Bersaing Cinta Dengan Ustadz

Bersaing Cinta Dengan Ustadz
Uhibuk Fi Salati


__ADS_3

Sepanjang perjalanan yang menanjak, Kanan kiri tangga di penuhi ratusan pedagang yang menjual berbagai makanan khas warga sekitar dan juga aneka suvenir. Tapi tidak ada satupun yang menarik hati Zayn yang terus melangkah membayangkan Ning Faza sudah menunggunya di atas. Ketika langkahnya lurus ke depan Zayn menabrak seorang wanita hingga wanita tersebut nyaris tersungkur. Namun dengan sigap Zayn langsung memegang kedua lengannya hingga Wanita itu terkejut dan menoleh ke belakang.


"Mas Zayn."


"Ning Faza." seperti tak percaya Zayn melihat ke atas dan kembali menatap Ning Faza.


"Kamu tidak papa Ning?" tanya Mbak Anna khawatir.


Faza langsung tersentak dan menyingkirkan tangan Zayn yang masih berada di lengannya.


"Zayn! Kamu benar-benar ngelamun ya?" tanya Bimo yang menepuknya dari belakang.


"A-e... Maafkan Aku Ning, Aku tidak sengaja." Zayn mengusap wajahnya dengan kasar.


Faza hanya menatap Zayn sekilas dan kembali melangkah.


"Zayn kamu baik-baik saja?" tanya Bimo yang melihat Zayn tidak seperti biasanya.


"Entahlah, Pandangan ku terasa gelap, Perasaan ku juga tidak enak."


"Mungkin kamu kelelahan, Minumlah ini." Bimo memberikan botol minuman Ion tubuh dari tasnya.


Zayn mengambilnya dan menenggak habis minuman tersebut.


"Sekarang sudah lebih baik?"


"Ya Ayolah."


"Jika tau begini seharusnya kamu naik ojek aja Zayn."


"Memang ada Ojek?"


"Adalah, Pak Kiai, Bu nyai juga Naik ojek, Kamu sih yang di lihat Ning Faza mulu."


"Eh ngomong-ngomong tadi Aku memegang dua lengannya loh dan badan kita begitu sangat dekat dan coba cium ini, Aroma tubuhnya menempel di pakaian ku." Zayn menciumi tangan dan pakaiannya sendiri.


"Hu, Dasar otak mes'um, Kirain tadi dah mau innalilahi."


"Sialan!"


Zayn dan Bimo terus saling mengejek sampai menuju puncak Makam.



Sampai di sana Zayn dan Bimo mencari rombongannya.


Kemudian mereka duduk paling belakang karena tempatnya sudah tidak muat lagi. Pak Kiai juga sudah membaca Do'a terakhir yang di iringi kata "Aamiin" dari semua jamaahnya.


"Gara-gara kamu kita jadi terlambat." bisik Bimo.

__ADS_1


"Kok Aku, Kan kamu yang ngibul, Coba bilang kalau ada Ojek."


"Tapi kalau kamu naik Ojek gak dapat baunya Ning Faza xixixixi." saut Bimo terkekeh geli.


"Dasar somplak."


"Hsssttt! Ngobrol terus." tegur jamaah lain yang berada di dekat mereka.


Zayn dan Bimo menutup mulutnya dan kembali mengamini Do'a yang sudah selesai di bacakan oleh Pak Kiai.


"Udah selesai!" ucap salah satu santri yang duduk di depannya.


"Gara-gara jalan sama kamu semua panca indera ku gak ada yang berfungsi dengan benar." ucap Zayn yang beranjak dari duduknya.


Bimo hanya tertawa mengikuti Zayn yang meninggalkan Makam lalu mengikuti rombongan menuju air gentong.


Usai keluar dari Makam Sunan Muria. Para peziarah mengantre di depan gentong yang berisi air segar.


Gentong yang telah berusia ratusan tahun itu dipercaya merupakan gentong peninggalan Sunan Muria semasa masih hidup. Sedangkan air yang di dalamnya berasal dari mata air Gunung Muria dan dialirkan melalui selang, langsung ke dalam gentong.


Banyak yang meyakini air dari gentong tersebut punya banyak khasiat. Penjaga gentong mengatakan banyak cerita dari peziarah, yang sembuh dari berbagai penyakit usai meminum air tersebut,


Menurutnya hal itu tergantung dari keyakinan masing-masing peziarah.


