Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Gombalan Tajwid


__ADS_3

Zayn mengangkat dagunya seakan menantang Ustadz Adnan.


Meskipun usia Keduanya terpaut cukup jauh namun dari postur tubuh Zayn lebih tinggi dari Ustadz Adnan.


Zayn membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu pada Ustadz Adnan. Namun belum sempat Zayn mengatakannya, Faza segera menghentikannya.


"Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, keluarlah Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara.” (HR. Bukhari).


Abu Bakar Ash-Shiddiq juga pernah menegaskan agar orang Islam hendaknya selalu bersifat tawadhu kepada guru. Dalam posisi apapun seseorang tidak boleh merasa lebih pintar dibandingkan gurunya." tegas Faza tanpa menatap wajah Zayn.


Zayn menoleh ke Faza dan menurunkan pandangannya.


"Seperti halnya waqaf mu'annaq, Hanya boleh berhenti disalah satunya. Dia, Atau Aku." setelah mengatakan itu pada Faza Zayn meninggalkan Mereka berdua.


Faza menoleh ke belakang melihat punggung Zayn yang pergi meninggalkan kata-kata yang penuh arti hingga kembali membuat hatinya terusik.


"Apa maksud perkataannya?" tanya Ustadz Adnan.


"Entahlah, Kalau begitu Saya masuk duluan." Faza terseyum tipis dan masuk mendahului Ustadz Adnan.


•••


Setelah menemui Pak Kiai, Ustadz Adnan kembali ke rumah dinasnya.


Ia membaringkan tubuhnya dan memikirkan kata-kata Zayn.


Kata-kata Zayn benar-benar telah mengusik hatinya.


Tok...Tok... Tok...


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam.." Ustadz Adnan beranjak untuk membuka pintu.


"Ustadz Azmi."

__ADS_1


"Malem Tadz."


"Tumben malem-malem."


"Ada yang ingin Saya bicarakan Tadz."


"Silahkan Masuk."


Ustadz Azmi mengangguk dan mengikuti Ustadz Adnan duduk.


Rasanya sejak tadi sore sudah tak tahan ingin memberikan informasi tentang Zayn yang merayu Faza di perkebunan.


"Ada apa?" tanya Ustadz Adnan penasaran.


"Begini Tadz, Selama ini kan Semua santri taunya jika Ustadz dan Ning Faza kelak akan menikah, Dan karena hal itu juga Para Ustadz maupun pengurus tidak ada yang berani mendekati Ning Faza, Tapi tadi sore salah satu santri berrani gombalin Ning Faza."


"Gombalin gimana maksudnya?"


"Masa Dia berani bilang mau halalin Ning Faza tanpa basa-basi."


Ustadz Andan terhenyak dan memikirkan kata-kata Zayn.


"Apa itu karena Zayn melihat Dek Faza?" batin Ustadz Adnan.


"Ustadz... Kenapa terdiam?"


"A-e... Apa Dia Zayn?"


"Darimana Ustadz tau?"


"Tidak, Bukankah hanya Dia santri yang terkenal pemberani?" tanya Ustadz Adnan terseyum getir.


"Ya, Ustadz benar." Ustadz Azmi terdiam sejenak dan kembali menyelidiki perasaan Ustadz Adnan.


"E-e... Terus gimana tanggapan Ustadz? Bagaimana kalau Dia benar-benar nekat?"

__ADS_1


"Biar Allah yang menentukan siapa yang berjodoh dengan Dek Faza."


Ustadz Andan mencoba menyembunyikan perasaannya meskipun hatinya mulai merasa khawatir jika Zayn akan merebut hati Faza dengan segala pesonanya.


•••


Pagi-pagi sekali Faza berpamitan pada Abi dan Ummi untuk kembali melanjutkan studinya karena masa liburannya sudah berakhir.


Tidak ketinggalan Ustadz Adnan yang juga berdiri menyaksikan kepergian Faza di samping Abi dan Ummi.


Dari kejauhan Zayn yang tengah berolah raga di pelataran pesantren melihat Faza yang naik ke mobil, Tanpa berfikir lagi Zayn berlari mengejar mobil Faza yang akan keluar dari gerbang pesantren.


Sedangkan di sebrang jalan, Carissa yang baru keluar dari mini market terkejut melihat bagaimana Zayn berlari dan menggedor-gedor kaca mobil hingga Faza membukanya.


"Mas Zayn." ucap Faza gugup.


Zayn masih memegangi kedua lututnya dan mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Ning Faza mau kembali ke kuliah?"


"Ya," jawab Faza singkat.


"Baiklah, Hati-hati."


Faza mengernyitkan keningnya "Hanya untuk mengatakan itu Zayn sampai berlarian?" batin Faza


Faza terseyum tipis dan mengangguk pelan sembari menutup kaca mobilnya. Namun Zayn kembali menghentikannya hingga tangannya nyaris terjepit.


"Mas Zayn." Faza kembali membuka kaca mobilnya dan di tanggapi oleh senyum Zayn yang kedua tangannya masih memegang kaca mobilnya.


Faza menatap Zayn dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Satu hal yang harus Ning Faza ingat, Jika Mim Mati bertemu Ba disebut Ikhfa Syafawi, Maka jika Zayn bertemu Faza disebut cinta." dengan senyum khas menggodanya Zayn langsung meninggalkan Faza.


Faza memejamkan mata dan mengeratkan giginya sembari mengepalkan tangan kanannya dengan gemas. Ia tidak bisa memungkiri jika gombalan tajwid yang Zayn ucapkan selalu berhasil mengaduk-aduk hati dan pikirannya.

__ADS_1


Bersambung...


📌 Yang ingin lebih banyak di gombalin Zayn dengan gombalan tajwid dan Syari'ahnya dukung novel ini biar makin melejit, Syukur-syukur ada yang mau bantuin promo di FB ☺️❤️


__ADS_2