak Kiai dari podok lain."
"Ini jauh lebih menegangkan daripada masuk ke kandang singa Zayn, Bagaimana jika kamu tiba-tiba tergagap dan tidak bisa bicara saat hari ijab mu, Apakah kamu rela jika pernikahan mu kembali tertunda?"
"Jangan semakin membuat ku merasa tegang Zayd, Lagi pula sejak kapan kamu menjadi seperti ku?"
"Awas saja kamu Zayd, Saat kamu menikah nanti, Aku akan membalas mu!"
"Coba saja kalau bisa, Karena Aku tidak perlu menghadapi siapapun saat ijab ku nanti, Aku hanya perlu menghadapi Pak Penghulu yang akan menikahkan ku." Zayd kembali tertawa mengejek Zayn.
Dengan kesal Zayn mengambil sendalnya dan melemparkannya pada Zayd yang berlari meninggalkan kamarnya.
•••
Sedangkan Adnan tengah berpamitan kepada Pak Arsyad Sanusi untuk libur mengajar beberapa hari karena ingin menghadiri undangan dari Pak Kiai. Meskipun hati kecilnya tidak ingin melihat Faza bersanding dengan Pria lain. Namun demi ta'dzim nya kepada Pak Kiai ia siap menghadiri undangan tersebut.
__ADS_1
"Ustadz... Ustadz..." pekik Sakinah mengejar Adnan yang akan segera meninggalkan rumahnya.
"Berapa lama Anda tidak mengajarku?"
"Mungkin 3-4 hari, Nanti Aku kabari."
"Jangan lama-lama nanti kalau Aku rindu bagaimana?"
"Sakinah..."
Sakinah hanya cengengesan dengan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Baiklah, Selama Aku tidak datang mengajar, Pelajari kembali apa yang sudah Aku ajarkan. dan jangan kembali keluar malam dengan pakaian yang menyerupai laki-laki, Karena dalam ajaran Islam, tidak boleh seseorang untuk meniru cara berpakaian atau penampilan seperti lawan jenisnya. Seperti sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Allah melaknat para perempuan yang menyerupai laki-laki, dan para lelaki yang menyerupai perempuan.”
Dalam hadits lain disebutkan, “Allah melaknat perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki dan laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan.”
Larangan tersebut tak hanya berkaitan dengan persoalan busana, melainkan juga cara berjalan dan berbicara, Jadi mulailah belajar bicara, Berjalan dan berbusana layaknya perempuan yang sesungguhnya."
Sakinah mengernyitkan keningnya "Memangnya selama ini Aku tak terlihat seperti perempuan."
"Masuklah ke dalam dan tanyakan ini kepada cermin ajaib mu." Adnan menahan senyumnya dan langsung pergi meninggalkan Sakinah.
"Apakah tadi Ustadz Adnan tersenyum?" Sakinah menggigit jari telunjuknya karena merasa melihat Adnan tersenyum.
"Selain tersenyum dia juga bisa bergurau ternyata." Sakinah melompat kegirangan karena untuk pertama kalinya ia melihat Adnan nyaris tersenyum karena gurauannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...