"Tapi harus diingat, semuanya berasal dari Allah SWT, Air ini hanya sarana," ucap pria penjaga gentong itu.


"Eum... Ini memang sangat menyegarkan," ucap Zayn setelah menenggak air gentong tersebut.


"Hsssttt! jaga adab ketika di Makam." tegur Ustadz Adnan yang sudah mengantri di belakangnya.


"Nggih Tadz," saut Bimo yang kemudian melangkah sedikit membungkuk untuk mempersilahkan Ustadz Adnan.


"Duluan Tadz," ucap Zayn yang melirik dengan tatapan yang penuh arti.


Mereka mulai menuruni anak tangga dan melihat-lihat kesana kemari mencari Ning Faza "Lumayan kalau bisa bareng lagi, Mumpung langit sudah semakin gelap dan peziarah juga begitu ramai, Pasti kalau curi-curi kesempatan tidak akan ada yang memperhatikan." batin Zayn kembali menunjukkan kenakalannya. Dan benar saja, Matanya yang tajam seperti elang menangkap sasarannya.


Tanpa memperdulikan Bimo, Zayn langsung berlari ke bawah menghampiri Ning Faza yang tengah melihat-lihat Suvenir.


"Ning Faza."


"M-m... Mas Zayn." Faza menjadi gugup melihat Zayn yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Mbak Anna bisa tinggalkan kami?" tanya Zayn.


"Tidak!" dengan cepat Faza memegang tangan Mbak Anna.


"Apa Ning Faza takut padaku?"


Faza menggeleng dengan ragu.

__ADS_1


"Tidak percaya padaku?"


"Tidak, A-e maksudku percaya." ucapnya gugup


Zayn terseyum penuh pesona melihat kegugupan Faza.


"Kalau begitu bisa beri Aku kesempatan untuk bicara?"


Faza dan Mbak Anna saling memandang satu sama lain.


"Baiklah tidak masalah, Biar Aku katakan di depannya."


"E.. Tidak, Aku akan menunggu di bawah," ucap Mbak Anna.


Faza salah tingkah, Tangannya ingin menghentikan Mbak Anna. Namun tatapan Zayn yang semakin tajam membuatnya tidak karuan.


"Ketika Aku pertama melihat mu, Hatiku tak mampu memaknai rasa, seakan berjumpa dengan ayat الٓم،الر،طه،يٓس، dan seterusnya, Meskipun singkat namun maknanya terungkap"


"Bisa kita jalan sekarang, Kita akan ketinggalan rombongan,"


"Apakah mungkin putri dari Pak Kiai di tinggal begitu saja?"


Faza terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Ning, Kamu tau betul Aku begitu mencintai mu dan Aku tidak melakukan apapun karena dalam ajaran Islam, Larangan menikahi pasangan orang lain itu diatur dalam hadis Nabi saw. Yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim :


الْمُؤْمِنُ الْمُؤْمِنِ، لَا لُّ لِلْمُؤْمِنِ اعَ لَى لَا لَى


“Seorang Mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain, Maka tak halal bagi seorang mukmin membeli barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang tunangan saudaranya, kecuali pertunangan tersebut telah putus.” Zayn menjeda ucapanya.


"Ning Faza faham kan maksudnya?"


Faza hanya diam, Tak tau harus menjawab Apa.


"Jika Ning Faza memiliki perasaan yang sama, Lakukan sesuatu, Karena jika Ning Faza terpaksa menikah dengan jodoh yang dipilihkan oleh Abi, Tetapi hati Ning Faza masih tidak bisa ikhlas ataupun tidak rela maka pernikahan hanya akan menjadi ajang menzhalimi."


Faza mengangkat kepalanya menatap Zayn.


"Jika Ning Faza berani mengatakan yang sebenarnya pada Abi, Maka Aku yang akan menyelesaikan semua kekhawatiran di hatimu."


Mendengar hal itu seketika hati Ning Faza merasa begitu senang.


أحبك في صلاتي


"Aku mencintaimu dalam doaku"


Setelah mengucapkan rayuan mautnya, Zayn tesenyum penuh pesona dan mempersilahkan Ning Faza melangkah di depannya.


Kedua tangan Ning Faza menggenggam gamis panjangnya menahan perasaannya yang begitu berbunga.

__ADS_1


Kemudian melangkah mendahului Zayn dengan menunduk malu-malu.


Bersambung...


__ADS_2